Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan

HAID, NIFAS & ISTIHADLOH


v HAID

* Definisi haid.
Arti lughowi        : Mengalir.
Arti syar’I            : Darah alami yang keluar dari ujung rahim pada saat sehat.
Keterangan:       
Darah yang keluar tidak secara alami bukan darah haid seperti darah yang keluar sebelum dan ketika melahirkan.

* Usia minimal.
Usiawanita haid   dimulai dari umur 9 tahun qamariyah taqribiyah.
Keterangan         
Tahun qamariyah adalah tahun Hijriyah, sedangkan taqribiyah artinya untuk dapat mengalami haid tidak harus berumur 9 tahun persis, jadi jika darah keluar pada umur 9 tahun kurang 15 hari misalnya (masa yang tidak cukup untuk haid dan suci), maka darah tersebut sudah dihukumi haid.

* Masa haid.
Minimal               : Sehari semalam atau 24 jam.
Kebanyakan         : 6 –7 hari.
Maksimal            : 15 hari.
Keterangan          :
• Darah yang keluar kurang dari 24 jam adalah darah  istihadloh.
 • Darah yang keluar lebih dari 15 hari adalah darah haid yang bercampur dengan darah istihadloh, maka harus diteliti lagi dengan mempelajari tujuh gambaran perempuan mustahadloh yang akan dijelaskan.

* Masa suci antara dua haid.
Minimal               : 15 hari.
Kebanyakan         : Sisa hari-hari haid dalam sebulan (23/24).
Maksimal            : Tidak terbatas.
Keterangan          :
Jika haid kedua datang sebelum masa suci sempurna 15 hari, maka darah itu bukanlah darah haid, wanita tersebut tetap dihukumi suci sampai sempurnanya masa suci 15 hari.Jika setelah masa suci sempurna darah tetap keluar, maka darah yang terakhir ini adalah haid.



* Tanda berhentinya haid.
Suci dapat diketahui dengan memasukkan kapas ke Mrs.V. Jika tidak nampak bercak pada kapas berupa darah maupun warna kuning atau keruh maka haid telah usai.

* Warna darah haid.
Warna haid          : Hitam, merah, merah kekuning-kuningan, kuning dan keruh.
Keterangan          : Ulama’ berbeda pendapat pada warna kuning dan keruh.Pendapat yang mu’tamad menyatakan haid.
Imam Al-Juwaini menjelaskan, “Kedua warna itu bukanlah darah melainkan cairan seperti nanah yang diatasnya ada warna kuning atau keruh”.

* Penting      : Penentuan masa haid, masa suci dan semua hukum-hukum yang berhubungan dengan haid adalah hasil penelitian Imam Syafi’i terhadap para wanita di zamannya, kemudian beliau rumuskan riset tersebut dengan dalil-dalil Alqur’an dan hadits sehingga timbullah ide-ide mengenai hukum-hukum haid.
Oleh karena itu, jika terjadi kebiasaan darah yang berbeda dengan ketentuan di atas pada seorang wanita atau para wanita di suatu daerah, maka kebiasaan tersebut tidak bisa mempengaruhi hukum haid yang telah ditentukan.Lebih baik menghukumi darah mereka sebagai darah fasad (penyakit), daripada harus merusak kaedah yang telah baku, karena penelitian ulama’ terdahulu tentu lebih sempurna.
* Yang harus dilakukan ketika melihat darah.
Setiap melihat darah seorang wanita harus langsung meninggalkan larangan-larangan haid tanpa menunggu 24 jam. Selanjutnya,  jika darah tersebut berhenti sebelum mencapai 24 jam maka dia harus menqodlo’ sholat yang dia tinggalkan karena terbukti ini bukan haid.
Kemudian jika darah tersebut keluar lagi sebelum 15 hari maka dia harus meninggalkan lagi larangan-larangan haid.Begitu seterusnya.
Adapun jika darah tersebut berhenti setelah mencapai 24 jam maka jelaslah bahwa ini haid. Dan saat ini dia wajib mandi, sholat, puasa (di bulan Ramadhan) dan boleh baginya bersetubuh dengan suaminya karena darah sudah berhenti.
Jika kemudian darah tersebut keluar lagi sebelum lewat 15 hari jelaslah sudah bahwa ibadah yang dia lakukan tadi tidak sah karena ternyata dia masih haid.
Namun dia tidak berdosa dengan persetubuhan yang telah dia lakukan, karena saat melakukannya secara dhohir dia telah suci.
Demikianlah yang harus dilakukan wanita haid jika darahnya datang terputus-putus selama tidak melebihi 15 hari.


