Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

PAKAIAN NABI BUKAN BUDAYA ARAB



Segala kebiasaan yang diturunkan kepada Nabi SAW, dari hal pakaian gamis, sorban sampai Jenggot, adalah wahyu yang diturunkan Allah SAW kepada Nabi yang di sunnahkan untuk umat Islam di seluruh penjuru dunia. Ini sunnah Nabi, bukan budaya arab.



Di Arab ada dua jenis pakaian, namanya Kurtah dan Gamisz. Gamis adalah murni pakaian diciptakan Nabi, sehelai kain panjang lurus, untuk menyederhanakan cara berpakaian agar tidak berlebihan.

Fakta Sejarah Abu Hakam (nama asli Abu Jahal) tidak pernah berpenampilan dan berpakaian Mirip Nabi Muhammad SAW, karena dia sangat membenci Nabi Muhammad, ajaranya, pengikutnya dan segala atribut penampilan visual pengikut Nabi.

Seumur hidupnya Abu Jahal tak pernah membiarkan Jenggot tumbuh di dagunya, ataupun memakai gamis putih sederhana yang biasa dikenakan Nabi.

Abu Jahal lebih suka berpenampilan layaknya Kisra Persia dengan kumis melintang dengan jubah dari kulit binatang, baju yang berwarna-warni dan tak pernah memakai sarung. Kurang lebih seperti ilustrasi gambar ini, pakaian orang Arab di abad 6 Masehi sampai pertengahan yang disepakati sejarawan.

Nabi mengajarkan untuk memakai Gamis panjang satu kain pada pengikutnya untuk kesederhanaan, kesetaraan dan mencegah kecemburuan sosial.

Jadi?, Gamis putih panjang adalah murni hasil karya desainer Rasulullah SAW. Bukan mengikuti Budaya Arab, apalagi menyamakan pakaian Nabi SAW dengan pakaian Abu Jahal Laknatullah, ini kan KEBANGETAN BANGET....!!!

Padahal Nabi sendiri sangat membenci bila dirinya disamakan dengan Abu Jahal begitu pula Abu Jahal, bahkan ketika Utsman bin Affan meniru gaya duduk Abu Jahal, beliau menegur dan menyuruhnya untuk beristigfar.

Selama hidupnya Abu Jahal tidak memelihara jenggot tapi hanya kumis saja, karena tahu Nabi memerintahkan umatnya untuk memanjangkan jenggot, Abu Jahal tidak pernah sudi menyerupai umat nabi walau seujung helai rambut pun. Karena bila menyerupai umat Nabi berarti menerima ajaran Muhammad.

Namun jika anda tidak mau memanjangkan jenggot atau memakai gamis, tolong jangan menyamakan Nabi dengan Abu Jahal dalam hal berpakaian maupun soal jenggot.

Karena Abu Jahal sangat membenci jenggot dan tidak pernah memakai gamis yang menurutnya mirip pakaian perempuan dan menyebabkan yang memakaianya malas berperang.

Masalah Sorban pun ada perbedaannya antara Sorban Nabi dengan Sorban kaum Musyrikin.

Dalam hadits riwayat Imam Abu Daud mengatakan "Perbedaan Sorban kita (orang Islam) dan orang-orang musyrikin adalah memakai kopyah".

Kenapa pakai Kopyah?
karena orang islam memakai sorban juga pakai sembayang, maka kalau tidak pakai kopyah, bila ruku' atau sujud, kopyahnya akan mudah lepas. Sedangkan orang musyrikin tidak memakai kopyah karena tidak memerlukan ruku' dan sujud.

Kesimpulannya; Jika umat Islam memakai Gamis dan juga Sorban itu didasari bukan karena mengikuti budaya Arab, tapi mengikuti penampilan Nabi Muhammad SAW, ini adalah ajaran Agama, ini adalah ajaran Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, di sunnahkan untuk umatnya di seluruh penjuru dunia. BUKAN BUDAYA ARAB...!!!
https://web.facebook.com/photo.php?fbid=241718249561838&set=a.156896534710677.1073741828.100011709959184&type=3&theater

Dari Mana Mengenal Allah….

Didalam tausiahnya pada acara khaul Imamain Al Ustadzul Imam Al Habr Al Quthub Al Habib AbdulQadir bin Ahmad Bilfaqih Al Alawy ra Ke 55 dan Al Ustadzul Imam Al Quthub Al Hafidz Al Musnid Al Habib Abdullah Bin AbdulQadir Bilfaqih Al Alawy ra ke 25 ,Di Ponpes Darrul Hadits Malang tadi pagi 03 April 2016, beliau Al Habib Taufiq bin AbdulQadir Assegaf dari Pasuruan Jawa Timur menyampaikan sebuah kisah.


Pernah suatu ketika Al Habib Ahmad bin Hasan Al Athost berkunjung ke satu daerah yang disana kebanyakan penghuninya anti ziarah kubur, tawassul, mendoakan orang mati ,dll.

Kebetulan beliau hadir pada saat sholat jum’at, ketika khotib melihat kehadiran seseorang yang gerak geriknya menunjukkan keluhuran, lalu khotib meminta beliau untuk menjadi imam sholat jum’at.

Ketika beliau menjadi imam, bacaan Qur’annya begitu menyihir jamaah hingga jamaah pun tidak puas apabila beliau hanya menjadi imam namun beliau setelah sholat diminta lagi untuk memberikan nasehat.

Sebelum memberikan nasehat, beliau mengatakan ; “saya ingin bertanya tapi anda jangan marah…”.
Mereka menjawab “silahkan, kami tidak akan marah…”
Beliau kemudian bertanya ; “Siapa Tuhanmu ?”
Suasanapun menjadi ricuh karena pertanyaan beliau. Namun mereka akhirnya menjawab ; “Tuhan kami Allah.”
Kemudian beliau bertanya lagi ; “Siapa Nabimu?”
Mereka menjawab ; “Nabi kami adalah Nabi Muhammad.”

Kemudian beliau melanjutkan lagi ; ” Kalau begitu darimana kamu mengenal Allah dan Nabi Muhammad ?”
Mereka lalu bingung. Al Habib Ahmad akhirnya menjawab ; “Kalian mengenal Allah dan Nabi Muhammad bukan lewat wahyu, akan tetapi lewat guru. Apa salahnya kalau kita berziarah ke makam guru kita, mendoakannya dan menyebut namanya.”

Mereka hanya terdiam tanpa bisa menjawab.
*Carilah guru yang sanadnya bersambung hingga kepada orang orang sholeh yang mempunyai kedekatan di hadapan Allah,seperti shohibul khaul yang nasab serta sanadnya bersambung hingga Rasulullah SAW,Malaikat Jibril AS dan Allah SWT
Semoga kisah singkat ini bisa mengembalikan hatinya kaum muslimin untuk mengikuti ajaran kaum sholihin.
Amiin Yaa Robbal ‘Alamin…..

DIALOG GUS DUR DAN SANTRI



Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."

Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"

Gus Dur : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."

Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"

Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"

Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri : "Ooh…"

Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"

Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?"

Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."

Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"

Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."

Mitos Masyarakat Antara Kufur dan Tidak!


Di tengah derasnya perkembangan zaman yang semakin pesat, mitos dan khurafat masih tetap mengakar kuat dalam tubuh masyarakat, utamanya mereka yang hidup di pedesaan. Masih ada beberapa mitos dan khurafat yang masih dipercaya. Takhayul dan mitos merupakan kepercayaan yang berada di luar batas akal manusia atau bisa dikatakan kepercayaan yang hanya ada dalam khayalan dan rekaan belaka, tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Versi takhayul misalnya, adalah anggapan atau keyakinan kalau melakukan ini hari ini maka akan akan begini, kalau melakukan itu hari itu maka akan tertimpa begitu.

