Tampilkan postingan dengan label Siroh Nabawiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siroh Nabawiyah. Tampilkan semua postingan

PAKAIAN NABI BUKAN BUDAYA ARAB



Segala kebiasaan yang diturunkan kepada Nabi SAW, dari hal pakaian gamis, sorban sampai Jenggot, adalah wahyu yang diturunkan Allah SAW kepada Nabi yang di sunnahkan untuk umat Islam di seluruh penjuru dunia. Ini sunnah Nabi, bukan budaya arab.



Di Arab ada dua jenis pakaian, namanya Kurtah dan Gamisz. Gamis adalah murni pakaian diciptakan Nabi, sehelai kain panjang lurus, untuk menyederhanakan cara berpakaian agar tidak berlebihan.

Fakta Sejarah Abu Hakam (nama asli Abu Jahal) tidak pernah berpenampilan dan berpakaian Mirip Nabi Muhammad SAW, karena dia sangat membenci Nabi Muhammad, ajaranya, pengikutnya dan segala atribut penampilan visual pengikut Nabi.

Seumur hidupnya Abu Jahal tak pernah membiarkan Jenggot tumbuh di dagunya, ataupun memakai gamis putih sederhana yang biasa dikenakan Nabi.

Abu Jahal lebih suka berpenampilan layaknya Kisra Persia dengan kumis melintang dengan jubah dari kulit binatang, baju yang berwarna-warni dan tak pernah memakai sarung. Kurang lebih seperti ilustrasi gambar ini, pakaian orang Arab di abad 6 Masehi sampai pertengahan yang disepakati sejarawan.

Nabi mengajarkan untuk memakai Gamis panjang satu kain pada pengikutnya untuk kesederhanaan, kesetaraan dan mencegah kecemburuan sosial.

Jadi?, Gamis putih panjang adalah murni hasil karya desainer Rasulullah SAW. Bukan mengikuti Budaya Arab, apalagi menyamakan pakaian Nabi SAW dengan pakaian Abu Jahal Laknatullah, ini kan KEBANGETAN BANGET....!!!

Padahal Nabi sendiri sangat membenci bila dirinya disamakan dengan Abu Jahal begitu pula Abu Jahal, bahkan ketika Utsman bin Affan meniru gaya duduk Abu Jahal, beliau menegur dan menyuruhnya untuk beristigfar.

Selama hidupnya Abu Jahal tidak memelihara jenggot tapi hanya kumis saja, karena tahu Nabi memerintahkan umatnya untuk memanjangkan jenggot, Abu Jahal tidak pernah sudi menyerupai umat nabi walau seujung helai rambut pun. Karena bila menyerupai umat Nabi berarti menerima ajaran Muhammad.

Namun jika anda tidak mau memanjangkan jenggot atau memakai gamis, tolong jangan menyamakan Nabi dengan Abu Jahal dalam hal berpakaian maupun soal jenggot.

Karena Abu Jahal sangat membenci jenggot dan tidak pernah memakai gamis yang menurutnya mirip pakaian perempuan dan menyebabkan yang memakaianya malas berperang.

Masalah Sorban pun ada perbedaannya antara Sorban Nabi dengan Sorban kaum Musyrikin.

Dalam hadits riwayat Imam Abu Daud mengatakan "Perbedaan Sorban kita (orang Islam) dan orang-orang musyrikin adalah memakai kopyah".

Kenapa pakai Kopyah?
karena orang islam memakai sorban juga pakai sembayang, maka kalau tidak pakai kopyah, bila ruku' atau sujud, kopyahnya akan mudah lepas. Sedangkan orang musyrikin tidak memakai kopyah karena tidak memerlukan ruku' dan sujud.

Kesimpulannya; Jika umat Islam memakai Gamis dan juga Sorban itu didasari bukan karena mengikuti budaya Arab, tapi mengikuti penampilan Nabi Muhammad SAW, ini adalah ajaran Agama, ini adalah ajaran Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, di sunnahkan untuk umatnya di seluruh penjuru dunia. BUKAN BUDAYA ARAB...!!!
https://web.facebook.com/photo.php?fbid=241718249561838&set=a.156896534710677.1073741828.100011709959184&type=3&theater

Kisah Shalawat Nabi Muhammad SAW

Anda Akan meneteskan air mata mendengar berita ini.
Terutama permohonan Malaikat Isrofil kepada Allah SWT.
Rasulullah S.A.W telah
bersabda bahwa :


