Tampilkan postingan dengan label Manaqib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manaqib. Tampilkan semua postingan

Dzikir Ismu Dzat


Suatu kali Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliki sedang menyaksikan olahraga gulat di televisi. Nampak di sekelilingnya beberapa tamu yang ikut menyaksikan. Di tengah majelis tersebut, beliau terkekeh menyaksikan siaran kegemaran beliau tersebut.

Tanpa disadari, seorang tamu berbisik dalam hatinya, “Bagaimana sih beliau ini, seorang ulama’ kok ketawanya sampai gitu…” Sontak, hal tersebut “terdeteksi” oleh lautan kasyaf beliau, Abuya, dan tanpa disadari oleh tamu tersebut, beliau meraih kepala tamu tersebut dan menempelkannya ke dada beliau.

Subhanallah, apa yang terjadi? Tamu tersebut mendengar lantunan zikir Ismu Dzat (Alloh, Alloh, Alloh) dari dada suci Abuya. Tampak malu dengan hal tersebut, kemudian sang tamu meminta maaf secara khusus kepada beliau.

Kisah riwayat dari Al Habib Abdullah Ibn Umar Assegaf Yogyakarta dan InsyaaAlloh pernah juga dimuat di majalah Alkisah.

www.shofwatuna.org

Inilah Akhlak Salafush Shalih

Alhabib Abu Bakar Adni berceita, "Ketika Alhabib Abdul Qadir ibn Ahmad Assegaf mengajar di Ashar bulan Ramadhan pada tahun 1407 H/ 1408 H, kita duduk dan Alhabib Abdul Qadir mengajar.

Selesai mengajar, tiba-tiba saja muncul seseorang dari golongan mereka lalu berdiri dan mencaci-maki Alhabib Abdul Qadir didepan kita semua. Waktu orang ini berdiri, dia mencaci-maki Alhabib Abdul-Qadir, mencaci-maki daripada orang tua kita, mencaci-maki daripada kitab yang kita baca pada saat itu dan orang ini juga mencaci-maki qasidah yang kita baca.

 Kemudian orang tersebut mengatakan, "Orang ini (maksudnya Alhabib Abdul Qadir) tidak mau shalat berjamaah di masjid kami, orang ini jelas-jelas munafik."
Dan ketika orang tersebut berbicara seperti itu, ada kurang lebih 200 orang dari Ahlul Bayt Nabiy shallallâhu alaihi wa sallam yang duduk yang mendengar ucapan itu dan masih banyak orang-orang lainnya yang kita tidak bisa berbuat apa-apa tatkala orang berbuat seperti itu.

 Setelah orang itu berdiri, berbicara yang begitu ngerinya dan ia pun duduk. Lalu Alhabib Abdul Qadir hanya mengatakan, "Barakallahu fiik wa jazakallah kheir, wa rattabal-fâtihah wa khatama/ Terimakasih banyak mudah-mudahan Allahu ta'âlâ membalas kamu dengan balasan yang sebagus-bagusnya, kemudian Alhabib Abdul Qadir ratibul-fatihah dan membubarkan majelisnya.

 Saya (Alhabib Abu Bakar Adni) lihat bahwa Alhabib Abdul Qadir tidak marah sama sekali, tidak membalasnya sama sekali dan tidak berbuat apa-apa sama sekali. Bahkan saya lihat wajahnya pun tidak berubah, justeru yang saya lihat beliau hanya menundukkan pandangannya ke bawah. Masya Allah Tabarakallah!!

*Sekelumit kisah yang saya dengar disaat bersama Alhabib Abu Bakar Adni Al Masyhur di Jabal Tawangmangu, Surakarta. Pada hari Kamis, 28 Mei 2015. To Be Continue ...
follow twitter @muhsinbsy/@layarpublishing
12 Sya'ban 1436 H/ 30 Mei 2015 M
Mohon Disebarluaskan!

MENGENAL LEBIH DEKAT

Al Habib Abubakar Adni Al Masyhur. (Cendekiawan Muslim Dari Yaman)
Dilahirkan di kota Ahwar pada tahun 1366 H. Dari keluarga yang cinta ilmu dan dakwah, sehingga sejak beliau masih belia kedua orang tuanya telah membuatnya hafal al-Quran. Beliau belajar pada para ulama yang berada di kawasan Hadramaut, seperti Ahwar, Aden, dan sekitarnya.

Sejak berumur empat belas tahun beliau telah dilatih oleh ayahnya untuk berdakwah, beliau bercerita bahwa diusia yang cukup muda itu sang ayah telah memerintahnya untuk membuat konsep khutbah jumat, setelah itu dibaca didepan sang ayah sebelum akhirnya disampaikan di mimbar.
Disamping belajar pada para ulama secara tradisional beliau juga belajar di sekolah hingga lulus dari Universitas Aden jurusan tarbiah.

Dimasa remaja, beliau menyaksikan intimedasi dan tekanan yang dilakukan oleh pemeritahan komunis pada rakyat Yaman terutama pada para tokoh dan ulama, termasuk pada keluarga beliau. Hal ini membuat beliau keluar dari tanah kelahirannya menuju Saudi Arabia, kejadian itu beliau tulis dalam sebuah karya sastera yang berjudul "al-khuruj min dairatul hamra."

Sesampainya di hijaz beliau diperintahkan oleh sang ayah untuk menjadi Imam disalah satu masjid di kota Jiddah sekaligus sebagai khotib dan guru. Mula-mula beliau ingin melanjutkan studinya ke al-Azhar, Mesir. Namun orang tua beliau kurang berkenan dan bahkan menganjurkan untuk belajar pada al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf.