Dahulu kala, masyarakat sangat kental dengan hal-hal yang  berbau takhayul semacam ini. Banyak mitos (takhayul) yang dipercaya. Misalnya mitos hari baik. Untuk melakukan sesuatu yang sangat penting, sebagian masyarakat masih mencari jam, hari, tanggal dan bulan yang baik. Mitos hari baik ini tertuang dalam buku perimbon, sebuah buku yang berisikan sistem bilangan pelik untuk
menghitung hari mujur untuk mengadakan selamatan, mendirikan rumah, memulai perjalanan dan mengurus segala macam kegiatan penting, baik bagi perorangan maupun masyarakat. Selain mitos hari baik, masih banyak lagi-lagi mitos yang berkembang.

 Di antaranya adalah mitos kehamilan; wanita hamil memiliki beberapa pantangan, kalau pantangan itu dilakukan akan mempengaruhi terhadap keselamataan cabang bayi yang dikandungnya. Mitos menyapu pada malam hari yang katanya akan menyebabkan fakir miskin. Dan masih banyak lagi mitos-mitos unik yang tetap mengakar kuat di masyrakat sampai sekarang. Entah siapa dan dari mana mitos ini ? Tidak bisa diketahui secara pasti. Namun, yang pasti mitos telah ada sejak dulu dan menjadi keyakinan koliktif masyarakat secara turun-temurun.


Sepintas, takhayul yang berkembang di masyarakat bisa berdampak negative terhadap akidah Islam.  Ketika mitos telah menjelma sebagai akidah yang diyakini, maka dapat menjeremuskan seseorang pada kesyirikan; menggantungkan kesuksesan dan kegagalan sesuatu kepada selain Allah. Dalam al-Qur`an dan Hadis menggantungkan adanya seuatu kepada selain Allah disebut dengan istilah Tathayyur. Istilah ini muncul dari kebiasaan masyarakat Arab Jahilyah. Ketika mereka hendak bepergian, mereka menangkap burung, lalu dilepas terbang (tathayyur).

Kalau terbang ke arah kiri -menurut mitos mereka- akan ada hal buruk yang akan menimpa hingga mereka urung bepergian.
Islam datang dengan membawa konsep tauhid, suatu keyakinan bahwa hanya ada satu Tuhan dan hanya Dia lah satu-satunya Dzat Yang Menciptakan dan Mengatur segala sesuatu yang terjadi. Bukan yang lain. Setelah Nabi Muhammad resmi diangkat menjadi rasul, dengan tegas beliau menolak  praktik tathayyur yang terjadi di masyarakat Arab Jahiliyah tempo dulu. Nabi bersabda : “Bukan golongan kita orang  yamg masih menggantungkan sesuatu kepada selain Allah I (Tathayyur) (HR Bazzar). Al-Qur`an juga menolak tegas. Dalam al-Qur`an dikisahkan kebiasaan masyarakat Mesir kuno yang sering menjadikan Nabi Musa sebagai ’kambing hitam’ atas kesialan yang menimpa mereka. ”Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS Al-A’raf [04]:131).
Orang-orang Arab Jahiliyah tak jauh berdeda; “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”.”(QS Yasin [36]:19).
Intinya, hanya Allah yang dapat mewujudkan segala sesuatu. Ma lam yasya’ lam yakun. Itu adalah keyakinan paten yang tidak dapaat ditawar. Oang Islam dituntut untuk memilki keyakinan itu. Tetapi keyakinan ini sebenarnya tidak menghalangi seseorang untuk berusaha mencari sebab untuk mencapai segala tujuannya dengan tetap meyakini bahwa itu hanya sebagai sebab dan Allah lah yang menjadi musabbibul Asbabnya .


Kiai Nawawi Abd Jalil, pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri dalam rubrik Sowan di Buletin SIDOGIRI edisi 25, pernah ditanya mengenai mitos hari baik dan nahas yang terjadi di masyarakat . Beliau menjawab, bahwa sesuai keterangan yang ada dalam kitab Talkhîsul Murâd, jika ada yag bertanya apakah hari ini baik untuk melangsungkan akad nikah atau pindah rumah maka jawaban itu tak perlu dijawab. Sebab Syari’at mencegah keyakinan seperti itu dengan larangan yang cukup tegas. Namun Ibnul Fakrah menyatakan komentar Imam Syafi’i, jika ada seorang peramal mengakatan seperti itu namun ia tetap beri’tikad bahwa sesungguhnya segala sesuatu terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah, hanya saja Allah memberlakukan adat, bahwasanya seperti itu akan terjadi jika melakukan seperti ini, maka kepercayaan ini sama sekali tidak bermasalah atau tidak haram.


Dengan begitu,  intinya semua tergantung pada keyakinan. Mitos hari baik misalnya, bisa saja menyebabkan syirik bila ada keyakinan bahwa hari baik itu yang mempengaruhi secara total. Jika tidak seperti itu maka tidak ada masalah. Bahkan dianjurkan, apabila mencari hari baik karena menaruh harapan; usaha yang ia lakukan pada hari itu sebaik harinya, dengan tetap meyakini bahwa semua yang terjadi berjalan atas kehendak Allah. Nabi sendiri sering bertafâul. Pada saat khutbah salat istisqa’  Nabi membolak-balikkan selendang yang beliau pakai sebagai bentuk pengharapan, supaya dengan membolak-balikkan sorban musibah yang menimpa kaum muslimini saat itu juga berbalik menjadi baik.

Dalam pandangan ulama fikih, tafa’ul menjadi suatu kausa hukum kesunnatan. Anak yang baru lahir dianjurkan diberi nama yang baik dan indah sebagai bentuk tafa’ul,  supaya kelak ia tumbuh menjadi orang baik. Hewan aqiqahnya pun sunnat dimasak dengan bumbu yang manis-manis dengan harapan (tafa’ul) ketika dewasa ia berperangai semanis namanya. Begitu pula kesunatan  menyirami kuburan dengan air dingin, karena ada tafa’ul agar mayyit merasakan dingin dalam peristirahatan terakhirnya. (HR Thabrani)

Dilihat secara peraktiknya, Tafâ’ul juga bisa dibilang mitos. Peraktik tafa’ul dan tathayyur tak jauh berbeda. Keduanya tak bisa dijangkau akal. Perbedaan antara keduanya hanya terletak keyakinan pelakunya. Memberi nama baik kepada anak karena meyakini bahwa, nama baik itu yang menjadikan sebagai orang baik jelas syirik. Tetapi apabila hal itu hanya sekadar menaruh harapan baik agar dengan nama baik itu seorang menjadi orang baik dengan seizin Allah I maka hal itu dianjurakan. Begitu pula dengan mencari hari baik dan semacamnya. Semua tergantung pada niat pelakunya; sebagai bentuk tafâ’ul atau tathayyur. Wallahu a’lam


dikutip dari media sidogiri.net

Bagaimana Cara Mengenal Allah SWT?