“Malaikat
Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail A.S. telah berkata kepadaku"
Berkata Jibril A.S. : “Wahai
Rasulullah, barangsiapa yang
membaca selawat ke atasmu
tiap-tiap hari sebanyak
sepuluh kali, maka akan saya
bimbing tangannya dan akan saya bawa dia melintasi titian
seperti kilat menyambar.”
Berkata pula Mikail :
“Mereka yang berselawat ke
atas kamu akan aku beri mereka itu minum dari
telagamu.”
Berkata pula Isrofil :
“Mereka yang berselawat
kepadamu akan aku sujud kepada Allah S.W.T. dan aku
TIDAK AKAN mengangkat
kepalaku sehingga Allah
S.W.T. mengampuni orang itu
(yang bershalawat).”
Malaikat Izrail pula berkata :
“Bagi mereka yang
berselawat keatasmu,akan
aku cabut ruh mereka itu
dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabutruh para
nabi-nabi.”
Apakah kita tidak cinta
kepada Rasulullah S.A.W.?
.
Para malaikat memberikan
jaminan masing-masing untuk
orang-orang yang berselawat
ke atas Rasulullah S.A.W.
Dengan kisah yang
dikemukakan ini, kami harap para pembaca tidak akan
melepaskan peluang untuk
berselawat ke atas junjungan
kita Nabi Muhammad S.A.W.
Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang kesayangan
Allah, Rasul dan para malaikat.
Bacaan Sholawat Nabi sangat
beragam, ini adalah satu dari
beragam itu.
Ya Nabi Salam Alaika Ya
Rosuul salam alaika
Ya Habiib salam alaika Sholawatulloh
alaika.
Dalam Al Qur'an Allah swt. berfirman:
"Sesungguhnya
Allah dan malaikat-malaikat-
Nya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang
beriman, bershalawatlah
kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya".
(Al-Qur'an S. Al-Ahzab ayat
56)
Nabi Muhammad saw. bersabda:
"Bershalawatlah
kamu kepadaku,karena
shalawat itu menjadi zakat
penghening jiwa pembersih
dosa bagimu". (Diriwayatkan
oleh Ibnu Murdawaih).
Dari Abu Hurairah ra.
diberitakan Nabi Muhammad
saw. bersabda:
"Janganlah
kamu menjadikan rumah-rumahmu sebagai kubur dan menjadikan kuburku sebagai
persidangan hari raya.
Bershalawatlah kepadaku,
karena shalawatmu sampai
kepadaku dimana sajakamu berada". (HR. An-Nasai, Abu
Dawud dan Ahmad serta
dishahihkan oleh An-Nawawi)
Subhanallah....
Allahumma Sholli Ala Sayyidina
Muhammad.

CARA MANDI PAGI RASULULLAH SAW

Cara mandi pagi hari yang sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW :
1. Bermula dari segayung siramkan telapak kaki.
2. Segayung betis.
3. Segayung paha.
4. Segayung perut.
5. Segayung pundak.
6. Berhentilah sejenak 5-10 detik.


Kita akan merasakan seperti uap/angin yang keluar dari ubun-ubun bahkan merinding, setelah itu lanjutkan dengan mandi seperti biasa.

Hikmahnya : Seperti pada gelas yang diisi air panas kemudian kita isi dengan air dingin. Apa yang terjadi? Gelas retak !!!
Jika tubuh kita .... apa yang retak?

Suhu tubuh kita cenderung panas dan air itu dingin, maka yg terjadi jika kita mandi langsung menyiram pada badan atau bahkan kepala, angin yang harusnya keluar jadi terperangkap atau yang paling fatal adalah pecahnya pembuluh darah
Maka kita sering menjumpai orang jatuh di kamar mandi tiba-tiba stroke, bisa jadi kita sering masuk angin karena pola mandi kita yg salah. Bisa jadi kita sering migrain karena pola mandi yang salah.
Pola mandi ini baik bagi semua umur terutama yang punya sakit diabetes, hypertensi, kolesterol, dan migrain/sakit kepala sebelah.

SEMOGA BERMANFAAT...

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ وَ عَلىآلِ سَيّدنَآ مُحَمَّد

Sejarah Pohon Nabi ( Pohon Sahabi )


Pohon SAHABI adalah pohon yang pernah menaungi Nabi Muhammad SAW. 14 Abad yg lalu.
Pohon Sahabi yang menjadi saksi bisu pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Biarawan Kristen bernama Bahira (arab: Buhaira).
Telah ditemukan kembali oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dan otoritas pemerintah Yordania. ketika memeriksa arsip negara di Royal Archives.
Mereka menemukan referensi dari teks-teks kuno yang menyebutkan bahwa Pohon Sahabi Berada di wilayah padang pasir diutara Yordania.

Setelah 1400 tahun berlalu, pohon ini ditemukan masih hidup dan tetap tumbuh kokoh di tengah ganasnya gurun Yordania.
Bersama beberapa ulama terkenal termasuk Syekh Ahmad Hassoun, Mufti Besar Suriah, Pangeran Ghazi mengadakan pengamatan dan ternyata benar bahwa pohon tua itulah yang disebutkan dalam catatan biarawan Bahira.

Kini Pohon tersebut dilestarikan oleh pemerintah Yordania dan dipantau secara rutin keberadaannya.
Keberadaan pohon ini memang cukup unik dan dinilai tidak cocok tumbuh dilingkungan sekitarnya.
Pasalnya lingkungan sekitar pohon itu, merupakan tanah kering dan sangat gersang, sementara pohon Sahabi menjadi satu-satunya pohon yang tumbuh subur dengan daun yang rimbun.

Kondisi ini menentang kegersangan dan ketiadaan warna dari lingkungan di sekitar pohon. Meskipun kekuatan matahari ditengah gurun sangat terik, namun akan terasa teduh ketika berada di bawah pohon ini.

Tiga manuskrip kuno yang ditulis oleh Ibn Hisham, Ibn Sa'd al-Baghdadi, dan Muhammad Ibn Jarir al-Tabari menceritakan tentang kisah Bahira yang bertemu dengan bocah kecil calon rasul terakhir.
Saat itu Muhammad SAW baru berusia 9 atau 12 tahun. Ia menyertai pamannya Abu Thalib dalam perjalanan untuk berdagang ke Suriah.


Pada suatu hari, Biarawan Bahira mendapat firasat, kalau ia akan bertemu dengan sang nabi terakhir.. tiba tiba ia melihat rombongan kafilah pedagang Arab, dan melihat pemuda kecil yang memiliki ciri-ciri sesuai yang digambarkan dalam kitabnya.