v NIFAS
* Definisi nifas.
Arti lughowi        : Melahirkan.
Arti syar’I            : Darah yang keluar setelah kosongnya rahim dari janin.
Keterangan          :
-          Darah yang keluar setelah keguguran juga dihukumi nifas jika ada persaksian dari para bidan bayi bahwa gumpalan darah atau daging yang keluar itu adalah bakal manusia.
-          Wanita yang melahirkan bayi kembar dapat mengalami nifas jika semua janin yang dikandungnya telah keluar.
-          Darah yang keluar di antara bayi pertama dan kedua disebut haid jika memenuhi syarat-syarat haid.

* Masa nifas.
Minimal               : sebentar.
Kebanyakan         : 40 hari.
Maksimal            : 60 hari.
Keterangan          :
1. Untuk bisa dikatakan nifas disyaratkan:
Tidak ada sela 15 hari atau lebih antara melahirkan dan keluarnya darah nifas. Karena jika terjadi sela 15 hari maka darah yang datang setelah 15 hari tidak lagi disebut darah nifas melainkan darah haid jika memenuhi syarat-syarat haid
Jika nifas tersebut keluar dengan terputus-putus juga disyaratkan tidak ada sela 15 hari atau lebih antara darah pertama dan darah kedua.
  2. Hukum nifas dimulai sejak keluarnya darah, sedangkan hitungan 60 hari dimulai sejak melahirkan. Jika setelah melahirkan tidak langsung keluar darah maka perempuan tersebut suci dan wajib melaksanakan perintah-perintah syari’at.

* Suci antara haid dan nifas.
Antara haid dan nifas    : Tidak ada batas suci.
Antara nifas dan haid    :
• Cukup sela sebentar, jika darah nifas telah mencapai 60 hari atau menjadi sempurna 60 hari dengan suci tersebut.
   • 15 hari, jika darah nifas belum mencapai 60 hari dan suci tersebut tidak menyempurnakan 60 hari.

* Larangan-larangan untuk orang haid dan nifas.
Ada 11 larangan  :
Sholat, thawaf, membawa dan menyentuh mushaf, berdiam di masjid atau sekedar mondar mandir di dalamnya, membaca Alqur’an dengan niat tilawah (niat mencari pahala dengan bacaan tersebut), puasa, cerai, lewat di dalam masjid jika dikuatirkan mengotori, bersentuhan atau bersenang-senang dengan bagian antara lutut dan pusar dan bersuci dengan niat ibadah.
ü ISTIHADLOH
* Definisi istihadloh.
Istihadloh             : Darah yang keluar di selain masa-masa haid dan nifas.
Keterangan          :
1. Ulama’ telah melakukan penelitian seputar darah wanita dan mereka hanya menemukan tiga jenis darah saja, yaitu : haid, nifas dan istihadloh. Karenanya, jika seorang wanita melihat darah yang tidak memenuhi syarat-syarat haid dan nifas maka darah tersebut adalah istihadloh.
 2. Istihahdloh adalah istilah untuk darah, sedangkan wanita yang mengalami istihadloh disebut mustahadloh.

* 2 macam istihadloh.
Sebelum haid-nifas       : Hukumnya jelas dan tidak perlu dihubungkan dengan tujuh gambaran wanita mustahadloh.
Setelah haid-nifas         : Perlu dihubungkan dengan tujuh gambaran wanita mustahadloh untuk mengetahui mana darah istihadloh dan mana yang bukan.

* Beberapa istilah dalam istihadloh.
Ihtiyath                : Sebelum bersuci seorang mustahadloh harus beristinjak (membersihkan darah dari kemaluan) kemudian menyumbat kemaluan tersebut dengan kapas atau kain, setelah itu ditutup dengan pembalut baru kemudian berwudlu’.
                             Bersuci dan ihtiyath tidak boleh dilakukan sebelum masuknya waktu shalat, karena wudlu tersebut adalah wudlu’ darurat dan sebelum masuknya waktu tidak bisa disebut darurat.
Darah kuat           : Darah yang berwarna gelap lebih kuat dari darah yang berwarna terang.
                             Darah yang berbau busuk menyengat lebih kuat daripada yang tidak demikian.
                             Darah yang kental lebih kuat daripada darah yang encer.
Adat                     : Kebiasaan sebelum istihadloh mencakup: Kebiasaan mulai haid, kebiasaan lama haid, kebiasaan berhenti dan kebiasaan suci.