Insya Allah mulai hari ini kami akan menyajikan secara berseri kajian kitab karya al-’Allamah al-’arif billah al-Habib Zainal Abidin bin Smith al-Alawi al-Husaini yang berjudul al-Ajwibah al-Ghaliyyah fi Aqidah al-Firqah al-Najiyah. Kitab ini adalah sebuah risalah tentang aqidah kaum Muslimin yang benar dan dibenarkan menurut dalil al-Qur’an, as-Sunnah, dan Ijma’ Shahabat. Ia berisi tentang keyakinan-keyakinan golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah yang terpenting, ajaran-ajaran yang harus diketahui oleh para santri dan pelajar ilmu agama yang dapat mendorong mereka menuju jalan yang lurus, dan menyelamatkan mereka dari berbagai jalan yang dilewati oleh orang-orang yang menyimpang dari ajaran agama, orang-orang yang sesat dan menyesatkan.
Kajian pertama dimulai dari Bab Pertama dengan bahasan Mengenal Allah SWT.
س: ما هو أوَّلُ واجبٍ على الإنسان ؟
ج: أوَّل ما يجب على المكلف معرفة الله الذي أوجده من العدم إلى الوجود، فإنَّه لم يخلق إلاّ للعبادة، وهي تستلزم أوّلاً معرفة المعبود أيْ: معرفة ذاته وصفاته وأفعاله على الوجه المحمود، قال تعالى: { وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) } .
Pertanyaan: Kewajiban apa yang pertama kali bagi setiap orang?
Jawaban: Kewajiban Yang Pertama Kali Bagi Setiap Orang Mukallaf Adalah Mengenal Allah, yang menciptakannya dari tidak ada menjadi ada. Ia diciptakan oleh-Nya semata-mata untuk beribadah. Mengenal pada mulana memerlukan untuk mengetahui yang disembah, yakni mengetahui Dzat, sifat dan perbuatan-Nya, menurut cara yang terpuji. Allah swt. berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

... س: ما هو طريق العلم به سبحانه وتعالى ؟
ج: طريق العلم به سبحانه وتعالى من وجهين، أحدهما: من جهة السمع والنقل وذلك بالإصغاء إلى ما أخبر به تعالى عن نفسه في كتبه وعلى ألسنة رسله من أسمائه الحسنى وصفاته الأسنى، قال الله جلَّ ثناؤه: { هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(24) }
وفي الحديث: (( إنَّ لله تسعة وتسعين اسما، من أحصاها دخل الجنة: هو الله الذي لا إله إلاّ هو الرحمن الرحيم الملك القدوس السلام المؤمن المهيمن العزيز الجبار المتكبر الخالق البارئ المصور الغفار القهار الوهاب الفتاح العليم القابض الباسط الخافض الرافع المعز المذل السميع البصير الحكم العدل اللطيف الخبير الحليم العظيم الغفور الشكور العلي الكبير الحفيظ المغيث الحسيب الجليل الكريم الرقيب المجيب الواسع الحكيم الودود المجيد الباعث الشهيد الحق الوكيل القوي المتين الولي الحميد المحصي المبدئ المعيد المحيي المميت الحي القيوم الواجد الماجد الواحد الصمد القادر المقتدر المقدم المؤخر الباطن الوالي المتعال البر التواب المنتقم العفو الرؤوف مالك الملك ذو الجلال والإكرام المقسط الجامع الغني المغني المانع الضار النافع النور الهادي البديع الباقي الوارث الرشيد الصبور )). رواه الترمذي وغيره.
الثاني: من جهة النظر العقلي وذلك بالتدبر في المخلوقات والاعتبار في المصنوعات فيستدل بذلك على موجدها ومبدعها وخالقها ألا وهو الله الذي لا إله إلاّ هو الرحمن الرحيم، قال تعالى: { إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ
(1/4)
وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164) } .
Pertanyaan: Bagaimana cara mengenal Allah swt?
Jawaban: Cara mengenal Allah itu ada dua, yaitu:
Pertama, dengan cara mendengar dan mengutip, artinya mendengar apa yang telah diberitakan oleh Allah swt. tentang nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang sempurna di dalam kitab-kitab suci-Nya dan melalui lisan-lisan para Rasul-Nya. Dia berfirman:
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
“Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Hassyr: 22-24).
      Di dalam hadits disebutkan:
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 Asma; barangsiapa menghafal semuanya akan dimasukkan ke dalam surga.
            1. Allah (Tuhan), 2. ar-Rahman (Pengasih), 3. ar-Rahim (Penyayang), 4. al-Malik (Merajai), 5. al-Quddus (Suci), 6. as-Salam (Sejahtera), 7. al-Mu’min (Pemberi keamanan), 8. al-Muhaimin (Yang Menyatakan dirinya Esa), 9. al-‘Aziz (Gagah tak terkalahkan), 10. al-Jabbar (Kuat dan Gagah),
11. al-Mutakabbir (Besar, Gagah), 12. al-Khaliq (Pencipta makhluk), 13. al-Bari (Pembikin makhluk), 14. al-Mushowwir (Pembentuk makhluk), 15. al-Ghaffar (Pengampun dosa), 16. al-Qahhar (Gagah perkasa), 17. al-Wahhab (Pemberi), 18. ar-Razzaq (Pemberi rizqi), 19. al-Fattah (Pembuka pintu Rahmat), 20. al-‘Alim (Maha Tahu segalana),
21. al-Qabidh (Penahan), 22. al-Basith (Pemberi rizqi dengan mudah), 23. al-Hafidz (Yang Menurunkan), 24. ar-Rafi’  (Yang Menurunkan), 25. al-Mu’izz (Yang memberi kemuliaan), 26. al-Mudzil (Yang memberi kehinaan), 27. al-Sami’ (Yang Mendengar), 28. al-Bashir (Yang Melihat), 29. al-Hakam (Maha Bijaksana), 30. al-‘Adl (Maha Adil),
31. al-Lathif (Halus), 32. al-Khabir (Yang Mengetahui yang tersembunyi), 33. al-Halim (Penyantun), 34. al-‘Adzim (Besar), 35. al-Ghafur (Pengampun), 36. as-Syakur (Pemberi Upah), 37. al-‘Ali (Tinggi), 38. al-Kabir (Besar), 39. al-Hafidz (Pemelihara), 40. al-Muqith (Pemberi Makan),
41. al-Hasib (Pemberi makanan), 42. al-Jalil (Penghitung), 43. al-Karim (Yang Mulia), 44. al-Raqiib (Yang Mengamati), 45. al-Mujib (Yang memperkenankan do’a), 46. al-Wasi’ (Yang Lusa Ilmu-Nya), 47. al-Hakim (Yang Pintar), 48. al-Wadud (Penyayang), 49. al-Majid (Yang Paling Mulia), 50. al-Ba-‘its (Yang membangkitkan),
51. al-Syahid (Yang menghadiri seluruhnya), 52. al-Haqqu (Yang tetap ada), 53. al-Wakil (Yang mengurus pekerjaan hamba-Nya), 54. al-Qawi (Kuat), 55. al-Matin (Kukuh-kuat), 56. al-Wali (Yang menjaga makhluk), 57. al-Hamid (Yang dipuja), 58. al-Muhshi (Yang Menghitung), 59. al-Mubdi’ (Yang menciptakan), 60. al-Mu’id (Yang menghidupkan kembali),
61. al-Muhyi (Yang menghidupkan), 62. al-Mumit (Yang mematikan), 63. al-Hayyu (Yang hidup), 64. al-Qayyum (Yang tegak), 65. al-Wajib (Yang memberi sesuatu), 66. al-Majid (Yang besar keadaannya), 67. al-Wahid (Tunggal), 68. as-Shomad (Yang dituju), 69. al-Qadir (Yang Kuasa), 70. al-Muqtadir (Yang Kuasa),
71. al-Muqaddim (Yang mendahulukan), 72. al-Mu-akhhir (Yang mengemudiankan), 73. al-Awwal (Yang Qodim tak berpermulaan), 74. al-Akhir (Yang Baqa selama-lamanya), 75. al-Zhahir (Yang memperlihatkan wujudnya dengan tanda-tandanya), 76. al-Bathin (Yang tersembunyi Dzat-Nya), 77. al-Wali (yang mengurusi seluruhnya), 78. al-Muta’ali (yang bersih dari sekalian sifat kekurangan), 79. al-Barru (yang banyak kebaikan-Nya), 80. at-Tawwab (Penerima taubat),
81. al-Muntaqim (Yang menghukum sipapun yang patut dihukum), 82. al-‘Afuwwu (Yang memberi maaf siapa yang patut dimaafkan), 83. al-Ra-uf (besar kasih sayang-Nya), 84. al-Malikul Mulki (Raja sekalian raja), 85. Dzul Jalali wa al-Ikram (Mempunyai kebesaran dan kemuliaan), 86. al-Muqsith (Yang memperhatikan orang teraniaya), 87. al-Jami’ (Penghimpun makhluk di hari kiamat), 88. al-Ghaniy (Yang kaya raya), 89. al-Mughniy (yang mengayakan), 90. al-Mani’ (Yang melarang),
91. ad-Dharr (Yang memberi madlorot), 92. an-Nafi’ (Banyak memberi manfaat), 93. an-Nur (Pemberi cahaya), 94. al-Hadi (Pemberi petunjuk), 95. al-Badi’ (Yang mengadakan sesuatu), 96. al-Baqi (Yang kekal selama-lamanya), 97. al-Warits (Yang kekal sesudah semuanya habis), 98. al-Rasyid (Yang cerdik cendekia), 99. as-Shabur (Penyantun, tak terburu-buru).
Kedua, dengan akal, maksudnya menfungsikan akal fikiran untuk merenungkan tentang alam raya (makhluk) ini dan mengambil pelajran dari semua kejadian, kemudian menjadikan semua itu sebagai dalil atau bukti Yang Maha Menciptakannya, yang tiada lain adalah Allah, tiada Tuhan kecuali Dia Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.
Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. al-Baqarah: 164). [Sarkub.Com]