Kemudian Bahira mengundang kafilah tersebut dalam sebuah perjamuan.
Semua anggota kafilah menghadiri kecuali anak yang Ia tunggu-tunggu. Ternyata. Muhammad SAW kecil sedang menunggu di bawah pohon untuk menjaga unta-unta.
Bahira keluar mencarinya dan ia sangat takjub menyaksikan cabang cabang pohon Sahabi merunduk melindungi sang pemuda dari terik Matahari. Dan segumpal awan pun ikut memayungi ke mana pun Ia pergi.

Bahira pun meminta agar bocah kecil tersebut diajak serta berteduh dan bersantap dalam perjamuan.
Dia pun segera meneliti dan menanyai pemuda kecil ini. dan menyimpulkan bahwa Dia adalah utusan terakhir yang dijelaskan dalam Alkitab.

Bahira pun meyakinkan paman anak itu yakni Abu Thalib untuk kembali ke Makkah, karena orang-orang Yahudi tengah mencari Muhammad SAW kecil untuk membunuhnya .


Setelah berselang 1400 tahun kemudian, pohon yang pernah meneduhi Nabi Muhammad SAW itu masih berdiri tegak, menjadi satu-satunya pohon yang berhasil hidup di tengah padang pasir gersang, menjadi saksi sejarah ttg kenabian Muhammad SAW.

Pohon ini secara ajaib diawetkan oleh Allah untuk waktu yang panjang. Dan kini siapapun masih bisa menyentuh dan berlindung di bawah cabangnya yang senantiasa rimbun.
Wallahu A'lam bis Shawab.


dishare kan dr grup fb/BANI ALAWIYYIN DI INDONESIA..

Bentuk Kegembiraan Atas Anugrah Terbesar Allah SWT (bag.3)


Disampaikan oleh Sayidina Hasan bin Tsabit dalam syairnya, “Ya Rasulullah, mataku ini belum pernah melihat manusia yang lebih tampan selain wajahmu. Dan tidak ada yang lebih bagus dan lebih sempurna seperti dirimu, tidak ada lagi wanita-wanita yang dapat melahirkan anak seperti dirimu ya Rasulullah. Engkau diciptakan oleh Allah tanpa cacat. Seakan-akan engkau diciptakan sesuai dengan keinginan.”

Syair lainnya dilantunkan oleh Ka’ab bin Zuhair yang dikenal dengan Banat Su’ad sebelumnya adalah seorang penjahat besar, bahkan setelah ia masuk Islam Rasulullah masih merasa sakit hati atasnya. Kaum Muhajirin yang mengetahui akan rasa sakit hati Rasulullah tidak berkenan untuk membukakan pintu bagi Ka’ab bin Zuhair. Kemudian Sayidina Ka’ab mendatangi kaum Anshor untuk meminta saran, kaum Anshor menganjurkan Sayidina Ka’ab untuk datang saat Rasulullah mengerjakan solat subuh berjama’ah dan mengambil posisi solat tepat di belakang Rasulullah dengan “bermuhlatsam” (kebiasaan orang Arab terdahulu datang dengan kondisi wajah yang tertutup dan hanya terlihat matanya saja), dan ketika selesai solat mereka menganjurkan Ka’ab untuk memeluk Nabi dan membawakan pujian atasnya.


Saran dari kaum Anshor dilakukan oleh Ka’ab bin Zuhair. Kemudian dia menghampiri Rasulullah masih dengan bermuhlatsam ia bertanya, “Ya Rasulullah, jika Ka’ab bin Zuhair datang ke hadapanmu, dia bertobatdan meminta maaf kepadamu dan masuk Islam. Apakah kau akan memaafkan dirinya?” Nabi yang semula menduga bahwa Ka’ab yang bermuhlatsam sebagai orang badui kaget mendengar pertanyaan tersebut dan kemudian menjawab, “Jika dia datang bertobat dan memohon ampun kepada Allah, maka aku akan memaafkannya dan memintakan ampunan baginya kepada Allah.” Mendengar jawaban dari Rasullah seraya Ka’ab membuka tutupan wajahnya dan mengaku bahwa dirinya adalah Ka’ab bin Zuhair, dan ia langsung memeluk, menciumi, dan membawakan syair-syair pujian atas Rasulullah SAW dan juga kaum Anshor. Rasulullah pun tersenyum mendengar syair pujian dari Ka’ab, kemudian Nabi melepaskan burdah miliknya dan memberikannya untuk Ka’ab bin Zuhair.

Syekhuna As Said Ahmad bin Alwi Al-Maliki berkata mengenai *burdah. Dan menyatakan bahwa yang pantas untuk syair Busiri bukanlah burdah melainkan bur’ah (kesembuhan dari penyakit). Karena meskipun yang didapatinya di dalam mimpi adalah burdah (sorban) tapi di kehidupan nyata ia mendapatkan kesembuhan atas sakit yang dideritanya (bur’ah).

*)burdah adalah syair yang dibuat oleh Imam Al-Busiri.

Burdah dikisahkan pembuatan burdah tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi kesehatan sang imam yang mengalami stroke yang mana tidak sembuh meski sudah berobat. Kemudian ia menulis syair untuk Rasulullah, itulah yang kemudian dikenal dengan burdah. Sang Imam Al-Busiri bermimpi Rasulullah yang memintanya untuk menyampaikan syair buatannya. Bahkan di bait yang tidak sanggup diungkapkan olehnya maka diteruskan oleh Rasulullah, yang mana berbunyi “fama blaghul ilmi fihi annahu basyaru ruannahu khoiru kholqillahi kulli himii.” Dan Rasulullah menyampaikan kabar gembira bahwa karena syair yang telah dibuatnya tersebut, maka penyakitnya akan sembuh. Terbangun dari mimpinya Imam Al-Busiri mendapatkan dirinya sudah sembuh dari sakit yang dideritanya.Ia juga mendapatkan burdah dari Rasulullah, maka itu ia menamakan syairnya dengan burdah. Dan sejak saat itu pembacaan burdah dilakukan dimana-mana.