Rupanya al-Habib Abdul Qadir membuat beliau terlena dalam samudera ilmu dan makrifah sehingga keinginan beliau untuk kemesir menjadi sirna. Dalam masalah ini beliau bercerita “keinginanku untuk belajar kemesir menjadi lenyap setelah aku berjumpa dengan al-Habib Abdul Qadir, sebab tujuan dan keinginanku telah ku jumpai di kota ini, sesuatu yang ku temukan pada diri al-Habib Abdulqadir adalah luasnya masyhad, ilmu yang memadai, kejernihan akal, dan kesungguhan orientasi serta akhlak nubuwah yang sempurna”.

"SHOLLU ALAN NABI MUHAMMAD"

Alhabib Syech bin Achmad bin Abdullah Bafagih Botoputih Surabaya

Sekelumit tentang Alhabib Syeh bin Ahmad bin Abdullah Bafaqih yg terkenal dengan sebutan Habib Syeh Botoputih Surabaya karena beliau dimakamkan di pemakaman Botoputih,tepatnya dari Area Sunan Ampel 200 meter ke arah selatan di timur jalan ada Langgar sentono Botoputih yang merupakan pintu gerbang masuk ke area pesarean atau pemakaman Botoputih,


                                         Pintu gerbang menuju pesarean Botoputih Surabaya



      Pesarean Alhabib Syeh dan Adiknya Alhabib Muhammad bin Achmad bin Abdullah Bafagih

Acara peringatan Haul alhabibain Alhabib Syeh dan adiknya Alhabib Muhammad bin Achmad bin Abdullah Bafaqih diadakan tiap tahun tepat hari kamis kedua di bulan syawal (hari Ahad lusa nya acara Haul Alhabib Sholeh Tanggul Jember).

Apakah Alhabib Syeh Botoputih mempunyai keturunan ?

Perlu diinformasikan bahwa Alhabib Syech bin Achmad Bafagih, Botoputih, Surabaya, mempunyai beberapa anak. Baik laki-laki mapun perempuan.

Salah satu anak laki-laki beliau adalah Alhabib Muhammad bin Syech bin Achmad Bafagih. Dimakamkan di daerah Gubuk, Semarang.

Alhabib Mohammad bin Alhabib Syech bin Achmad Bafagih mempunyai anak bernama Alhabib Abdullah bin Muhammad bin Alhabib Syech bin Achmad Bafagih. Alhabib Abdullah ini dimakamkan di pekuburan Sapuro, Pekalongan Jawa Tengah.

Alhabib Abdullah bin Muhammad bin Alhabib Syech bin Achmad Bafagih punya anak bernama Alhabib Syech bin Abdullah bin Muhammad bin Alhabib Syech bin Achmad Bafagih. Alhabib Syech bin Abdullah ini juga dimakamkan di Sapuro, Pekalongan.

Pada satu gubah di pemakaman tersebut, juga terdapat makam paman dari Alhabib Syech bin Achmad Bafagih, yaitu Alhabib Alwi bin Abdullah Bafagih.

Anak dari Alhabib Syech bin Abdullah bin Muhammad bin Alhabib Syech bin Achmad Bafagih yang sekarang masih hidup juga saat ini tinggal di Pekalongan. Mereka adalah Alhabib Muhammad bin Syech bin Abdullah bin Muhammad bin Alhabib Syech bin Achmad Bafagih, dan adik beliau bernama Assyarifah Rugayyah binti Syech bin Abdullah bin Muhammad bin Alhabib Syech bin Achmad Bafagih.

Alhabib Muhammad bin Syech bin Abdullah bin Muhammad bin Alhabib Syech bin Achmad Bafagih ini adalah sepupu dari Alhabib Muhammad Lutfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan.

Ibu dari Alhabib Muhammad bin Syech Bafagih adalah kakak kandung ayah dari Alhabib M. Lutfi bin Yahya.



Habib Muhammad (Gubug) Bin Syeh Bafaqih(Botoputih) juga mempunyai beberapa anak
diantaranya :
1. Abdullah (Pekalongan),kakek dari Hb Muhammad bin Syeh Bafaqih (Masjid Nur)
2. Nur (Pekalongan),punya anak diantaranya 1.Hb Ridho B ahmad B Agil Yahya (Ponpes
Darunna’I’m Pontianak,2.Hasyim 3. Fatimah 4.Azizah dll.
3. Syeh (Gubug,Purwodadi) punya anak 1.Ahmad (Gubug)2.Agil
(Porong,Sidoarjo).3.Tlehun
4. Muznah (Gubug),punya anak diantaranya :1.Saleh dll
5. Fatimah ( Semarang)
6. Hasan (Gubug)
7. Hamid (Kudus) punya anak diantaranya 1.Abdurrahman(Jragung,Demak) ,dll
8. Alwi (Kudus) punya anak diantaranya 1.Muhammad (Kayu manis
Jakarta)
9.Zain (Kudus) tdk punya anak.

10.Fadlun (Jakarta) Tdk punya anak.












Alhabib Umar taklukan singa afrika




Dikutip dari tulisan KH. Mukhlas Noer (Ketua Ponpes Lirboyo Kediri).
Kisah ini juga pernah disinggung oleh almarhum al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa.


Suatu saat al-Habib Umar bin Hafidz ingin melakukan perjalanan dakwah ke pedalaman Afrika.Ketika itu beliau ditemani oleh seorang muallaf bernama Khomis.Khomis adalah salah satu diantara orang-orang yang masuk Islam melalui perantara tangan al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad dan sering membantu kegiatan dakwah beliau selama di daerahnya.

Pedalaman Afrika yang ingin dikunjungi oleh al-Habib Umar harus melewati hutan belantara, yang mana hutan belantara Afrika terkenal akan hewan buasnya.Tapi dengan mantap Habib Umar bin Hafidz memberikan isyarat untuk segera berangkat.