Paus Benedictus: Natal Bukan 25 Desember

Kontroversi NATAL memang tidak pernah surut dibahas tiap tahun apalagi menjelang peringatannya 25 Desember. Berbagai tulisan mengupas tentang asal-asul peringatan ini berulang-ulang dimuat kembali untuk membentengi umat Islam agar tidak terseret dalam peringatan ini. Tapi bukannya peringatan ini menjadi surut, tapi tiap tahun peringatan ini justru makin meriah walau coreng dibalik peringatan ‘suci’ kelahiran tuhan ini terkuak.
Buku Paus mengupas kebohongan Natal
Kejadian yang cukup menghebohkan dunia Kristen baru saja terjadi adalah pengungkapan jujur dari tokoh besar Kristen yakni Paus Benedictus XVI. Ia menulis sebuah buku, ‘Jesus of Nazareth: The Infancy Narrative’ yang diluncurkan 21/11/2012. Ia membongkar beberapa fakta yang mengejutkan seputar kelahiran Yesus Kristus. Antara lain menurutnya,
-          Kalender Kristen salah. Perhitungan tentang kelahiran Yesus yang selama ini diyakini adalah keliru. Kemungkinan, Yesus dilahirkan antara tahun 6 SM dan 4 SM.
-          Materi-materi yang muncul dalam tradisi perayaan Natal, seperti rusa, keledai dan binatang-binatang lainnya dalam kisah kelahiran Yesus, menurutnya sebenarnya tidak ada. Alias hanya mengada-ada.
-          Paus Benediktus XVI juga mempermasalahkan tempat kelahiran Yesus, menurutnya Yesus bukan lahir di Nazareth sebagaimana yang diyakini secara umum.
“Kami bahkan tidak tahu pada musim apa dia (Yesus) dilahirkan. Semua pemikiran tentang perayaan kelahirannya selama masa paling gelap dari sepanjang tahun, kemungkinan berkaitan dengan tradisi pagan dan titik balik matahari di musim dingin.” John Barton, profesor pakar tafsir naskah-naskah suci Kristen di Oriel College, Universitas Oxford.
Apa kata sumber Kristen tentang Natal?
a.      Catholic Encyclopedia edisi 1911 bab “Christmas” : Natal bukanlah upacara gereja yang pertama … melainkan ia diyakini berasal dari Mesir, perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus. Dalam bab “Natal Day”:
Di dalam kitab suci tidak ada seorangpun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Fir’aun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.
b.      Encyclopedia Britannica edisi 1946 : Natal bukanlah upacara gereja abad pertama. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bibel juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.
c.       Encyclopedia Americana edisi 1944 : Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut … Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus mulai diresmikan pada abad ke-4 Masehi. Pada abad ke-5 Masehi Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari “Kelahiran Dewa Matahari”. Sebab tidak seorangpun mengetahui hari kelahiran Yesus.
d.      New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge, Christmas :
Adat kepercayaan pagan Brumalia dan Saturnalia yang sudah sangat akrab di masyarakat Roma diambil Kristen … Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tatacaranya. Para pendeta Kristen di Barat dan di Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu Kristen Mesopotamia yang menuding Kristen Barat (Katholik Roma) telah mengadopsi model penyembahan kepada Dewa Matahari.
Bibel mengutuk pohon Natal
Tidak ada perayaan Natal tanpa pohon Natal. Padahal sebagaimana dapat dibaca dari buku-buku sejarah, perayaan Natal dan pohon Natal sudah ada semenjak zaman dahulu kala, jauh sebelum Yesus dilahirkan. Perayaan Natal ini sesungguhnya merupakan tradisi lama dari para penganut penyembah berhala (paganisme).
Nimrod atau Raja Namrudz adalah salah satu tokoh yang diyakini dalam paganisme yang tetap hidup abadi meski jasadnya telah tiada. Semiramis ibunya menjadikan pohon evergreen (cemara) yang bisa tumbuh dari kayu yang sudah mati sebagai simbol kehidupan baru Nimrod setelah mati. Dan Nimrod dianggap selalu ada di pohon tersebut tiap hari kelahirannya tiba, sehingga sering dihiasi dengan aksesoris yang gemerlap dan di bawahnya sering diletakkan aneka bingkisan.  Mari kita telaah terlebih dahulu Yeremia 10: 2-5,
Beginilah firman Tuhan: “Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu supaya jangan goyang. Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun. Tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab ia tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baik pun ia tidak dapat.
Dalam kitab Yeremia (bagian dari Perjanjian Lama) tersebut begitu jelas bahwa Bibel menentang adanya pemberhalaan terhadap pohon kayu. Pertanyaannya, bagaimana dengan pohon Natal? Bibel mengutuk keras pembuatan pohon Natal tapi mengapa umat Kristen yang mengklaim Bibel sebagai pedoman hidupnya malah justru menodai firman Tuhannya sendiri?
Natal Menjadi Budaya
Natal sesungguhnya adalah perayaan penyembah berhala atau kaum paganis yang telah di “baptis” oleh Gereja. Namun apakah umat Kristen berhenti merayakan Natal 25 Desember? Mungkin mereka, golongan orang yang berpikir akan berhenti, tapi ada juga yang tidak. Natal sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat dunia.
Namun yang ironis, mengapa umat Islam kok malah ikut-ikutan memeriahkan Natal? Padahal hukum mengucap selamat Natal dalam Islam sudah sangat jelas, haram.
Dalam “Pesan Natal Bersama Tahun 2012” yang ditandatangani Ketua Umum dan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)”, dinyatakan sebagai berikut:
“Saudara-saudari terkasih, setiap merayakan Natal, pandangan kita selalu terarah kepada bayi yang lahir dalam kesederhanaan, namun menyimpan misteri kasih yang tak terhingga. Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Inilah perayaan penuh suka cita atas kedatangan Tuhan. Dialah Sang Juruselamat yang menjadi manusia….”
Jelaslah bahwa Natal bukan urusan duniawi, sosial dan seremonial semata, tapi perayaan doktrin ketuhanan Yesus yang sungguh sangat berlawanan dengan aqidah Islamiyah

http://www.islampos.com/paus-benedictus-natal-bukan-25-desember-91384/

Meluruskan Kesalahfahaman Tentang Qadla dan Qadar (Bagian 1)





Definisi Qadla Dan Qadar
Iman kepada Qadla dan Qadar adalah termasuk pokok-pokok iman yang enam (Ushûl al-Îmân as-Sittah) yang wajib kita percayai sepenuhnya. Belakangan ini telah timbul beberapa orang atau beberapa kelompok yang mengingkari Qadla dan Qadar dan berusaha mengaburkannya, baik melalui tulisan-tulisan, maupun di bangku-bangku kuliah. Tentang kewajiban iman kepada Qadla dan Qadar, dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda:

الإيْمَانُ أنْ تُؤْمِنَ باِللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرّهِ (رواه مسلم
“Iman ialah engkau percaya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan engkau percaya kepada Qadar Allah, yang baik maupun yang buruk”. (HR. Muslim).