Yang menarik diriwayatkan oleh Imam Mutabrani fil Mu’ajab, bahwasanya Sayidina Abbas bin Abdul Mutholib bergembira atas anugerah Allah yang berupa kelahiran Rasulullah, sehingga dia mengungkapkannya dengan syair pujian untuk Rasulullah SAW. Dan ia berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah izinkan saya untuk memuji engkau dengansyair pujian.” Rasulullah menjawab “Ucapkan pujianmu, semoga Allah tidak merontokkan gigimu ya Abbas.” Diceritakan bahwa ketika Sayidina Abbas meninggal dunia (saat itu usianya sekitar 80 atau 88 tahun) tidak ada satupun dari giginya yang tanggal. Hal itu berkat doa dari Rasulullah SAW.

Dikutip dari tausyiah Habib Ahmad bin Nouvel Jindan saat Dauroh dengan tema “Maulid Antara Bid’ah atau Sunnah”

http://daarussalafie.org/

Bentuk Kegembiraan Atas Anugrah Terbesar Allah SWT (bag. 2)


Rasulullah berkata, “Barang siapa yang meminta kenaikan derajat di setiap solat dan juga meminta syafa’at di setiap akhir di saat mendengarkan adzan, maka dia akan mendapatinya.”

Perkumpulan yang di dalamnya menyebutkan sifat-sifat Nabi yang indah, dahulu dilakukan oleh para sahabat dan Nabi Muhammad SAW. Dan ungkapan kegembiraan ini bagian dari syukur nikmat.

Kisah lainnya disebutkan Nabi keluar dari dalam kamar, beliau mendengar suara-suara para sahabat yang sedang berbincang-bincang. Nabi bertanya apa yang diperbincangkan oleh para sahabat. Para sahabat menjawab mereka sedang membahas anugerah yang diberikan Allah untuk para nabi, diantaranya: Allah jadikan Nabi Musa sebagai Kalimullah, dijadikannya Nabi Ibrahim sebagai khalilullah, dsb.Rasulullah berkata, “Adapun karunia Allah untukku adalah aku pemimpin anak Adam, dan kelak benderaku menaungi anak Adam dan keturunannya.”


Dikutip hadits dari kitab Ihya Ulumudin yang diriwayatkan oleh Sayidatuna Aisyah Radiallahuanhabahwasanya : “Dahulu para sahabat berlomba-lomba untuk membawakan syair-syair pujian mereka di hadapan Nabi Muhammad SAW, dan beliapun duduk tersenyum di hadapan mereka.” Perkumpulan syair pujian dilakukan oleh para sahabat dan tidak diingkari oleh Rasulullah SAW, yang mana syair tersebut adalah bentuk ungkapan kegembiraan atas anugerah yang Allah berikan kepada mereka berupa kehadiran Rasulullah SAW.

Dahulu banyak penyair-penyair yang membawakan syair pujian untuk Rasulullah SAW sebagaimana mereka membawakan syair-syair untuk melawan orang-orang kafir. Mereka dibanggakan oleh Rasulullah. Diantara adalah Sayidina Hasan bin Tsabit, Sayidina Abdullah bin Rowahah.

Al-Imam Kustulani dalam kitab Mawahid beliau menyebutkan satu fase tertentu tentang penyair-penyair Rasulullah SAW, diantaranya : Ka’ab bin Malik, Hasan bin Tsabit, dan Abdullah bin Rowahah.

Hasan bin Tsabit dikenal oleh para sahabat sebagai orang yang tidak pandai mengangkat pedang, namun Rasulullah mengatakan bahwa syair-syair Hasan bin Tsabit adalah lebih tajam di hati-hati orang-orang kafir daripada tajamnya pedang. Pernah satu kali Hasan bin Tsabit membawakan syairnya krpada orang kafir, ada beberapa sahabat yang menentang. Mereka berkata “Ya Hasan apakah kau membawakan syair dihadapan Rasulullah?”, maka Rasulullah berkata “ Biarkan!! Bahwasanya syairnya lebih tajam daripada pedang. Ya Allah bantu dia dengan ruh kudus (Malaikat Jibril Alaihisalam).” Doa hadist ini ditujukan untuk Sayidina Hasan bin Tsabit sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Di dalam hadits lainnya diriwayatkan dalam Shahih Muslim oleh Sayiidatuna Aisyah Radiullahuanha: “Wahai Hasan sesungguhnya ruh kudus selalu membelamu, mendukungmu dan memberikan bisikan-bisikan yang baik untukmu selama kau membawakan syair untuk membela Allah dan Rasulnya.”

Selain Hasan bin Tsabit ada pula Amir bin Alkwa Anjasyah (penyair yang bersuara merdu). Terdahulu selama perjalanan panjang biasa dilakukan penyeruan atas syair-syair sebagai hiburan, orang-orang bersuara merdu yang melantunkan syair-syair tersebut disebut dengan Hadi, di samping itu hal tersebut dilakukan karena hati-hati unta adalah hati yang sensitif (lembut). Sehingga unta-unta akan semakin bersemangat setiap kali mereka mendengar lantunan syair para Hadi. Hal tersebut meriwayatkan bahwa Rasulullah memiliki Hadi untuk perjalanannya, salah satunya adalah Anjasyah yang membawakan suara yang merdu. Bahkan Rasulullah sampai mengingatkan Anjasyah agar melantunkan syair dengan perlahan, agar unta-unta tidak terlalu cepat karena semangat sehingga istri-istri Nabi yang terdapat di punggung unta-unta berkendara dengan nyaman dan aman.