Dimulailah perjalanan dakwah beliau. Sebelum masuk ke dalam hutan, beliau beserta rombongan dihentikan oleh beberapa orang polisi yang sedang berjaga di sebuah pos dekat dengan hutan yang ingin dilalui oleh al-Habib Umar.

Mereka hendak memperingatan agar al-Habib Umar tidak memasuki hutan karena hari sudah malam. Ditakutkan beliau dan rombongan akan diserangoleh beberapa hewan buas yang keluar untuk mencari mangsa di saat malam tiba.

Al-Habib Umar pun keluar dari mobil yang ditumpanginya dan berdiri di samping mobil tersebut.Serta merta al-Habib Umar memerintahkan seseorang untuk menggelar tikar di dekat mobil dan memerintahkan rombongan untuk membaca Maulid al-Habsyi (Simthud Durar).

Pembacaan maulid pun dimulai. Karena para polisi yangberjaga di pos itu beragama Kristen, mereka pun hanya bisa menonton dari kejauhan.

Setelah pembacaan maulid selesai, al-Habib Umar mendapat isyarat untuk melanjutkan perjalan malam itu juga. Para polisi itu tetap berusaha untuk mencegahnya,
tapi al-Habib Umar bersikeras ingin melanjutkan perjalanannya.Para polisi pun kalah argumen dan berinisiatif untuk mengikuti al-Habib Umar dari belakangmenggunakan mobil lain, takut kalau tejadi apa-apa dengan al-Habib Umar dan rombongan.


Di tengah perjalanan hal yang dikhawatirkanpun terjadi. Di depan mobil yang ditumpangi oleh al-Habib Umar, muncul seekor singa.Ketika itu al-Habib Umar duduk di kursi depan. Mulailah singa itu mengitari mobil tersebut.

Walaupun demikian sang Habib tetap tenang, berbeda dengan rombongan lain yang mulai menunjukkan rasa ketakutannya.Tak lama kemudian singa itu berhenti di depan jendela sebelah tempat duduk al-Habib Umar, lalu menaikkan kaki depannya ke atas jendela.Al-Habib Umar pun tetap tenang tanpa menunjukkan rasa ketakutan sedikitpun.

Lalu beliau berkata kepada supir: “Turunkan jendela ini!”Supir pun menjawab dengan ketakutan: “Ya Habib, ini singa!”Tapi al-Habib Umar tetap ingin agar dia menurunkan jendela tersebut.Kaca jendela pun diturunkan.Suatu kejadian menakjubkan pun terjadi, al-Habib Umar mengajak bicara singa tersebut:

“Hai singa! Kami ini adalah utusan Rasulullah Saw.”Kemudian al-Habib Umar mengambil sebuah pisang dan memberikannya kepada singa itu.

Singa yang biasanya makan daging, kali ini mau memakan pisang yang diberikan al-Habib Umar.
Setelah memakan pisang itu, singa mengangguk-anggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan al-Habib Umar dan rombongan.Perjalanan pun kembali dilanjutkan. Tak lama kemudianal-Habib Umar dan rombongan sampai ke tempat tujuan.

Setelah menyaksikan kejadian yang luar biasa itu, para polisi yang sebelumnya beragama Kristen itupun ingin mengikrarkan diri mereka untuk masuk agama Islam.
Ternyata kejadian yang mereka saksikan menjadi sebab hidayah Allah Swt. yang ingin mengembalikan mereka ke dalam pelukan Islam.

Subhanallah..

Karamah Al Imam Sayyidina Alhabib Syeikh Abu Bakar bin Salim


 Ada seorang ulama besar imam besar di Mekah datang kepada Syekh Abu Bakar bin Salim ,dengan niatnya dan berkah Syekh Abu Bakar Bin Salim akhirnya Allah Ta’ala ampunkan hal-hal yang terjadi antara dia dengan isterinya.

Ketika orang ini dating kepada Syekh Abu Bakar bin Salim di Inat,baru masuk ruang bilik berjumpa dengan Syekh Abu Bakar bin Salim langsung disambut oleh Syekh Abu Bakar:`Selamat datang wahai al-Bakri,sesungguhnya saya telah memperbaiki segala macam kekacauan yang terjadi antara engkau dengan isterimu,sudah selesai semuanya,kemudian disajikan kopi kepada mereka yang ada di majlis itu,kemudian diambil satu cangkir kopi oleh Syekh Abu Bakar bin Salim,dikeluarkan melalui jendela maka ketika kembali tangan tersebut cangkir kopi sudah tidak ada lagi entah kemana.

 Kemudian Syekh AbuBakar bin Salim berkata:`Wahai Abdurrahim(ulama Mekah ini),insyaAllah Allah Ta’ala akan memberikan kebaikan kepada isterimu
kepada keluargamu dan kelak dia akan mengandung seorang putera yang menjadi ulama besar di Mekah dan namakan anak tersebut Umar”

dan ketika dia pulang ke negerinya Mekah ia dapati isterinya baik,jauh berubah,urusannya beres semua,dan ia bertanya:apa yang terjadi hingga engkau menjadi baik seperti ini?`maka isterinya mengeluarkan cangkir kosong seraya berkata:`Tadinya di cangkir ini ada kopinya,datang beberapa waktu yang lalu seorang tua yang demikian indah membawakan saya cangkir berisi kopi ini,

saya minum langsung berubah saya punya hati”.Maka dia melihat cangkir
tersebut, ketika diperhatikan ia berkata:“Ini adalah cangkir yang dipegang Syekh Abu Bakar bin Salim di Inat”.lalu dia bertanya “kapan kau dapat cangkir ini dari orang tua tersebut?” dijawab:`Waktunya sekian,tanggal sekian,jam sekian,hari sekian"

 Ketika diingat-ingat betul hari itu adalah hari ketika saya bersama Syekh Abu Bakar bin Salim diruangannya.dia bertanya lagi “Bagaimana sifat orang yang datang membawakan kopi?”Setelah disifati oleh isterinya ia berkata:`dia adalah Syekh Abu Bakar Bin Sallim”kemudian dia berkata:demi Allah waktu yang engkau sebutkan itu aku bersama Syekh Abu Bakar bin Salim diruangannya di Inat sana dan di mengambil secangkir kopi dan dia keluarkan dari jendela dan keluarkan tangannya dari jendela itu dan kembali dalam keadaan kosong.