 Al-Qadlâ maknanya al-Khalq, artinya penciptaan, 
dan al-Qadar maknanya at-Tadbîr, artinya ketentuan. Secara istilah al-Qadar artinya ketentuan Allah atas segala sesuatu sesuai dengan pengetahuan (al-‘Ilm) dan kehendak-Nya (al-Masyî-ah) yang Azali (tidak bermula), di mana sesuatu tersebut kemudian terjadi pada waktu yang telah ditentukan dan dikehendaki oleh-Nya terhadap kejadiannya.
Penggunaan kata “al-Qadar” terbagi kepada dua bagian:
Pertama; Kata al-Qadar bisa bermaksud bagi sifat “Taqdîr” Allah, yaitu sifat menentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang ia kehendakinya. al-Qadar dalam pengertian sifat “Taqdîr” Allah ini tidak boleh kita sifati dengan keburukan dan kejelekan, karena sifat menentukan Allah terhadap segala sesuatu bukan suatu keburukan atau kejelekan, tetapi sifat menentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang Ia kehendakinya adalah sifat yang baik dan sempurna, sebagaimana sifat-sifat Allah lainnya. Sifat-sifat Allah tersebut tidak boleh dikatakan buruk, kurang, atau sifat-sifat jelek lainnya.
Kedua; Kata al-Qadar dapat bermaksud bagi segala sesuatu yang terjadi pada makhluk, atau disebut dengan al-Maqdûr. Al-Qadar dalam pengertian al-Maqdûr ini ialah mencakup segala apapun yang terjadi pada seluruh makhluk ini; dari keburukan dan kebaikan, kesalehan dan kejahatan, keimanan dan kekufuran, ketaatan dan kemaksiatan, dan lain-lain. Dalam makna yang kedua inilah yang dimaksud oleh hadits Jibril di atas, “Wa Tu-mina Bi al-Qadar; Khayrih Wa Syarrih”. Al-Qadar dalam hadits ini adalah dalam pengertian al-Maqdûr.
Pemisahan makna antara sifat Taqdîr Allah dengan al-Maqdûr adalah sebuah keharusan. Hal ini karena sesuatu yang disifati dengan baik dan buruk, atau baik dan jahat, adalah hanya sesuatu yang ada pada makhluk saja.

 Artinya, siapa yang melakukan kebaikan maka perbuatannya tersebut disebut “baik”, dan siapa yang melakukan keburukan maka perbuatannya tersebut disebut “buruk”.dengan demikian penyebutan kata “baik” dan ”buruk” seperti ini hanya berlaku pada makhluk saja.
 Adapun sifat Taqdîr Allah, yaitu sifat menentukan Allah terhadap segala sesuatu yang Ia kehendakinya, maka sifat-Nya ini tidak boleh dikatakan buruk. Sifat Taqdîr Allah ini, sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain, adalah sifat yang baik dan sempurna, tidak boleh dikatakan buruk atau jahat. Dengan demikian, bila seorang hamba melakukan keburukan, maka itu adalah perbuatan dan sifat yang buruk dari hamba itu sendiri. Adapun Taqdîr Allah terhadap keburukan yang terjadi pada hamba itu bukan berarti bahwa Allah menyukai dan memerintahkan hamba itu kepada keburukan tersebut. Demikian pula, ketika kita katakan; Allah yang menciptakan kejahatan, bukan berarti bahwa Allah itu jahat. Inilah yang dimaksud bahwa kehendak Allah meliputi segala perbuatan hamba, terhadap yang baik maupun yang buruk.
Segala perbuatan yang terjadi pada alam ini, baik kekufuran dan keimanan, ketaatan dan kemaksiatan, dan berbagai hal lainnya, semunya terjadi dengan kehendak dan dengan penciptaan Allah. Hal ini menunjukan akan kesempurnaan Allah, serta menunjukan akan keluasan dan ketercakupan kekuasaan dan kehendak-Nya atas segala sesuatu. Karena apa bila pada makhluk ini ada sesuatu yang terjadi yang tidak dikehendaki kejadiannya oleh Allah, maka berarti hal itu menafikan sifat ketuhanan-Nya, karena dengan demikian berarti kehendak Allah dikalahkan.oleh kehendak makhluk-Nya. Tentu, ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi. Karena itu dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ (رواه أبو داود)
“Apa yang dikehendaki oleh Allah -akan kejadiannya- pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehandaki oleh-Nya maka tidak akan pernah terjadi”. (HR. Abu Dawud)
.
Dengan demikian segala apapun yang dikehendaki oleh Allah terhadap kejadiannya maka semua itu pasti terjadi. Karena bila ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak-Nya, maka hal itu menunjukkan akan kelemahan, padahal sifat lemah itu mustahil bagi Allah. Bukankah Allah maha kuasa?! Maka di antara bukti kekuasaannya adalah bahwa segala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti terlaksana. Oleh karena itu, dari sudut pandang syara’ dan akal, terjadinya segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah akan kejadiannya adalah perkara yang wajib adanya. Dalam hal ini Allah berfirman:
وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أمْرِه (يوسف: 21)
“Allah maha mengalahkan (menang) di atas segala urusann-Nya”. (Artinya, segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi, tidak ada siapapun yang menghalangi-Nya”. (QS. Yusuf: 21).
Allah menghendaki orang-orang mukmin dengan ikhtiar mereka untuk beriman kepada-Nya, maka mereka menjadi orang-orang yang beriman. Dan Allah menghendaki orang-orang kafir dengan ikhtiar mereka untuk kufur kepada-Nya, maka mereka semua menjadi orang-orang yang kafir. Seandainya Allah berkehendak semua makhluk-Nya beriman kepada-Nya, maka mereka semua pasti beriman kepada-Nya. Allah berfirman:
وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لأَمَنَ مَن فِي اْلأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا (يونس: 99)
“Dan seandainya Tuhanmu (Wahai Muhammad) berkehendak, niscaya seluruh yang ada di bumi ini akan beriman”. (QS. Yunus: 99).
Tetapi Allah tidak menghendaki semuanya beriman kepada-Nya. Namun demikian Allah memerintah mereka semua untuk beriman kepada-Nya. Maka di sini harus dipahami, bahwa “kehendak Allah” dan “perintah Allah” adalah dua hal berbeda. Tidak segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah adalah sesuatu yang diperintah oleh-Nya, dan tidak segala sesuatu yang diperintah oleh Allah adalah sesuatu yang dikehendaki oleh-Nya.
Perkataan sebagian orang “Segala sesuatu adalah atas perintah Allah”, atau “Banyak sekali perbuatan kita yang tidak dikehendaki oleh Allah (ia bermaksud kemaksiatan-kemaksiatan)”, adalah perkataan yang salah, karena Allah tidak memerintahkan kepada perbuatan-perbuatan maksiat atau kekufuran. Benar, kejadian kemasiatan atau kekufuran tersebut adalah dengan kehendak Allah, tetapi Allah tidak memerintah kepadanya. Dengan demikian perkataan yang benar ialah; “Segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya dan dengan Ilmu-Nya. Kebaikan terjadi dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dengan Ilmu-Nya, serta kebaikan ini juga dengan perintah-Nya, Mahabbah-Nya, dan dengan keridlaan-Nya. Sementara keburukan terjadi dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dan dengan Ilmu-Nya, tapi tidak dengan perintah-Nya, tidak dengan Mahabbah-Nya, dan tidak dengan keridlaan-Nya”. Artinya keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan tidak disukai dan tidak diridlai oleh Allah. Dengan kata lain, segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah, akan tetapi tidak semuanya dengan perintah Allah.
Di antara bukti yang menunjukan bahwa perintah Allah berbeda dengan kehendak-Nya adalah apa yang terjadi dengan Nabi Ibrahim. Beliau diberi wahyu lewat mimpi untuk menyembelih putranya; Nabi Isma’il. Hal ini merupakan perintah dari Allah atas Nabi Ibrahim. Kemudian saat Nabi Ibrahim hendak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah ini, bahkan telah meletakan pisau yang sangat tajam dan menggerak-gerakannya di atas leher Nabi Isma’il, namun Allah tidak berkehendak terjadinya sembelihan terhadap Nabi Isma’il tersebut. Kemudian Allah mengganti Nabi Isma’il dengan seekor domba yang bawa oleh Malaikat Jibril dari surga. Peristiwa ini menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara ”perintah Allah” dan ”kehendak-Nya”.
Contoh lainnya, Allah memerintah kepada seluruh hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya, akan tetapi Allah berkehendak tidak semua hamba tersebut beribadah kepada-Nya. Karenanya, ada sebagian mereka yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi orang-orang beriman, dan ada sebagian lainnya yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang-orang kafir. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنّ وَالإنْسَ إلاّ لِيَعْبُدُوْن (الذاريات: 56)
“Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan manusia dan jin melainkan Aku “perintahkan” mereka untuk menyembah-Ku”. (QS. adz-Dzariyat: 56).
Makna firman Allah “Illâ Li-Ya’budûn” dalam ayat ini artinya “Illâ Li-Âmurahum Bi ‘Ibâdatî”, artinya bahwa Allah menciptakan manusia dan jin tidak lain ialah untuk Dia perintah mereka agar beribadah kepada-Nya. Makna ayat ini bukan “Aku (Allah) ciptakan manusia dan jin melainkan aku berkehendak pada mereka untuk menyembah-Ku”. Karena jika diartikan bahwa Allah berkehendak dari seluruh manusia dan jin untuk beriman atau beribadah kepada-Nya, maka berarti kehendak Allah dikalahkan oleh kehendak orang-orang kafir, karena pada kenyataannya tidak semua hamba beriman dan beribadah kepada Allah, tapi ada di antara mereka yang kafir dan menyembah selain Allah. Tentunya mustahil jika kehendak Allah dikalahkan oleh kehendak makhluk-makhluk-Nya sendiri.