* TUJUH GAMBARAN MUSTAHADLOH DALAM HAID.
v Mubtada’ah mumayyizah.
Mubtadaah           : Baru pertama keluar darah.
Mumayyizah       : Melihat darah dengan dua sifat atau lebih (kuat dan lemah).
Hukum                 : Darah yang kuat disebut haid dan darah yang lemah disebut istihadloh.

Syarat-syarat tamyiz.   
Seorang wanita disebut Mumayyizah (bisa membedakan ) jika :
1.     Darah kuat tidak kurang dari 24 jam.
2.     Darah kuat tidak lebih dari 15 hari.
3.     Darah lemah tidak kurang dari 15 hari (disyaratkan jika darahnya keluar terus).
4.     Darah lemah keluarnya tidak terputus-putus.

v Mubtada’ah ghoiru mumayyizah.
Mubtada’ah                   : Baru pertama melihat darah.
Ghoiru mumayyizah     : Melihat darah dengan satu sifat atau dua sifat tetapi tidak memenuhi syarat tamyiz.
Hukum                 : Haidnya cuma sehari semalam dan sucinya 29 hari.

v Mu’tadah mumayyizah.
Mu’tadah             : Pernah mengalami haid dan suci.
Mumayyizah       : Melihat darah dengan dua sifat atau lebih (kuat dan lemah).
Hukum                 : Terdapat dua pendapat, yang mu’tamad adalah, darah kuat dihukumi haid dan darah yang lemah disebut istihadloh. Sedangkan pendapat kedua mengatakan, haid dan sucinya disesuaikan dengan kebiasaan sebelum istihadloh.

v Mu’tadah ghoiru mumayyizah.
Mu’tadah             : Pernah mengalami haid dan suci.
Ghoiru mumayyizah         : Melihat darah dengan satu sifat atau dua sifat tetapi tidak memenuhi syarat tamyiz.
Hukum                 : Haid dan sucinya disesuaikan dengan adat sebelum istihadloh.
v Mutahayyiroh muthlaqoh.
Mutahayyiroh      : Mu’tadah ghoiru mumayyizah yang lupa dengan adatnya sehingga ketika haid dan sucinya disesuaikan dengan kebiasaannya dia menjadi bingung, apakah sekarang ini masa haid atau masa suci.
Muthlaqoh           : Dia lupa sama sekali lama adatnya maupun waktunya
Hukum                 : Selalu ada kemungkinan haid, suci dan berhenti haid.
Konsekwensi       :
-       Selalu melakukan ihtiyath yaitu, wajib sholat dan puasa namun haram bersetubuh dengan suaminya karena ada kemungkinan haid.
-          Setiap hendak mengerjakan sholat wajib mandi karena ada kemungkinan berhenti dari haid. Kecuali jika dia ingat pada jam berapa biasanya berhenti haid.
-          Dalam mengerjakan puasa Ramadhan dia harus berpuasa dengan cara khusus. Yaitu pada bulan Ramadhan berpuasa sebulan penuh, setelah hari raya berpuasa lagi 30 hari, kemudian berpuasa lagi enam hari di dalam delapan belas hari yaitu di hari pertama, kedua, ketiga, ke-16, ke-17 dan ke-18.
-          Perlu diketahui bahwa setiap satu bulan puasa yang bisa dipastikan sah hanya 14 hari saja (dengan perkiraan haidnya 15 hari dimulai dan berakhir pada siang hari) dengan demikian dalam dua bulan puasa yang diyakini sah hanya 28 hari, dan untuk melengkapi kekurangan 2 hari dilakukan puasa enam hari seperti cara di atas.