Dan kemudiannya wanita tersebut melahirkan seorang putera dengan berkat Syekh Abu Bakar bin Salim dan diberi nama Umar bin Abdurrahim(sebagaimana yang dipesan oleh Syekh Abu Bakar bin Salim)yang menulis kitab ilmu fiqih yang luar biasa dan menjadi ulama besar di mekkah.

dan marilah sahabatku semuanya kita berdoa kepada Allah Ta’ala dengan berkat Syekh Abu Bakar bin Salim,...SUBHAANA ALLAH...dan Allah Ta’ala Insya Allah memperbaiki hubungan kita dengan Allah Ta’ala dan orang-orang yang punya hak yang besar terhadap kita sekalian makhluk-makhluknya Allah Ta’ala mudah-mudahan AllahTa’ala membantu kita didalam memperbaiki hubungan kita dengan mereka semuanya.
dan mudah~mudahan Allah Ta’ala memberikan keridhoanNya kepada kita sekalian agar Allah Ta’ala mengampuni kita semua.Alhamdulillah atas nikmat yang demikian besar ini,taufik yang Allah berikan kepada kita sekalian ini semuanya sebab yang kita minta yang kita panggil namanya tadi adalah Allah Yang Maha Agung Yang Maha Tinggi,Yang Maha Besar,yang mana Allah Ta’ala menciptakan segala-galanya.dan inilah kita datang kepada Allah Ta’ala melaluipintu orang yang dicintai dan mencintai Allah Ta’ala.maka bersungguh sungguhlah berdoa kepada Allah Ta’ala Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita yang lampau.dan Allah Ta’ala menjaga kita dari perbuatan dosa dalam umur kita yang selanjutnya ini.dan orang-orang yang kini telah meninggal dunia,dari pada anak kita,keluarga kita,orang tua kita,kerabat kita,semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat mereka dan mengampuni mereka sekalian.dan semoga Allah Ta’ala mudah-mudahan memberikan keberkahan dalam sisa hidup kita ini dan memberikan kita husnul khatimah.kemudian setelah wafat
mudah-mudahan Allah Ta’ala mengumpulkan kita bersama wali-waliNya,bersama  orang -orang yang sholeh, bersama Sayyidina Syekh Abu Bakar Bin Salim,

Ya Allah berdekatan dengan Nabi Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ .Mintalah kepada Allah Yang Maha Penyayang dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan menyeru kepada Allah Ta’ala.dan memohonlah kepada Allah Ta’ala dengan sesungguh-sungguhnya sebab Allah Ta’ala menyukai orang yang bersungguh-sungguh didalam memohon kepadaNYA.berdoalah dengan hati kita,lidah kita dan seluruh jiwa kita menyeru nama:`Ya Allah,Ya Allah,Ya

Allah..Aamin Alfatehah

Gugur satu tumbuh seribu

.Assalamu`alaikum.wr.wb.
bismillaahirrahmaanir rahiim...aku teringat mimpiku beberapa minggu yg lalu, aku berdiri dg pakaian lusuh bagai kuli yg bekerja sepanjang hari, dihadapanku Rasulullah saw berdiri di pintu kemah besar dan megah, seraya bersabda :
“semua orang tak tega melihat kau
kelelahan wahai munzir, aku lebih tak tega lagi…, kembalilah padaku,masuklah kedalam kemahku dan istirahatlah…Ku jenguk dalam kemah mewah itu ada guru mulia, seraya berkata :kalau akubisa keluar dan masuk kesini kapan saja, tapi engkau wahai munzir jika masuk kemah ini kau tak akan kembali ke dunia..Maka Rasul saw terus mengajakku masuk,“masuklah.. kau sudah kelelahan..,kau tak punya rumah di dunia(memang saya hingga saat ini masih belum punya rumah) , tak ada rumah untukmu didunia,karena rumahmu adalah disini bersamaku.., serumah denganku..,seatap dengan ku…, makan dan minum bersamaku .. masuklah,,,Lalu aku berkata : lalu bagaimana dg Fatah Jakarta? (Fatah tegaknya panji kedamaian Rasul saw), maka beberapa orang menjawab dibelakangku : wafatmu akan membangkitkan ribuan hati utk meneruskan cita citamu,..!!,masuklah,,,!Lalu malaikat Izrail as menggenggamku dari belakang, ia memegang dua pundakku, terasa seluruh uratku sudah digenggamannya,seraya berkata : mari… kuantar kau masuk.. mari…Maka kutepis tangannnya, dan aku berkata, saya masih mau membantu guru mulia saya…, maka Rasul saw memerintahkan Izrail as untuk
melepaskanku..Aku terbangun…Semalam ketika aku rebah dalam kegelapan kulihat dua tamu bertubuh cahaya,namun wajahnya tidak bertentuk kecuali hanya cahaya, ia memperkenalkanbahwa ia adalah
Izrail as..Kukatakan padanya : belum…belum.. aku masih ingin bakti pada guru muliaku.. pergilah dulu, maka ia pun menghilang raib begitu saja.Tahun 1993 aku bermimpi berlutut dikaki Rasul saw, menangis rindu tak kuat untuk ingin jumpa, maka Sang Nabi saw menepuk  pundakku… tenang dan sabarlah..sebelum usiamu mencapaii 40 tahun kau sudah kumpul bersamaku”Usia saya kini 37 tahun
pada 23 feb 73, dan usia saya 38 tahun pada 19 muharram ini.Peradangan otak ini adalah penyakit terakhirku, aku senang wafat dg penyakit ini, karena Rasul saw beberapa bulan sebelum
wafatnya terus mengeluhkan sakit kepala..Salam rinduku untuk kalian semua jamaah Majelis Rasulullah saw kelak, jika terjadi sesuatu padaku maka teruskan perjuanganku.. ampuni kesalahanku.., kita akan jumpa kelak dengan  perjumpaan yg abadi..Amiin..Kalau usiaku ditakdirkan lebih maka kita terus berjuang semampunya, tapi mohon jangan siksa hari hariku.. hanya itu yg kuminta..
ya Allah ampunilah dosa2 beliau tenangkanlah beliau berikanlah beliau kesejukan di
dalam makamnya jadikanlah beliau salah satu penghuni syurga bersama datuk2 beliau hingga kepada Al
Musthofa Muhammad Saw di bawah kibaran bendera LIWA ULHAMDI..
Aamin ya Rabbal Alamin.