Ketentuan Allah Tidak Berubah

Di atas telah dijelaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa bila Allah menghendaki sesuatu akan terjadi pada seorang hamba-Nya, maka pasti sesuatu itu akan menimpanya, sekalipun orang tersebut bersedekah, berdoa, bersilaturrahim, dan berbuat baik kepada sanak kerabatnya; kepada ibunya, dan saudara-saudaranya, atau lainnya. Artinya, apa yang telah ditentukan oleh Allah tidak dapat dirubah oleh amalan-amalan kebaikan bentuk apapun.
Adapun hadits Rasulullah yang berbunyi:
لاَ  يَرُدُّ  القَضَاءَ  شَىءٌ  إلاّ  الدُّعَاءُ  (رواه الترمذي)
“Tidak ada sesuatu yang dapat menolak Qadla kecuali doa” (HR. at-Tirmidzi).
yang dimaksud dengan Qadla di dalam hadits ini adalah Qadlâ Mu’allaq. 
 Di sini harus kita ketahui bahwa Qadla terbagi kepada dua bagian: Qadlâ Mubram dan Qadlâ Mu’allaq.
Pertama: Qadlâ Mubram, ialah ketentuan Allah yang pasti terjadi dan tidak dapat berubah. Ketentuan ini hanya ada pada Ilmu Allah, tidak ada siapapun yang mengetahuinya selain Allah sendiri, seperti ketentuan mati dalam keadaan kufur (asy-Syaqâwah), dan mati dalam keadaan beriman (as-Sa’âdah), ketentuan dalam dua hal ini tidak berubah. Seorang yang telah ditentukan oleh Allah baginya mati dalam keadaan beriman maka itulah yang akan terjadi baginya, tidak akan pernah berubah. Sebaliknya, seorang yang telah ditentukan oleh Allah baginya mati dalam keadaan kufur maka pasti itulah pula yang akan terjadi pada dirinya, tidak ada siapapun, dan tidak ada perbuatan apapun yang dapat merubahnya. Allah berfirman:
يُضِلّ  مَنْ  يَشَاءُ  وَيَهْدِيْ  مَنْ  يَشَاء  (النحل: 93)
“Allah menyesatkan terhadap orang yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki”. (QS. an-Nahl: 93).

Kedua: Qadlâ Mu’allaq, yaitu ketentuan Allah yang berada pada lambaran-lembaran para Malaikat, yang telah mereka kutip dari al-Lauh al-Mahfuzh, seperti si fulan apa bila ia berdoa maka ia akan berumur seratus tahun, atau akan mendapat rizki yang luas, atau akan mendapatkan kesehatan, dan seterusnya. Namun, misalkan si fulan ini tidak mau berdoa, atau tidak mau bersillaturrahim, maka umurnya hanya enam puluh tahun, ia tidak akan mendapatkan rizki yang luas, dan tidak akan mendapatkan kesehatan. Inilah yang dimaksud dengan Qadlâ Mu’allaq atau Qadar Mu’allaq, yaitu ketentuan-ketentuan Allah yang berada pada lebaran-lembaran para Malaikat.
Dari uraian ini dapat dipahami bahwa doa tidak dapat merubah ketentuan (Taqdîr) Allah yang Azali yang merupakan sifat-Nya, karena mustahil sifat Allah bergantung kepada perbuatan-perbuatan atau doa-doa hamba-Nya. Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu, tidak ada suatu apapun yang tersembunyi dari-Nya, dan Allah maha mengetahui perbuatan manakah yang akan dipilih oleh si fulan dan apa yang akan terjadi padanya sesuai yang telah tertulis di al-Lauh al-Mahfuzh.
Namun demikian doa adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah atas para hamba-Nya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ  الدَّاعِ  إِذَا  دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)
“Dan jika hamba-hamba-ku bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat (bukan dalam pengertian jarak), Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memohon terkabulkan doa kepada-Ku dan beriman kepada-Ku, semoga mereka mendapatkan petunjuk” (QS. al-Baqarah: 186).
Artinya bahwa seorang yang berdoa tidak akan sia-sia belaka. Ia pasti akan mendapatkan salah satu dari tiga kebaikan; dosa-dosanya yang diampuni, permintaannya yang dikabulkan, atau mendapatkan kebaikan yang disimpan baginya untuk di kemudian hari kelak. Semua dari tiga kebaikan ini adalah merupakan kebaikan yang sangat berharga baginya. Dengan demikian maka tidak mutlak bahwa setiap doa yang dipintakan oleh para hamba pasti dikabulkan oleh Allah. Akan tetapi ada yang dikabulkan dan ada pula yang tidak dikabulkan. Yang pasti, bahwa setiap doa yang dipintakan oleh seorang hamba kepada Allah adalah sebagai kebaikan bagi dirinya sendiri, artinya bukan sebuah kesia-siaan belaka. Dalam keadaan apapun, seorang yang berdoa paling tidak akan mendapatkan salah satu dari kebaikan yang telah kita sebutkan di atas. (Lebih luas lihat al-Adzkâr an-Nawawiyyah, hlm. 353)
(Masalah): 
Aqidah Ahlussunnah menetapkan bahwa Allah yang menciptakan kebaikan dan keburukan. Namun demikian ada beberapa faham yang berusaha mengaburkan kebenaran ini dengan mengutip beberapa ayat yang sering disalahpahami oleh mereka, di antaranya, mereka mengutip firman Allah:
بِيَدِكَ الْخَيْرُ (ءال عمران: 26)
“Dengan kekuasaan-Mu segala  kebaikan”. (QS. Ali ‘Imran: 26).
Mereka berkata: “Dalam ayat ini Allah hanya menyebutkan kata ”al-Khayr” (kebaikan) saja, tidak menyebutkan asy-Syarr (keburukan). Dengan demikian maka Allah hanya menciptakan kebaikan saja, adapun keburukan bukan ciptaan-Nya”.