v Mutahayyiroh dzakiroh lil waqt nasiyah lil ‘adad.
Mutahayyiroh      : Mu’tadah ghoiru mumayyizah yang lupa dengan adatnya.
Dzakiroh lil waqt : Ingat dengan waktu adatnya.
Nasiyah lil ‘adad : Lupa dengan lama adatnya.
Contoh                 : Seorang mustahadloh haid mengatakan, “Haidku biasanya mulai tanggal 1 setiap bulan namun aku lupa sampai berapa hari”.
Hukum                 : Hari pertama pada setiap bulan adalah haid dengan yakin, sedangkan hari kedua sampai hari ke-15 selalu dalam kemungkinan haid, suci dan berhenti haid. Mulai hari ke-16 sampai akhir bulan adalah suci.
Konsekwensi       : Pada hari dimana dia yakin haid harus meninggalkan larangan-larangan haid dan di hari yang diyakini suci harus mengerjakan kewajiban-kewajiban orang yang suci. Sedangkan hari yang ada kemungkinan haid dan suci harus melakukan ihtiyath.

v Mutahayyiroh nasiyah lil waqt dzakiroh lil ‘adad.
Mutahayyiroh      : Mu’tadah ghoiru mumayyizah yang lupa dengan adatnya.
Nasiyah lil waqt  : Lupa dengan waktu adatnya.
Dzakiroh lil ‘adad         : Ingat dengan lama adatnya.
Contoh                 : Seorang mustahadloh haid mengatakan, “Haidku 5 hari dalam 10 hari pertama dan aku ingat pada hari pertama aku pasti suci”.
Hukum                 : Hari pertama dan 20 hari terakhir setiap bulan adalah yakin suci. Hari keenam adalah haid dengan yakin.Sedangkan mulai hari kedua sampai hari keempat adalah haid masykuk (diragukan) dan hari ketujuh sampai hari kesepuluh adalah suci masykuk.
Konsekwensi       : Pada hari yang diyakini suci harus mengerjakan kewajiban-kewajiban orang yang suci begitu pula pada hari yang diyakini haid harus meninggalkan larangan haid. Sedangkan hari yang ada kemungkinan haid dan suci harus melakukan ihtiyath, namun pada hari-hari haid masykuk tidak wajib mandi untuk setiap sholat fardlu dan pada hari-hari suci masykuk diwajibkan mandi untuk setiap sholat fardlu.




* TUJUH GAMBARAN MUSTAHADLOH  DALAM NIFAS.
v Mubtada’ah mumayyizah.
Mubtada’ah         : Baru pertama mengalami nifas.
Mumayyizah       : Melihat darah dengan dua sifat atau lebih (kuat dan lemah).
Hukum                 : Darah yang kuat adalah nifas dengan syarat tidak melebihi 60 hari dan darah yang lemah adalah istihadloh.

v Mubtada’ah ghoiru mumayyizah.
Mubtada’ah         : Baru pertama melihat darah.
Ghoiru mumayyizah     : Melihat darah dengan satu sifat atau dua sifat tetapi darah yang kuat melebihi 60 hari.
Hukum                 : Nifasnya cuma sebentar, kemudian suci sebagaimana adatnya dalam suci dan haid sebagaimana adatnya dalam haid. Namun jika dia tidak pernah haid sebelumnya maka setelah nifas sebentar tersebut suci 29 hari dan haid sehari semalam, demikian seterusnya.
v Mu’tadah mumayyizah.
Mu’tadah             : Pernah mengalami nifas.
Mumayyizah       : Melihat darah dengan dua sifat atau lebih (kuat dan lemah).
Hukum                 : Darah yang kuat adalah nifas dengan syarat tidak melebihi 60 hari dan darah yang lemah adalah istihadloh.