Dapat diambil kesimpulan bahwa perkumpulan untuk membawakan syair-syair indah untuk Rasulullah dahulu juga dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW.


Dikutip dari tausyiah Habib Ahmad bin Nouvel Jindan saat Dauroh dengan tema “Maulid Antara Bid’ah atau Sunnah”

Bentuk Kegembiraan Atas Anugrah Terbesar Allah SWT (bag. 1)

roudoh Rosulullah SAW

Bentuk ungkapan atas kegembiraan dapat dilakukan dalam bentuk apapun. Hal tersebut diperbolehkan selama tidak menyimpang dari ketentuan agama Allah.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim : Ketika Nabi hijrah ke kota Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi yang sedang berpuasa di hari Asyuro. Rasulullah pun bertanya-tanya atas keadaan tersebut. Maka kaum Yahudi menjawab bahwa hari Asyuro adalah hari dimana Allah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya (Bani Israil), sehingga mereka berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur kami atas anugerah tersebut. Lantas Nabi mengatakan bahwa kaum musliminlah yang lebih berhak atas hal tersebut. Karena pada hakikatnya orang-orang Yahudi tidak beriman kepada Nabi Musa Alaihisalam, bahkan mereka menentang Allah SWT. Karena itulah Nabi memerintahkan kepada sahabatnya untuk berpuasa Asyuro sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah (atas keselamatan Nabi Musa dan kaumnya).


Dalam hal ini bentuk kegembiraan ini dilakukan dengan cara berpuasa.

Jadi, kegembiraan atas anugerah dianjurkan oleh Allah dan juga oleh Rasulullah SAW. Dalam Shahih Bukhari dalam bab Nikah ada kutipan tentang kisah Abu Lahab, bahwasanya Sayidina Abbas bin Abi Muthalib memimpikan Abu Lahab dibakar di neraka oleh Allah, hanya saja pada hari Senin Abu Lahab mendapatkan keringanan atas hukuman tersbut dikarenakan pembebasan budak (Tsuwibatul aslamia) yang dilakukan oleh Abu Lahab saat diberikannya kabar gembira atas.

Dalam kisah ini tergambar bahwa bentuk kegembiraan dengan membebaskan budak.

Selain itu ada pula cara lain untuk mengungkapkan kegembiraan lainnya, yakni dengan menyenandungkan puji-pujian atas Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut dilakukan oleh para sahabat Rasulullah. Dan Rasulullah pun tidak menentang hal tersebut, bahkan mereka direstui bahkan sampai diberikan hadiah oleh Rasulullah SAW. Tak terhitung syair-syair indah yang dilantunkan para sahabat untuk Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa para sahabat sering kali mereka duduk satu sama lain menyebut-nyebut tentang karunia Allah yang diberikan kepada mereka berupa kehadiran Nabi Muhammad SAW.

Abu Hurairah meriwayatkan di saat Nabi mengambil potongan daging dan kemudian beliau menggigit dan beliau memakannya. Bagian daging yang Nabi suka adalah bagian katif. Rasulullah meletakan makanannya dan berkata, “Saya adalah pemimpin anak Adam dan semua anak keturunannya berada di bawah benderaku di hari kiamat.”

Rasulullah berkisah kepada para sahabatnya sebagaimana yang diriwayatkan dalam Haditsus Syafa’ah bahwa di hari kiamat, Allah akan mengumpulkan seluruh manusia di padang Mahsyar. Dimana keadaan mereka terkumpul denganbertumpuk-tumpuk, dan posisi matahari didekatkan sejarak 1 mil (entah hitungan 1 mil adalah 1 km atau sukuran ujung sipat mata). Sehingga orang-orang datang kepada Nabi Adam untuk meminta syafa’at. Mereka berkata“Engkau dapat melihat keadaan berat kita saat ini. Mintakanlah syafa’at kepada Allah.” Maka Nabi Adam menjawab, “Sesungguhnya hari ini Allah murka kepada hambanya, kemurkaan yang belum pernah dan tidak akan pernah terjadi seperti itu. Aku tidak dapat menolong kecuali menolong diriku sendiri. Aku telah melakukan kesalahan, aku telah memakan bagian dari pohon yang terlarang. Aku tidak bisa menyelamatkan selain diriku sendiri. Pergilah kalian kepada orang lain. Jikapun kalian mencari syafa’at maka datanglah kepada Nabi Nuh Alaihisalam.” Kemudian mereka pergi ke Nabi Nuh untuk meminta syafa’at, namun Nabi Nuh pun berkata hal yang sama seperti apa yang dikatakan oleh Nabi Adam. Mereka diperintahkan untuk datang kepada Nabi Ibrahim Alaihisalam, dan mereka mendapatkan jawaban yang serupa. Mereka terus mendatangi nabi-nabi berikutnya hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak menjawab seperti apa yang dikatakan nabi-nabi yang sebelumnya telah mereka datangi. Beliau bersujud kepada Allah di tahta Arsy, memuji Allah dengan puji-pujian yang luar biasa. Allah pun meminta Rasulullah untuk mengangkat kepalanya, Allah mengizinkan Rasulullah untuk memberikan syafa’at dan syafa’at itu diterima oleh Allah, serta Allah akanmengabulkan segala permintaan Rasulullah SAW. Maka karena itu Rasulullah memberikan syafa’atnya yang teragung untuk seluruh manusia. Dan itulah yang dinamakan dengan Al-Maqam Al-Mahmud.