sumber ; https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1418731538416754&set=gm.997800070235111&type=1

AL Habib Abubakar Adni Bin Ali Al Masyhur,( Jeddah )


Beliau adalah guru mulia dari habib Umar Bin Hafidz, Habib Ali Al Jufri, habib Kadzim AsSeqqaf, Habib Muhammad Bin Abdurrahman AsSeqqaf dll,

 beliau banyak membangun madrasah (lebih dari 20) di mana mana (termasuk Dar Al Mustafa dan Dar Al Zahra di Tarim) pesan singkat beliau kepada para pencari Ilmu,

" Saat kamu sholat/berdoa/berdzikir kamu yakin bahwa Allah mendengar dan melihat hatimu, 'jangan pernah' berharap/menyangka bahwa ketika kamu berbuat suatu perbuatan dosa bahwa Allah tidak melihatnya!"





سبحانالله
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيّدنامُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيّدنا مُحَمَّدٍ

Al Habib Hasan Bin Abdullah Bin Umar Al-Shathiri ( Kakak Al Habib Salim Asy Syathiri ^^ Rubath Tarim )


Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Rubat Tarim yg sangat terkenal dan dihormati di kota Tarim, Hadramawt
Suatu ketika, Habib Hasan berkunjung ke Singapura dan menginap di salah satu hotel. Ketika murid beliau sedang mengurus check-in, beliau duduk di salah satu sofa yg ada di lobby hotel. Tiba2 duduk di hadapan beliau sepasang kekasih bule. Mereka tak henti2nya berciuman dan berpelukan di hadapan sang Habib.Habib hanya menunduk. Rata2 orang Hadramawt tak biasa memandang perempuan yg bukan muhrimnya, apalagi dlm adegan mesra ,
Setelah urusan check-in selesai, Habib dipersilahkan oleh murid2nya untuk memasuki lift yg akan membawa ke lantai kamar

Tak disangka, kedua kekasih itu ikut masuk ke dalam lift dan meneruskan percumbuannya.
Murid2 Habib Hasan marah dan bermaksud menegur sepasang kekasih tadi karena berbuat yg tdk senonoh dihadapan seorang ulama besar
Namun Habib Hasan justru melarang murid2nya tuk menegur mereka. Beliau tetap menunduk dan kemudian membaca doa :

Doa beliau
^^ Allahumma kama farihtahuma fid dunya, fafarih huma fil akhirat ^^
Artinya: Ya Allah, seperti engkau beri kebahagian pd mereka berdua (sepasang kekasih itu) di dunia, bahagiakanlah mereka di akhirat

Begitulah akhlak ulama2 besar kita. Mereka tdk reaktif dan membabi buta. Rasa kasih sayang didahulukan dari kemarahan Keinginan Habib Hasan adalah agar keduanya berbahagia di akhirat kelak, seperti kebahagiaan mereka bercumbu dan bercinta di dunia.Tuhan melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau.

Kita hadiahkan Fatihah untuk almarhum AL.Habib Hasan bin Abdullah Asy.Syathiri, ,lahumul AL.FAATIHAH
^^ Kisah Al Habib Ismail Bin Fajri Al Attas ^^