v Mu’tadah ghoiru mumayyizah.
Mu’tadah             : Pernah mengalami nifas.
Ghoiru mumayyizah     : Melihat darah dengan satu sifat atau dua sifat tetapi darah yang kuat melebihi 60 hari.
Hukum                 : Nifas sebagaimana adatnya dalam nifas, kemudian suci sebagaimana adatnya dan haid sebagaimana adatnya. Namun jika dia tidak pernah haid sebelumnya (mubtada’ah dalam haid) maka setelah nifas sebentar tersebut suci 29 hari dan haid sehari semalam demikian seterusnya.
v Mutahayyiroh muthlaqoh.
Mutahayyiroh      : Mu’tadah ghoiru mumayyizah yang lupa dengan adat kebiasaannya sehingga ketika nifasnya dikembalikan pada adatnya dia menjadi bingung karena dia lupa berapa adatnya.
Muthlaqoh           : Baik lama kebiasaan maupun waktunya dia lupa sama sekali.
Hukum                 : Karena dia tidak tahu lama nifasnya maka permulaan siklus haidnya tidak dapat ditebak dan sekarang dia selalu dalam kemungkinan haid, suci dan terputus dari haid.
Konsekwensi       : Selalu melakukan ihtiyath yaitu, wajib sholat dan puasa namun haram bersetubuh dengan suaminya karena ada kemungkinan haid dan wajib mandi setiap hendak mengerjakan sholat. Kecuali jika dia ingat pada jam berapa biasanya berhenti haid.

v Mutahayyiroh dzakiroh lil waqt nasiyah lil ‘adad.
Mutahayyiroh      : Mu’tadah ghoiru mumayyizah yang lupa dengan adat kebiasaannya.
Dzakiroh lil waqt : Ingat dengan waktu adatnya.
Nasiyah lil ‘adad : Lupa dengan lama adatnya.
Contoh                 : Seorang mustahadloh nifas yang darahnya telah melebihi 60 hari berkata, “Nifasku biasanya datang setelah lewat lima hari dari melahirkan tapi aku lupa berapa lamanya”.
Hukum                 : Masa sebentar di hari kelima adalah nifas dan setelah itu ada kemungkinan terputus.
Konsekwensi       : Wajib mandi setiap hendak mengerjakan sholat dan selalu melakukan ihtiyath.

v Mutahayyiroh nasiyah lil waqt dzakiroh lil ‘adad.
Mutahayyiroh      : Mu’tadah ghoiru mumayyizah yang lupa dengan adat nya.
Nasiyah lil waqt  : Lupa dengan waktu adatnya.
Dzakiroh lil ‘adad: Ingat dengan lama adatnya.
Contoh                 : Seorang mustahadloh nifas yang darahnya telah melebihi 60 hari berkata, “Nifasku biasanya 10 hari tapi aku tidak ingat apakah dimulai tepat setelah melahirkan atau sebelum lewat 15 hari”.
Hukum                 : 10 hari setelah melahirkan adalah nifas masykuk (diragukan), dan mulai hari ke-11 sampai hari ke-24 adalah suci masykuk, hari ke-25 yakin suci, dari hari ke-26 dan seterusnya adalah haid masykuk sebagaimana adat haidnya, kemudian suci masykuk sebagaimana adat sucinya, demikianlah seterusnya. Jika wanita tersebut belum pernah haid (mubtada’ah dalam haid) maka hari ke-26 adalah haid masykuk sehari semalam kemudian suci masykuk 29 hari dan demikian seterusnya.




Kisah Wanita-Wanita yang Saleh






Ahmad bin Abdullah bin Husein bin Tohir bercerita kepadaku, “Sekali waktu aku pergi ke rumah saudara perempuanku, Nur. Dia berkata, “Wahai Ahmad, tolong ambilkan gula dan biji kopi”. Aku naik ke atas loteng, tapi di sana tidak kutemukan apa-apa. Aku kembali menemuinya, “Perempuan tua anak Abdullah bin Husein, kau membohongiku”. Ia menjawab, “Wahai anak ibumu, naik dan lihatlah!” Aku sekali lagi naik ke atas loteng dan tidak menemukan apa-apa. Dia lalu naik ke loteng bersamaku dan membuka lemari, tempat gula dan biji kopi yang tadi kosong, ternyata sekarang telah penuh.
Nur pernah berkata kepadaku, “Aku mendengar seruan Allah di akhir malam: Bangunlah, mintalah apa saja yang kau inginkan, kebutuhan dunia maupun agama, Aku akan memberimu saat ini juga”. Ayah beliau, Habib Abdullah bin Husein memberinya wasiat:

Wahai Nur,
jika kau menginginkan nur,
dan hati makmur,
dada lapang dan bahagia,
taatlah selalu kepada Allah.
Ahmad bin Abdullah juga bercerita, “Suatu hari aku duduk bersama Nur. Ketika masuk waktu salat, ia bertanya, “Dimana arah kiblat?” Dengan maksud bercanda, aku menunjuk arah lain, bukan arah kiblat. Ketika ia mulai mengangkat tangannya hendak bertakbir, ia berkata, “Arah kiblatnya bukan ke situ. Kau pikir aku tidak tahu arah kiblat. Demi Allah, aku tidak mengucapkan takbiratul ihram, kecuali setelah benar-benar melihat ka’bah”.
Suatu hari aku berkunjung ke rumah Hababah Nur bersama beberapa orang sahabatku. Hababah Nur berpesan, “Wahai keluargaku, curahkan perhatianmu pada ilmu Fiqih, sebab dengan ilmu Fiqih-lah syariat suci ini akan dapat tegak. Namun masyarakat telah meninggalkan ilmu Fiqih. Padahal ilmu fiqih merupakan inti (agama). Allah…Allah dalam Fiqih, ketahuilah ilmu ini akan hilang.
Dan kau (wahai Ali), hendak pergi ke Tarim, bukan? Jadikanlah semua topik ceramahmu tentang wara’, juga masalah halal dan haram. Sebab, semua yang haram telah tersebar merata dan sikap wara’ telah meninggalkan lembah ini. Anjurkanlah mereka untuk bersikap wara’ dan meninggalkan semua yang syubhat. Ketahuilah, makanan haram akan melemahkan hati”.
Perhatikan generasi dahulu, para wanitanya banyak yang saleh. Hababah Nur ini hidup di zamanku. Dikatakan bahwa: “Betapa banyak rambut terurai (wanita) lebih baik dari jenggot (pria)” Ibu Habib Abdullah bin Husein bin Tohir lebih agung lagi. Beliau adalah Hababah Syeikhoh binti Abdullah bin Yahya. Dari pasangan suami istri ini lahir Husein, Tohir, Abdullah dan Khodijah. Khodijah adalah ibu Habib Abdullah bin Umar bin Yahya.
Suatu hari Habib Abdulkadir bin Muhammad Al-Habsyi yang tinggal di Ghurfah mengunjungi para Habaib yang tinggal di kota Masileh. Mereka semua merasa senang dengan kedatangannya. Orang-orang mengatakan bahwa beliau gemar bermujahadah yang berat-berat, dan berulang kali melakukan arbainiyah (khalwat selama 40 hari). Selama dua puluh tahun beliau tidak minum air. Habib Tohir dan Habib Abdullah melaporkan hal ini kepada ibunya, “Wahai ibu, Habib Abdulkadir ini amalnya begini dan begini. Telah dua puluh tahun beliau tidak minum air”.
“Dia lelaki yang baik, perbuatannya baik, dan apa yang telah disifatkan oleh orang-orang tentang dirinya sangat baik. Ambilkanlah sebuah teko lalu penuhilah dengan air”, perintah ibunya. “Berikan teko ini kepadanya dan katakan: ibu kami mengucapkan salam dan berpesan agar kau meminum air ini sebagaimana kakekmu Muhammad saw meminumnya. Keutamaan kaum sholihin terletak pada kemampuannya meninggalkan larangan. Apakah selama dua puluh tahun ini engkau tidak mengerjakan yang makruh; apakah tidak pernah terlintas di hatimu untuk melakukannya? Kalau sekedar ibadah, para wanita tua pun dapat melakukannya. Demikian pesan ibu mereka setelah diambilkan teko yang penuh air.
“Kami tidak berani bersikap kurang ajar kepadanya, Bu”. “Berikan teko ini lalu sampaikan pesanku kepadanya jika kalian menginginkan kebaikan dan keberkahan”. Mereka berdua lalu menemui Habib Abdulkadir dan menyampaikan pesan ibunya. “Benar, ibumu benar. Sungguh dia adalah seorang murabbiyah (pendidik) yang baik. Sungguh beliau sebaik-baik muaddibah (pendidik). Sungguh baik ucapannya. Bawa sini air itu”, jawab Habib Abdulkadir. Setelah teko Itu beralih ke tangannya, beliau pun segera meminum airnya. (N:102-105)
Suatu hari aku dan Ahmad Ali Makarim berjalan-jalan di kota Bur. Kami berbincang-bincang tentang masalah nafs. Jauh dari situ ada beberapa wanita sedang mencari kayu di tepi sungai yang sudah kering. Tiba-tiba salah seorang dari wanita-wanita itu mendatangi kami dan berkata, “Tidak ada yang merintangi manusia dari Tuhannya kecuali nafs”. Kami berkata kepadanya, “Kau benar, Allah telah memuliakanmu dengan hikmah”. Wanita itu kemudian pergi untuk bergabung kembali dengan teman-temannya. Rupanya pembicaraan kami di-kasyf oleh wanita tadi. (N:235)
Sholeh bin Nukh berkata kepadaku, “Wahai Habib Ali, aku memiliki anak perempuan yang saleh”. “Bagaimana kau tahu dia seorang saleh?” “Aku pernah bertanya kepadanya, “Senangkah kau jika ada seseorang yang memberimu satu peti perhiasan?” Dia menjawab, “Wahai ayah, apakah perhiasan ini dapat menyenangkan hati seseorang? Perhiasan hanya akan melukai hati”. Aku bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika kau dapat melihat Allah Yang Maha Mulia?” Mendengar ucapanku ini, ia terjatuh dan menangis selama tiga hari. Apakah ia seorang wanita saleh?”
“Ya, dia adalah seorang wanita yang saleh…sungguh-sungguh wanita yang saleh?” Salim bin Abubakar (bin Abdullah Alatas) berkata kepadaku, “Aku pernah mendengar Sholeh bin Nukh dan anak perempuannya berdzikir kepada Allah berdua di rumahnya, suara mereka seakan-akan suara 100 orang”. (N:463-464)