(Jawab)
Kata ”asy-Syarr” (keburukan) tidak disandingkan dengan kata al-Khayr (kabaikan) dalam ayat di atas bukan berarti bahwa Allah bukan pencipta keburukan. Ungkapan semacam ini dalam istilah Ilmu Bayan (salah satu cabang Ilmu Balaghah) dinamakan dengan al-Iktifâ’; yaitu meninggalkan penyebutan suatu kata karena telah diketahui padanan katanya. Contoh semacam ini di dalam al-Qur’an firman Allah:
وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُم بَأْسَكُمْ (النحل: 81)
“Dia (Allah) menjadikan bagi kalian pakaian-pakaian yang memelihara kalian dari dari panas”. (QS. an-Nahl: 81).
Yang dimaksud ayat ini adalah pakaian yang memelihara kalian dari panas, dan juga dari dingin. Artinya, tidak khusus memelihara dari panas saja. Demikian pula dengan pemahaman firman Allah: ”Bi-Yadika al-Khayr” (QS. Ali ‘Imran: 26) di atas bukan berarti Allah khusus menciptakan kebaikan saja, tapi yang yang dimaksud adalah menciptakan segala kebaikan dan juga segala keburukan.
Kemudian dari pada itu, dalam ayat lain dalam al-Qur’an Allah berfirman:
وَخَلَقَ كُلّ شَىء (الفرقان: 2)
”Dan Dia Allah yang telah menciptakan segala sesuatu”. (QS. al-Furqan: 2).
Kata “Syai’”, yang secara hafiyah bermakna “sesuatu” dalam ayat ini mencakup segala suatu apapun selain Allah. Mencakup segala benda dan semua sifat benda, termasuk segala perbuatan manusia, juga termasuk segala kebaikan dan segala keburukan. Artinya, segala apapun selain Allah adalah ciptaan Allah. Dalam ayat lain firman Allah:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكِ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ (ءال عمران: 26)
“Katakanlah (Wahai Muhammad), Ya Allah yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki”. (QS. Ali ‘Imran: 26).
Dari makna firman Allah di atas: “Engkau (Ya Allah) berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki”, kita dapat pahami bahwa Allah adalah Pencipta kebaikan dan keburukan. Allah yang memberikan kerajaan kepada raja-raja kafir seperti Fir’aun, dan Allah pula yang memberikan kerajaan kepada raja-raja mukmin seperti Dzul Qarnain.
Adapun firman Allah:
مَّآأَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَآأَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ (النساء: 79)
ayat ini bukan berarti bahwa kebaikan ciptaan Allah, sementara keburukan sebagai ciptaan manusia. Pemaknaan seperti ini adalah pemaknaan yang rusak dan merupakan kekufuran. Makna yang benar ialah, sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama, bahwa kata “Hasanah” dalam ayat di atas artinya nikmat, sedangkan kata “Sayyi-ah” artinya musibah atau bala (bencana). Dengan demikian makna ayat di atas ialah:

 “Segala apapun dari nikmat yang kamu peroleh adalah berasal dari Allah, dan segala apapun dari musibah dan bencana yang menimpamu adalah balasan dari kesalahanmu”.
 Artinya, amalan buruk yang dilakukan oleh seorang manusia akan dibalas oleh Allah dengan musibah dan bala.
Allah Pencipta Segala Sebab Dan Akibat

Dalam hukum kausalitas ini ada sesuatu yang dinamakan “sebab” dan ada yang dinamakan “akibat”. Misalnya, obat sebagai sebab bagi akibat sembuh, api sebagai sebab bagi akibat kebakaran, makan sebagai sebab bagi akibat kenyang, dan lain-lain. Aqidah Ahlussunnah menetapkan bahwa sebab-sebab dan akibat-akibat tersebut tidak berlaku dengan sendirinya. Artinya, setiap sebab sama sekali tidak menciptakan akibatnya masing-masing. Tapi keduanya, baik sebab maupun akibat, adalah ciptaan Allah dan dengan ketentuan Allah. Dengan demikian, obat dapat menyembuhkan sakit karena kehendak Allah, api dapat membakar karena kehendak Allah, dan demikian seterusnya. Segala akibat jika tidak dikehendaki oleh Allah akan kejadiannya maka itu semua tidak akan pernah terjadi.
Dalam sebuah hadits Shahih, Rasulullah bersabda:
إنّ اللهَ خَلَقَ الدّوَاءَ وَخَلَقَ الدّاءَ فَإذَا أصِيْبَ دَوَاء الدّاء بَرِأ بإذْنِ اللهِ (رواه ابن حبان)
“Sesungguhnya Allah yang menciptakan segala obat dan yang menciptakan segala penyakit. Apa bila obat mengenai penyakit maka sembuhlah ia dengan izin Allah”. (HR. Ibn Hibban).
Sabda Rasulullah dalam hadits ini: “… maka sembuhlah ia dengan izin Allah” adalah bukti bahwa obat tidak dapat memberikan kesembuhan dengan sendirinya. Fenomena ini nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita melihat banyak orang dengan berbagai macam penyakit, ketika berobat mereka mempergunakan obat yang sama, padahal jelas penyakit mereka bermacam-macam, dan ternyata sebagian orang tersebut ada yang sembuh, namun sebagian lainnya tidak sembuh. Tentunya apa bila obat bisa memberikan kesembuhan dengan sendirinya maka pastilah setiap orang yang mempergunakan obat tersebut akan sembuh, namun kenyataan tidak demikian. Inilah yang dimaksud sabda Rasulullah: “… maka akan sembuh dengan izin Allah”.
Dengan demikian dapat kita pahami bahwa adanya obat adalah dengan kehendak Allah, demikian pula adanya kesembuhan sebagai akibat dari obat tersebut juga dengan kehendak dan ketentuan Allah, obat tidak dengan sendirinya menciptakan kesembuhan. Demikian pula dengan sebab-sebab lainnya, semua itu tidak menciptakan akibatnya masing-masing. Kesimpulannya, kita wajib berkeyakinan bahwa sebab tidak menciptakan akibat, akan tetapi Allah yang menciptakan segala sebab dan segala akibat.
Firqah-Firqah Dalam Masalah Qadla Dan Qadar