KH Kholilurrahman cicit Syaikhona Kholil Bangkalan Madura


Ra Lilur, demikian masyarakat menyebut kiai ini. Nama lengkapnya KH. Kholilurrahman.Kalau dirunut nasabnya ke atas, ia adalah cicit ulamabesar Indonesia, KH Kholil Bin Abd Latief, atau Syaikhona Kholil Bangkalan, atau Mbah Kholil.Bergelar Syaikhona, karena KH Kholil merupakan guru mayoritas ulama Indonesia.Masyarakat Madura menilia Ra Lilur dalam maqom jadab. Dalam terminologi sufi (tassawuf), jadab merupakan suatu tahapan untuk mencapai tingkat karamah (keistimewaan) yang biasanya disebutwali.ia zuhud, tak perduli gemerlap duniawi dan tanpa pamrih. Hidupnya hanya untuk Allah, berkelana dari satu tempatke tempat lain.Orang yang tak paham bisa jadi mengira ia gila. Maklum, penampilannya apa adanya. Apalagi perilakunya cenderung aneh. Ia kadang hidup di tengah laut, merendam diri sampai berhari-hari. Namun justru sikapnya inilah yang kemudian mengingatkan orang pada Nabi Khidlir.Ia seolah mengasingkan dari hiruk pikuk kehidupan yang kian renta, tanpanurani. Dari tengah-tengah arus gelombang laut itu ia membaca tanda-tanda kehidupan. Apa yang akan terjadi terhadap negeri ini."Tamunya beragam, tapi jangan kaget kalau tak kesokan (tidak mau,red), beliau tak mau menemuinya," tegas KHBadrus SholehRa Lilur, Ulama Jadab Mirip Nabi Khidlir
Di Kepala Kiai Ada Nasi ketika Jadi Imam Shalat
Perilaku aneh yang ditampakkan Ra Lilur tampaknya memang berkaitan dengan leluhurnya yang memang wali.Syaikhona Kholil Bangkalan, buyut Ra Lilur juga dikenal berperilaku aneh-aneh. Kiai Kholil dikenal sebagai ahli nahwu (gramatika Arab). Konon, ketika masih kecil Kiai Kholil sudah menunjukkan tanda-tanda aneh. Suatuketika ia shalat berjama'ah bersama para santri dan kiainya. Seperti biasa, yang jadi imam adalah kiainya. Namun tiba-tiba Kholil kecil tertawa terbahak-bahak.Usai shalat kiainya memarahi Kholil. "Orang lagi shalat kamu malah tertawa. Apa maumu," bentak sang kiai.Kholil menjawab enteng. "Sewaktu kiai shalat tadi saya lihat ada nasi di atas kopyah kiai, karena itu saya tertawa," jawab Kholil.Seketika kiainya kaget sekaligus malu. Ia sadar bahwa shalatnya tak khusuk karena ingin cepat-cepat pergi menghadiri kenduri. Sejak itu kiainya mulai menaruh perhatian besar pada Kholil. Ia sadar bahwa diantara santrinya ada yang punya kemampuanluar biasa. Yakni punya kasafah.Dugaan kiai itu betul. Kholil kemudian berkembang menjadi kiai besar. Bahkan menjadi kiai hampir seantero Jawa, karena kiai-kiai besar di Jawa adalah santri atau pernah nyantri pada Kiai Kholil.Keanehan Kiai Kholil terus terjadi ketika sudah kesohor.
Suatu ketika Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari mau nyantri ke pesantren yang diasuh Kiai Kholil di Bangkalan. Kiai Hasyim yang waktu itu masih muda langsung dites. Kiai yang kemudian menjadi pendiri NU itu, konon, disuruh naik ke atas pohon bambu. Sementara Kiai Kholil terus mengawasi dari bawah sembari memberi isyarat agar terus naik sampai ke puncak. Kiai Hasyim terus naik sesuai perintah gurunya itu. Ia tak peduli apakah pohon bambu itu melur atau bagaimana. Yang jelas, ia hanya patuh pada perintah kiainya.Anehnya, begitu sampai di puncak Kiai Kholil mengisyaratkan agar Kiai Hasyim meloncat ke bawah. Tanpa pikir panjang Kiai Hasyim langsung meloncat. Ternyata ia selamat.Yang menarik, dua kiai besar ini sama-sama tawadhu' alias rendah hati. Mereka sama-sama saling berguru. Kiai Hasyim terkenal sebagai ahli hadits. Biasanya Kiai Hasyim mengajarkan hadits itu pada santri sebulan penuh bila bulan puasa. Ternyata Kiai Kholil, meski dikenal sebagai guru Kiai Hasyim, ikut juga jadi santri. Ia tak gengsi memperdalam ilmu meski kepada muridnya sendiri. Sebaliknya, ia malah sangat menghormati Kiai Hasyim.Tradisi tawadhu' (rendah hati) itu ternyata terus menurun ke generasi berikutnya. Gus Dur -cucu Kiai Hasyim- sangat menghormati keturunan Kiai Kholil. Begitu juga KH. Fuad Amin -cicit Kiai Kholil- sangat menghormati keturunan Kiai Hasyim."Kalau saya salaman mencium tangan Gus Dur langsung ditarik," tutur Fuad Amin.
Gagal Temui Nabi Khidir, Bertekad Mengembara
Ra Lilur memang berasal dari keluarga sufi. Dalam arti, leluhurnya dikenal dekat dengan Nabi Khidlir. Karena itu mudah dipahami jika keajaiban-keajaiban Ra Lilur mirip dengan perilaku Nabi Khidlir.KH. Imron, kakek Ra Lilur, konon, pernah ditemui Nabi Khidlir, Kiai Imron adalah putera Syaikhona Kholil Abdul Latif Bangkalan.Kala itu Nabi Khidlir menjelma sebagaiorang berpenyakit yang menjijikkan. Orang itu kemudian minta gendong pada Kiai Imron. Namun Kiai Imron menolak. Karena menolak orang itu lantas minta gendong ke Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari yang waktu itu masih mondok di pesantren Kiai Kholil.Kiai Hasyim menggendong hampir sampai ke pesantren. Menjelang sampai ke pesantren orang itu minta diturunkan. Orang tersebut kemudian berkata, "Sampaikan kepada Kiai Imron, saya ini Nabi Khidlir." Setelah itu orang tersebut lenyap.Begitu kabar disampaikan, Kiai Imron