Simak di: http://www.sarkub.com/2012/kisah-wanita-wanita-yang-saleh/#ixzz2nPEgl7Er

Wanita Yang Meminang Suaminya, Kepada Tuhannya


pasangan-hidupDahulu, terdapat seorang wanita, yang sangat mencintai suaminya, dengan sepenuh hati dan jiwanya. Ia sangat kawatir, jika kelak seumpama Allah Ta’ala memasukkan ia ke surga, tetapi suaminya tidak berada di sana, sebagaimana saat ini ketika di dunia, ia ditaqdir Allah menjadi istrinya.
Wanita ini adalah Ummi Darda’, istri dari sahabat agung Abu Darda’ radliyallahu’anhuma. Abu Darda’ adalah sahabat agung yang dijuluki sebagai Orang bijaksana ummat ini (hakimu hadzal ummah), juga dijuluki sebagai tuannya ahli qiroah negara Damaskus.

Suatu ketika, Ummu Darda’ berdoa dan bertawajjuh kepada Allah Ta’ala dengan doa;
“Ya Allah, Abu Darda’ telah meminangku dan menikahiku di dunia ini. Oleh karena itu Ya Allah, saat ini aku meminangya, dan aku memintanya kepada-Mu, agar kelak ia menjadi suamiku ketika di surga”.
Ternyata doa yang dipanjatkan oleh Ummu Darda’ ini, didengar juga oleh suaminya, yaitu sahabat Abu Darda’ radliyallahu’anh. Mendengar doa istrinya yang demikian, beliau berkata;
“Jika engkau menginginkan hal yang demikian, maka jangan menikah lagi dengan orang lain, jika aku meninggal lebih dahulu”.
Tidak berselang lama, sahabat agung Abu Darda’ radliyallahu’anh dipanggil oleh Allah Ta’ala untuk menghadap-Nya.
Ketika ditinggal wafat oleh suaminya, Ummi Darda’ adalah seorang wanita yang masih terhitung muda dan sangat cantik. Maka tidak aneh, jika sahabat Muawwiyah radliyallahu’anh, meminangnya.
Mendapat pinangan dari sahabat Muawwiyyah, Ummu Darda’ berkata; “Tidak, demi Allah…aku tidak akan menikah lagi di dunia ini, sehingga kelak Allah menikahkanku dengan Abu Darda’ surga-Nya”.
Beginilah yang disebut cinta sejati kawan…..dan beginilah yang disebut menepati janji.
Sumber : Ditulis oleh Dr Kang As'ad, M Kub

Simak di: http://www.sarkub.com/2013/wanita-yang-meminang-suaminya-kepada-tuhannya/#ixzz2nPDqDyPb

Translate

Instagram kami

Laman Facebook Kami

Galeri

DONASI

.