Dikutip dari tausyiah Habib Ahmad bin Nouvel Jindan saat Dauroh dengan tema “Maulid Antara Bid’ah Atau Sunnah”

Maaf ya,saya gak maulidan

Tulisan ini di copas dari postingan di fb ber akun : Abu Rumaisha
Bergembira atas kelahiran Nabi atau bersuka ria atas kematian Nabi

Amalan yang tidak ada contoh sebelumnya itu jika diibaratkan dengan sebuah bangunan, dalam mendirikan bangunan tersebut kontraktornya tidak memiliki IMB (Izin Mendirikan Bangunan), yang mana sewaktu-waktu bangunan tersebut bisa dibongkar paksa oleh SATPOL PP, atau paling tidak disetop sementara pembangunannya sampai ada/terbit surat IMB-nya.


Dalam beribadah, sudah menjadi tradisi para bid'ah lover's dalam setiap mengerjakan ibadah, mereka tidak terlalu mementingkan dalil, yang penting beramal, pokoknya dalilnya apa kata kyai, bukan menurut Al Qur'an dan Sunnah dan praktek para shahabat radhiallahu 'anhu.


Seperti halnya perayaan B'Day Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, banyak dalih yang mereka utarakan, namun dalilnya cok gali cok, diantaranya ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang puasa pada hari senin, maka beliau menjawab "Itu adalah hari saya dilahirkan dan hari diturunkannya (wahyu) kepada-ku", dalil tersebutlah yang dijadikan para bid'ah mania untuk mengadakan perayaan B'Day Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Padahal dalil diatas tidak menunjukkan beliau sedang merayakan/memperingati hari kelahiran beliau, itulah akibatnya kalau membaca hadits sepotong-sepotong, karena ada hadits lain yang menunjukkan beliau tidak berpuasa pada hari senin saja, akan tetapi beliau juga berpuasa pada hari kamis, sebagaimana hadits yang dibawakan oleh Abu Hurairah radhiallahu 'anhu; "Amalan-amalan disodorkan setiap hari senin dan kamis, maka saya senang jika amalan saya disodorkan sedang saya dalam keadaan berpuasa." (HR. Tirmidzy no. 747)


Taruhlah kalau memang benar dalih diatas memang tepat sasaran, lalu kenapa mereka tidak berpuasa setiap pekan (senin) sebagai bentuk ittiba' mereka terhadap Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, kenapa juga dirayakannya setiap setahun sekali, itupun perayaannya tidak dilakukan secara serentak.


Untuk mempertegas dalih perayaan maulid, sampai-sampai dongeng sebelum tidur pun mereka bawakan, yakni kisah Abu Lahab laknatullah yang diringankan siksanya setiap malam senin hanya karena Abu Lahab bergembira atas kelahiran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dimalam tersebut.


Anggaplah kalau seorang Abu Lahab bergembira atas kelahiran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun ketahuilah kegembiraan tersebut karena tabiat manusia yang senang atas kelahiran seorang bayi, apalagi yang lahir tersebut adalah keponakannya sendiri. Seandainya seorang Abu Lahab mengetahui bayi yang lahir tersebut setelah besarnya bakal jadi musuh bagi agama nenek moyangnya, tentunya dia akan membunuh ponakannya tersebut.


Maka sunnguh aneh kalau mereka berdalih ikut bergembira atas kelahiran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, pertanyaannya; 'Memangnya orang yang merayakan perayaan B'Day Nabi tersebut sezaman dengan Abu Jahal laknatullah', bukankah idealnya yang merayakan dan orang yang dirayakan atas hari kelahiran tersebut sama-sama masih hidup (sezaman). Kalau begitu perayaan yang banyak dilakukan sebagian umat islam di bulan Rabi'ul Awwal ini bersuka cita atas lahirnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau bergembira atas wafatnya Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Fakta menunjukkan para ahli sejarah berbeda pendapat atas tanggal kelahiran Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun mereka bersepakat bahwa wafatnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tanggal 12 Rabi'ul Awwal. Maka sudah jelas perayaan yang ada sekarang ini bergembira atas wafatnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Itulah akibatnya kalau beribadah tanpa dilandasi dengan ilmu, ingin membuktikan rasa cinta kepada Nabi, ternyata malah sebaliknya meluapkan kegembiraan atas kematian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebenarnya yang mencetus ajaran bid'ah maulid adalah kelompok Bathiniyah, mereka menamakan diri sebagai Bani Fatimiyah (sekte syi'ah laknatullah) yang mengaku sebagai keturunan ahli bait. Maka pantaskah kita ikut melestarikan syi'ar orang-orang yang memusuhi keluarga dan shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Jika cintamu jujur tentu engkau akan mentaatinya...

Karena orang yang mencintai akan taat kepada orang yang dia cintai...