terkejut. Ia menyesal telah menolak menggendong orang berpenyakit itu yang tak lain adalah Nabi Khidlir. Sejak itu, kabarnya, Kiai Imron bertekad untuk mencari Nabi Khidlir. Ia terus mengembara untuk mencari Nabi Khidlir.Kasus seperti Kiai Imron ini memang banyak terjadi. Seseorang pernah ingin bertemu Nabi Khidlir. Ia datang kepada kiai yang dikenal wali. Orang tersebut kemudian disuruh pergi ke trotoar gedung bioskop. Namun begitu sampai di tempat yang ditunjuk. Ternyata Nabi Khidlir tak ada. Orang tersebut kemudian kembali ke rumah sang kiai. Ia melaporkan bahwa di depan gedung bioskop itu tak ada Nabi Khidlir. Yang ada hanya orang jual bakso.Lalu apa kata sang kiai? "Ya, itu Nabi Khidlir. Yang menjelma jadi tukang bakso itu," kata kiai itu. Kontan saja orang sudah lama ingin bertemu Nabi Khidlir itu gelo.Konon, KH. Abdul Hamid Pasuruan yang dikenal sebagai wali itu sering didatangi orang yang ingin bertemu dengan Nabi Khidlir. Suatu ketika ia kedatangan tamu yang ngotot mau bertemu Nabi Khidlir. Kiai Hamid lantas minta orang itu datang kembali besok.Karena memang sangat ingin melihat Nabi Khidlir, orang tersebut datang seperti perintah Kiai Hamid. Ia lantas duduk di sela-sela tamu yang banyak. Kiai Hamid terus asyik bercakap-cakap dengan para tamunya. Kemudian para tamu itu pulang sehingga tinggal orang yang ingin bertemu Nabi Khidlir itu."Kiai, mana Nabi Khidlirnya," katanya tak sabar setelah menunggu tak muncul-muncul."Lho, tadi sewaktu kamu ke sini ada orang nggak di depan?" tanya Kiai Hamid."Ada, tapi orang membersihkan got," kata orang itu jujur."Ya, itu tadi Nabi Khidlir," jelas Kiai Hamid. Karuan saja orang itu terkejut. Ia tak menyangka orang yang ia sepelekan tadi ternyata Nabi Khidlir.
Nangis Ngguguk, Ulama Kejar Harta, Telantarkan Fakir Miskin
Belum ada informasi jelas tentang pendidikan Ra Lilur. Tapi ia menguasai bahasa Arab. Kehidupan Ra Lilur memang agak berbeda dengan keluarga Syaikhona Kholil lainnnya yang pendidikannya jelas. KH. Abdullah Schaal, saudara Ra Lilur, misalnya, sejak kecil nyantri secara teratur. Kemudian mengasuh pesantren warisan Syaikhona Kholil. Karena itu pesantren yang terletak di kota Bangkalan itu dinamakan Pesantren Syaikhona Kholil. Pesantreninilah yang pernah dibakar oleh Ra Lilur.Ra Lilur sejak muda dikabarkan suka mengembara. Ia sering tak jelas di mana tempatnya. Ia hanya muncul ketika mau mengabarkan peristiwa-peristiwa penting yang akanterjadi. Untuk proses penyampaian kabar itu ia kadang datang kepada Kiai Abdullah Schaal. "Biasanya ia minta agar Kiai Abdullah hati-hati," ujar salah seorang keluarga Kiai Abdullah kepada HARIAN BANGSA. Setelah itu ia kembali ke kediamannya. Atau meneruskan laku-nya, merendam diri di tengah laut.Yang menarik, di kediaman Ra Lilur cukup banyak tamu berkunjung. Di depan tamunya -terutama yang khusus- ia kadang bercerita tentang peristiwa-peristiwa penting. Misalnya tentang ulama yang kini mulai lebih suka mengejar-ngejar harta ketimbang memikirkan nasib umat. Cicit Syaikhona Kholil itu bahkan menangis sampai ngguguk ketika bicara tentang ulama yang hanya mengejar harta."Kalau ulama sudah lupa kepada kedudukannya dan mencintai harta serta kemewahan, berat, berat, dihadapan Allah SWT. Dampaknya, mereka akan pecah. Ya, Allah, selamatkanlah mereka," kata Ra Lilur sembari menangis sesenggukan. Ia menyampaikan itu kepada tamunya dalam bahasa Arab.Soal bahasa Ra Lilur melihat tamunya. Kalau tamunya paham bahasa Arab kadang bicara dalam bahasa Arab. Tapi jika tamunya orang Madura, biasanya ia cukup bahasa Madura.Berbeda dengan ulama milenium yang berebut posisi dan sibuk dengan politik, Ra Lilur sangat sederhana. Baik pakaian maupun kehidupan sehari-harinya sangat bersahaja. Ra Lilur memang lebih tepat jika disebut sebagai ulama rohani.
Pengusaha Besi Kapok Datang, Rugi Rp 100 Juta, Ayah Mati
Banyak cerita menarik yang dialami Habib Ali Zainal Bin Anis Al Muchdor ketika berkunjung ke kediaman Ra Lilur di Tanah Merah Bangkalan Madura. "Waktu itu saya melihat pakaian Ra Lilur yang sederhana. Saya lantas ingat satu hadits yang mengatakan agar hati-hati terhadap orang yang berpakaian compang-camping. Karena orang itu mulya di sisi Allah. Uniknya, seketika itu Ra Lilur menjawab Sallallah ’ala Muhammad," tutur Habib. Sontak Habib takdim kepada Ra Lilur. Karena apa yang ada dalam hati Habib, ternyata Ra Lilur tahu.Tak lama kemudian Ra Lilur bertanya kenapa seorang pengusaha besi tua bernama H. Hasan yang tinggal di Cililitan Jakarta tak pernah datang lagi kepadanya.Habib Ali menjawab mungkin sudah jera karena banyak pengalaman pahit yang dialami ketika datang ke Ra Lilur.Menurut Habib, Hasan pernah mengalami tekanan ekonomi. Karena ia mendengar kejadian-kejadian aneh yang dialami Habib bersama Ra Lilur, ia kemudian memutuskan datang kepada kiai jadab itu.Ia minta do'a kepada Ra Lilur. Ia berharap, cicit Syaikhona Kholil Bangkalan itu, mau mendo'akan, agar usahanya tetap langgeng. Begitu juga kalau ada job baru sukses.Singkat cerita, setibanya