Dalam masalah Qadla dan Qadar umat Islam terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama disebut dengan golongan Jabriyyah, kedua disebut dengan golongan Qadariyyah, dan ketiga adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Golongan pertama dan golongan ke dua adalah golongan sesat, dan hanya golongan ke tiga yang selamat. Kelompok pertama, yaitu golongan Jabriyyah, berkeyakinan bahwa para hamba itu dipaksa (Majbûr) dalam segala perbuatannya, mereka berkeyakinan bahwa seorang hamba sama sekali tidak memiliki usaha atau ikhtiar (al-Kasab) dalam perbuatannya tersebut. Bagi kaum Jabriyyah, manusia laksana sehelai bulu atau kapas yang terbang ditiup angin, ia mengarah ke manapun angin tersebut membawanya. Keyakinan sesat kaum Jabriyyah ini bertentangan dengan firman Allah:
وَمَاتَشَآءُونَ إِلآَّ أَن يَشَآءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (التكوير: 29)
“Dan kalian tidaklah berkehendak kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. at-Takwir: 29).
Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa manusia diberi kehendak (al-Masyî-ah) oleh Allah, hanya saja kehendak hamba tersebut dibawah kehendak Allah. Pemahaman ayat ini berbeda dengan keyakinan kaum Jabriyyah yang sama sekali menafikan Masyi’ah dari hamba. Bahkan dalam ayat lain secara tegas dinyatakan bahwa manusia memiliki usaha dan ikhtiar (al-Kasb), yaitu dalam firman Allah:
لَهَا مَاكَسَبَتْ  وَعَلَيْهَا  مَااكْتَسَبَتْ  (البقرة: 286)
“Bagi setiap jiwa -balasan kebaikan- dari segala apa yang telah ia usahakan – dari amal baik-, dan atas setiap jiwa -balasan keburukan- dari segala apa yang ia usahakan -dari amal buruk-”. (QS. al-Baqarah: 286).
Kebalikan dari golongan Jabriyyah adalah golongan Qadariyyah. Kaum ini memiliki keyakinan bahwa manusia memiliki sifat Qadar (menentukan) dalam melakukan segala amal perbuatannya tanpa adanya kehendak dari Allah terhadap perbuatan-perbuatan tersebut. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan-perbuatan manusia, tetapi manusia sendiri yang menciptakan perbuatan-perbuatannya tersebut. Terhadap golongan Qadariyyah yang berkeyakinan seperti ini kita tidak boleh ragu sedikitpun untuk mengkafirkannya, mereka bukan orang-orang Islam. Karenanya, para ulama kita sepakat mengkafirkan kaum Qadariyyah yang berkeyakinan semacam ini. Kaum Qadariyyah yang berkeyakinan seperti itu telah menyekutukan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya, karena mereka menetapkan adanya pencipta kepada selain Allah, di samping itu mereka juga telah menjadikan Allah lemah (‘Âjiz), karena dalam keyakinan mereka Allah tidak menciptakan segala perbuatan hamba-hamba-Nya. Padahal di dalam al-Qur’an Allah berfirman:
قُلِ اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ (الرعد: 16)
“Katakan (Wahai Muhammad), Allah adalah yang menciptakan segala sesuatu”. (QS. ar-Ra’ad: 16).
Mustahil Allah tidak kuasa atau lemah untuk menciptakan segala perbuatan hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah yang menciptakan segala benda, dari mulai benda paling kecil bentuknya, yaitu adz-Dzarrah, hingga benda yang paling besar, yaitu arsy, termasuk tubuh manusia yang notabene sebagai benda juga ciptaan Allah. Artinya, bila Allah sebagai Pencipta segala benda tersebut, maka demikian pula Allah sebagai Pencipta bagi segala sifat dan segala perbuatan dari benda-benda tersebut. Sangat tidak logis jika dikatakan adanya suatu benda yang diciptakan oleh Allah, tapi kemudian benda itu sendiri yang menciptakan sifat-sifat dan segala perbuatannya. Karena itu Imam al-Bukhari telah menuliskan satu kitab berjudul “Khalq Af’âl al-‘Ibâd”, berisi penjelasan bahwa segala perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, bukan ciptaan manusia itu sendiri.
Dengan demikian menjadi sangat jelas bagi kita kesesatan dan kekufuran kaum Qadariyyah, karena mereka menetapkan adanya pencipta kepada selain Allah. Mereka telah menjadikan Allah setara dengan makhluk-makhluk-Nya sendiri; sama-sama menciptakan. Mereka tidak hanya menetapkan adanya satu sekutu bagi Allah tapi mereka menetapkan banyak sekutu bagi-Nya, karena dalam keyakinan mereka bahwa setiap manusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya masing-masing, sebagimana Allah adalah Pencipta bagi tubuh-tubuh semua manusia tersebut. Na’ûdzu Billâh.

Golongan ke tiga, yaitu Ahlussunnah Wal Jama’ah, adalah golongan yang selamat. Keyakinan golongan ini adalah keyakinan yang telah dipegang teguh oleh mayoritas umat Islam dari masa ke masa, antar genarasi ke genarasi. Dan inilah  keyakinan yang telah diwariskan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya. Mereka menetapkan bahwa tidak ada pencipta selain Allah. Hanya Allah yang menciptakan semua makhluk, dari mulai dzat atau benda yang paling kecil hingga benda yang paling besar, dan Allah pula yang menciptakan segala sifat dan segala perbuatan dari benda-benda tersebut.
Perbuatan manusia terbagi kepada dua bagian; Pertama, Af’âl Ikhtiyâriyyah, yaitu segala perbuatan yang terjadi dengan inisiatif, usaha, kesadaran, dan dengan ikhtiar dari manusia itu sendiri, seperti makan, minum, berjalan, dan lain-lain. Kedua; Af’âl Idlthirâriyyah, yaitu segala perbuatan manusia yang terjadi di luar usaha, dan di luar ikhtiar manusia itu sendiri, seperti detak jantung, aliran darah dalam tubuh, dan lain sebagainya. Dalam keyakinan Ahlussunnah; seluruh perbuatan manusia, baik Af’âl Ikhtiyâriyyah, maupun Af’âl Idlthirâriyyah adalah ciptaan Allah.

Hukum Mengi'tiqadkan Allah swt Seperti Makhluk


Published by KH. Thobary Syadzily on Tuesday, November 5, 2013  |  

Kita jangan sembarangan menghukumi orang dengan hukuman murtad, kafir, dan sejenisnya sebelum kita menguasai permasalahan hukum tersebut sesuai dengan apa yang dipermasalahkan. Hal itu dilarang keras dalam ajaran Islam. 

Di dalam kitab "Hasyiyah ad-Dasuqi 'ala Ummil Barahin" halaman 109 diterangkan tentang orang yang mengi'tiqadkan atau meyakinkan bahwa Allah swt disamakan seperti makhluk (lihat tulisan yang ada di foto baris ke-9 - 12 !) sebagai berikut:

و اعلم أن من اعتقد أن الله جسم كالأجسام فهو كافر و من المعتقد أنه جسم لا كالأجسام فهو عاص غير كافر و الاعتقاد الحق اعتقاد أن الله ليس بجسم و لا صفة و لا يعلم ذاته الا هو

Artinya: "Dan ketahuilah oleh kalian bahwa sesungguhnya:

1. Barangsiapa mengi'tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah swt seperti jisim (bentuk suatu makhluk) sebagimana jisim-jisim lainnya, maka orang tersebut hukumnya "Kafir (orang yang kufur dalam i'tiqad, bukan berarti keluar dari Islam pindah ke agama lain)."


2. Orang yang mengi'tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah swt seperti jisim (bentuk suatu makhluk), tapi tidak disamakan sebagaimana jisim-jisim (bentuk-bentuk makhluk) lainnya, maka orang tersebut hukumnya "'Aashin" atau orang yang telah berbuat durhaka kepada Allah swt, dan bukanlah orang "kafir (orang yang kufur dalam i'tiqad)." 

3. I'tiqad yang benar adalah i'tiqad yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah swt itu bukanlah seperti jisim (bentuk suatu makhluk) dan bukan pula berupa sifat. Tidak ada yang dapat mengetahui Dzat Allah swt kecuali Dia."

Dengan demikian, berdasarkan keterangan tauhid di kitab "Hasiyah ad-Dasuqi 'ala Ummil Barahin" tersebut di atas, ucapan yang dikeluarkan oleh seseorang dalam kaitannya dengan ilmu tauhid, tergantung dari i'tiqadnya, apakah ucapannya itu di'itiqadkan atau tidak. Hal ini diperkuat dengan keterangan yang diungkapkan Syeikh Al-Akhthal dalam sya'irnya: 

ان الكلام لفى الفؤاد و انما #### جعل اللسان على الفؤاد دليلا


Kategori :

Tentang Penulis
KH. Thobary Syadzily adalah seorang ulama Pejuang Ahlussunnah yang juga keturunan Syaikh Nawawi Al-Bantani. Beliau mengasuh Pondok Pesantren Al Husna Tangerang Banten. Disamping itu juga diberi amanah sebagai ketua Lajnah Falaqiyah PWNU Provinsi Banten serta Anggota tim fatwa dan hukum MUI Kota Tangerang

 http://www.thobary.com/2013/11/hukum-mengitiqadkan-allah-swt-seperti.html

Translate

Instagram kami

Laman Facebook Kami

Galeri

DONASI

.