JAWABAN UNTUK TULISAN WAHABI SALAFI DI TAUTAN/ LINK YANG SAYA BAGIKAN INI :
ADA 2 PERMASALAHAN :
1. Mengenai pernyataan penulis :
Bergembira atas kelahiran Nabi atau bersuka ria atas kematian Nabi
Fakta menunjukkan para ahli sejarah berbeda pendapat atas tanggal kelahiran Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun mereka bersepakat bahwa wafatnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tanggal 12 Rabi'ul Awwal. Maka sudah jelas perayaan yang ada sekarang ini bergembira atas wafatnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Itulah akibatnya kalau beribadah tanpa dilandasi dengan ilmu, ingin membuktikan rasa cinta kepada Nabi, ternyata malah sebaliknya meluapkan kegembiraan atas kematian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
JAWABAN :
Jika timbul pertanyaan, perayaan maulid yang datangnya pada bulan Robi'ul Awwal, juga bertepatan dengan bulan wafat Rasulullah SAW, mengapa tidak ada luapan kesedihan atas wafatnya beliau?
الحاوي للفتاوي ـ للسيوطى - (ج 1 / ص 185)
أن ولادته صلى الله عليه وسلّم أعظم النعم علينا ووفاته أعظم المصائب لنا ، والشريعة حثت على إظهار شكر النعم والصبر والسكون والكتم عند المصائب ، وقد أثر الشرع بالعقيقة عند الولادة وهي إظهار شكر وفرح بالمولود ولم يأمر عند الموت بذبح ولا بغيره بل نهى عن النياحة وإظهار الجزع ، فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن في هذا الشهر إظهار الفرح بولادته صلى الله عليه وسلّم دون إظهار الحزن فيه بوفاته
: "Sesungguhnya Kelahiran Nabi SAW adalah kenikmatan terbesar untuk kita, sementara wafatnya beliau adalah musibah terbesar atas kita. Sedangkan syariat memerintahkan kita untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat dan bersabar serta diam dan merahasiakan atas cobaan yang menimpa. Terbukti agama memerintahkan untuk menyembelih kambing sebagai 'aqiqoh pada saat kelahiran anak, dan tidak memerintahkan menyembelih hewan pada saat kematian, maka kaidah syariat menunjukkan bahwa yang baik pada bulan ini adalah menampakkan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW bukan menampakkan kesusahan atas musibah yang menimpa".
(Kitab Al Hawiy lil Fatawa Karya Al Imam As Suyuthi)

2. Mengenai tulisan pada gambar yg di posting oleh penulis :

Maaf ya, saya gak mauludan. 4 Kholifah gak merayakan Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Nah saya lagi menggenggam teladan 4 khalifah itu aja koq.

JAWABAN :


Maaf Nabi Saw dan 4 Khalifah TIDAK MEMAKAI MUSHAF AL QURAN yang ada HARAKAT dan TITIKNYA !!!

Silahkan di genggam teladan 4 Khalifah !!!
Perhatikan kaidah At Tarku Laa Yantiju Hukman (Perkara yang tidak dilakukan itu tidak berimplikasi pada suatu hukum), maka tidak boleh sembrono mengatakan bahwa apa yang tidak dilakukan oleh Nabi SAW dan para Sahabat beliau maka tidak boleh pula dilakukan.... !! Ini Kesimpulan yang JAHIL tidak dilandaskan pada kaidah yang benar... !!!
SEMOGA BERMANFAAT......... !!!


Wallahu A'lam..............

Kamar Rasulullah Lebih Mulia Dari Ka’bah


Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah semoga Allah memberikan rahmat kepada beliau dalam kitabnya Bada'i al-Fawaid mengatakan:

Pada suatu hari ada seseorang bertanya kepada Imam Ibnu Aqil hafizhahullah, wahai tuan syaikh mana yang lebih utama (mulia) kamar Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa sallam atau Ka'bah? Imam Ibnu Aqil menjawab: "Jika yang dimaksud semata-mata kamar beliau, maka Ka'bah lebih utama (mulia). Dan apabila yang dikehendaki adalah kamar yang ada di dalamnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wa sallam, maka yang lebih mulia adalah kamar tersebut. Imam Ibnu Aqil menambahkan: "Demi Allah, tidaklah Arsy dan para malaikat yang memikulnya, tidak pula surga Adn, tidak juga planet lebih mulia dari kamar Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, lantaran di dalam kamar tersebut ada jasad yang seandainya ditimbang dengan alam semesta beserta isinya niscaya jasad beliau akan mengungguli semuanya.

Syaikh al-Qadhi Hasan Muhammad Massyath (wafat 1399 H) Rahimahullah mengatakan dalam kitab beliau Inaratud Duja Fi Maghazi Khair al-Wara halaman 775:
وقام الإجماع على أن هذا الموضع الذي ضم أعضاءه الشريفة صلى الله عليه وسلم
أفضل بقاع الأرض حتى الكعبة المشرفة، بل أفضل من بقاع السماء حتى العرش

Para Ulama telah sepakat bahwa :

" Bumi tempat jasad Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di Maqamkan,adalah tempat yang paling mulia di atas muka bumi. Bahkan kemuliaannya lebih utama dari Ka'bah al-Musyarrafah (yang dimuliakan)! Bahkan lebih mulia dari seluruh tempat yang ada dilangit, bahkan lebih mulia dari makhluk ciptaan Allah yang agung yaitu Arasy."


Ini tentang maqam Rasulullah, bagaimana dengan ruh dan jasad Rasulullah? jangan pernah lalai lisan kita untuk bershalawat kepada Rasulullah.


Sumber : Dikutip dari tulisan Khadimul Janabin Nabawi, H. Rizqi Zulqornain al-Batawi

Simak di: http://www.sarkub.com/

Sifat Rasulullah Saw sebagai Pendidik

Selain sebagai Nabi dan Rasul, Muhammad Saw adalah seorang pendidik. Sebagai seorang pendidik terbukti Rasulullah telah berhasil mengubah bangsa Arab yang bertabiat kasar menjadi rahib di malam hari, dan para penunggang kuda yang tangguh di siang harinya. Mereka satu sama lain saling mencintai, seperti kecintaan terhadap diri mereka sendiri. Mengutamakan orang lain melebihi dirinya, meski mereka sangat membutuhkannya. Sampai-sampai lawan dan kawan memberikan pengakuan atas perilaku agung mereka. Begitu juga Allah Swt, Dzat Yang Menciptakan mereka, telah menyematkan gelar “umat terbaik” yang dilahirkan untuk manusia; mereka senantiasa menegakkan kemakrufan, mencegah kemunkaran dan beriman kepada Alla Swt.

Kesuksesan Rasulullah dalam mendidik bangsa Arab, selain dengan strategi pendidikan yang jitu, tentu tidak lepas dari sifat-sifat teladan beliau sebagai seorang pendidik. Profesor Doktor Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, dalam kitabnya, “Dirasah Tahliliyah li Syakhsiyyah ar-Rasul Muhammad”, menjelaskan setidaknya ada delapan sifat Rasulullah yang harus jadi teladan para pendidik agar sukses dalam mendidik masyarakat.

Pertama, Kasih Sayang

Sifat ini wajib dimiliki oleh setiap pendidik. Karenanya, orang yang hatinya keras, tidak layak menjadi pendidik. Sebab, kasih sayang ini  merupakan perasaan sensitif yang secara otomatis bisa mendorong pendidik untuk tidak suka meringankan beban orang yang dididiknya.

Ketika membicarakan sifat-sifat Rasulullah saw, kita akan menyaksikan, bagaimana beliau memendekkan shalatnya ketika mendengar tangis anak kecil di belakang shaf (barisan), karena kasih sayang beliau kepada ibunya yang merasakan kepedihan tangis anaknya.

Kita juga bisa menyaksikan bagaimana beliau telah menerima penganiayaan orang-orang musyrik Makkah, dan di Thaif pun beliau mendapatkan hal yang sama, ketika beliau didatangi malaikat penunggu gunung agar diperintahkan untuk menghancur leburkan suku Tsaqif, yang telah menghina dan menganiaya beliau, maka perasaan kasih sayang yang memenuhi kalbu beliau, sang pendidik agung itu pun tergerak, kemudian beliau mengubah adzab dengan doa untuk mereka, “Semoga Allah melahirkan dari generasi mereka, orang yang menyembah-Nya.”
Anas bin Malik juga pernah berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang begitu menyayangi keluarganya, melebihi Rasulullah saw.”

Kedua, Sabar


Sabar adalah bekal setiap pendidik. Setiap pendidik yang tidak berbekal kesabaran, ibarat musafir yang melakukan perjalanan tanpa bekal. Bisa jadi dia akan celaka, atau kembali.

Jika kita menelusuri biografi sang pendidik agung, Nabi saw ini, kita akan melihat bahwa beliau merupakan lambang kesabaran yang patut dikibarkan, sabar terhadap penganiayaan kaumnya yang dilakukan terhadap tubuh beliau, juga penyiksaan mereka terhadap nyawa beliau, sampai urusan (yang beliau emban) itu nampak jelas di hadapan mereka, dan kecemerlangan tujuan beliau pun terlihat dengan jelas di depan mata mereka. Maka, kebencian mereka kepada beliau pun berubah menjadi cinta, dan penganiayaan mereka berubah menjadi kasih sayang.

Ketiga, Cerdas

Seorang pendidik harus pandai dan cerdas (fathanah), sehingga dia bisa menganalisis masalah obyek didiknya yang sangat rumit. Jika masalah tersebut baik, dia bisa menjadikannya sebagai cara terbaik bagi obyek didik tersebut untuk mengembangkannya. Dan jika masalah tersebut buruk, dia bisa memilih cara terbaik untuk menyelesaikannya. Dia juga bisa menganalisis apa yang relevan dan tidak dengan obyek didiknya. Dia juga bisa memahami emosi jiwanya dengan melihat raut mukanya. Juga bisa memahami perbedaan-perbedaan pribadi di antara mereka yang begitu rumit. Sebab, tugasnya adalah menyelami relung  jiwanya melalui perbedaan-perbedaan tersebut, atau memanfaatkannya dengan maksimal untuk mengarahkan tiap individu pada hal-hal yang bisa diraihnya.

Rasulullah saw sebagai utusan Allah swt telah dihujani oleh Allah dengan sifat kecerdasan sebagai fitrah asal beliau. Seluruh analisis yang menganalisis kepribadian Rasulullah saw dan para ulama ushuluddin telah sepakat bahwa Rasulullah saw secara pribadi, serta Rasul-rasul yang lain mempunyai sifat cerdas.

Keempat, Tawadhu


Seorang pendidik harus bersikap tawadhu kepada obyek didiknya. Sebab, kesombongannya hanya akan menambah jarak antara dirinya dengan obyek didiknya. Dan, ketika jarak tersebut semakin renggang, maka pengaruhnya akan hilang.

Rasulullah saw – sebagai penghulu para pendidik – adalah orang yang paling tawadhu, hingga begitu tawadhunya sampai ketika beliau bertemu anak-anak, beliaulah yang terlebih dulu mengucapkan salam kepada mereka. Hingga ketika salah seorang budak perempuan Madinah meraih tangan Rasulullah saw,  dia pun bisa menggapainya dengan sesuka hatinya. Bahkan, ketika beliau bertemu seorang lelaki, beliau pun menyalaminya, dan tidak melepaskan tangan beliau sampai lelaki itu melepaskan tangannya. Beliau juga tidak memalingkan mukanya sampai lelaki itu memalingkan mukanya. (bersambung ke bag-2/pernah dimuat dalam Buletin Al-Qalam)

[Shodiq Ramadhan]http://www.suara-islam.com

Translate

Instagram kami

Laman Facebook Kami

Galeri

DONASI

.