di rumah sang kiai, segera ia disambut ajudan sekaligus dihadapkan kepada Ra Lilur. Hasan lantas menceritakan masalahnya. Ra Lilur mendengar semua cerita Hasan. Namun yang membuat Hasan tak habis pikir, ketika hendak pulang, ia diberi obat sakit kepala Paramex.Tentu ia bertanya-tanya dalam hati. Dengan diliputi tanda tanya, Hasan pulang ke rumahnya di Jakarta. "Di dalam bus, saya terus mikir. Mau diapakan obat ini. Kenapa pula kiai memberi saya ini," gumam Hasan seperti ditirukan Habib.Seminggu kemudian, H. Hasan ternyata tertimpa musibah. Usahanya rugi Rp 100 juta. "Mati aku. Rupanya itu maksud kiai memberi obat," kata Hasan tersenyum kecut.Sebulan kemudian, di rumahnya, telepon H. Hasan mendadak berdering.Telepon itu dari saudaranya di Tanah Merah, Madura. Ia mengabarkan bahwa abahnya (ayah), yang murid Habib Sholeh Tanggul, Jember, sakit keras. Dilanda rasa gundah tak terkira, ia pun pergi menemui abahnya.Abahnya terbaring sakit di atas pembaringan. Ia lantas menemui guru abahnya, yaitu Habib Sholeh Tanggul, H. Hasan diminta membawa tasbih. Menurut Habib Sholeh, tasbih itu, selain untuk wirid juga sangat manjur untuk mengobati orang sakit. Sesuai dengan pesan guru, tasbih itu dicelupkan ke dalam segelas air. Selanjutnya, air bekas celupan itu diminumkan kepada orang yang sakit. Semula, penyakit itu memang berkurang. Badan abahnya sedikit enakan. Tapi itu tidak berlangsung lama.Beberapa waktu kemudian, bapaknya kembali jatuh sakit. H. Hasan pun segera beranjak pergi meminta do'a kepada Ra Lilur. Yang tak membuat H. Hasan heran lagi, ketika Ra Lilur, memberinya kapas, berikut minyak telon. Itu diberikan ketika H. Hasan hendak pulang. Seperti sebelumnya, dalam perjalanan menuju rumah orangtuanya di Tanah Merah, hati H. Hasan, diliputi tanda tanya yang hebat. Begitu tiba di rumah abahnya, ia mendapati banyak orang menangisi kepergian orang tua lelakinya itu. Rupanya, kapas dan minyak telon itu, sebagai perlambang bahwa penyakit orang tuanya tak dapat disembuhkan. "Kapoksudah saya bertemu Ra Lilur," kata H. Hasan setengah menggerutu.
Geger, Wanita Misterius Penjemur IkanDinikahi Kiai
Di kawasan pesisir Bangkalan ada seseorang wanita yang sehari-harinya membersihkan ikan. Wanita itu tak ubahnya seorang buruh. Ia tiap hari membersihkan dan menjemur ikan milik orang. Ia hanya dapat upah sekian rupiah dari jerih payahnya itu.Kesibukan di kawasan pesisir itu membuat orang tak pernah memperhatikan wanita itu. Apalagi wanita itu memang tampil seperti umumnya buruh; kusut dan agak kotor. Karena itu masyarakat tak pernah memperdulikan.Masyarakat baru terhenyak ketika wanita berpenampilan kumal itu dinikahi Ra Lilur. Rasan-rasan pun ramai. Mereka seolah tak percaya kiai seterhormat Ra Lilur mau menikahi wanita buruh itu.Yang menarik, begitu berita pernikahan Ra Lilur dengan wanita itu tersebar, masyarakat mulai bertanya-tanya,dari mana asalnya wanita tersebut. Sebab meski setiap hari bertemu dan berkumpul masyarakat disekitar pesisir itu tak ada yang tahu asal muasal wanita tersebut. Masyarakat pun mulai geger. Wanita itu dianggap misterius karena tak diketahui asal usulnya.Ajaibnya, begitu masyarakat heboh tiba-tiba muncul informasi bahwa wanita tersebut berasal dari kesultanan Demak. Karuan saja masyarakat kembali ramai.Tapi benarkah ia berasal dari kesultanan Demak? Wallahu a'lam.
Tapi masyarakat di sekitar pesisir itu yakin ia berasal dari Demak. Yang jugaunik wanita itu tetap sederhana meski dinikahi Ra Lilur. Padahal ia telah jadi istri orang terhormat dan disegani masyarakat.Bahkan Ra Lilur bukan saja disegani masyarakat tapi juga dihormati para ulama. Toh istri Ra Lilur tetap bersahaja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya ia berjualan es lilin. Dagangannya itu kadang dijajakan kepada para santri KH. Abdullah Schaal di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan. "Ia sering ke sini (pesantren) jual es lilin," kata salah seorang keluarga Kiai Abdullah Schaal.Aneh, memang. Padahal, kalau mau, bisa saja ia kaya raya mengingat tamu Ra Lilur yang terus membludak. Ia jugabisa ongkang-ongkang, tak usah kerja keras, seperti umumnya istri kiai. Tapi itu tak ia lakukan. Ia lebih suka makan dari hasil keringatnya sendiri ketimbang menunggu pemberian masyarakat.
Terjangkit Penyakit Menahun, Diobati dengan Tiga Korma
Ra Lilur ternyata tak hanya piawai mendeteksi masa depan. Ia juga ahli mengobati orang sakit. Tak aneh jika banyak tamu yang minta tolong untuk mengobati penyakitnya. Bahkan semenjak hijrah ke sebuah desa di kecamatan Galis Bangkalan, tamu yang hadir meminta barokah semakin bejibun saja. Uniknya, yang datang tidak hanya dari kalangan santri dan masyarakat biasa, namun juga kiai pengasuh pesantren yang punya masalah.Salah satunya, seorang kiai asal Surabaya. Kiai ini sudah puluhan tahun mengidap penyakit aneh. Awalnya dikira terkena serangan syaraf. Menurut analisis dokter spesialis syaraf terkenal yang praktik di Jl. Diponegoro Surabaya, kiai ini, syaraf rahangnya terganggu, sehingga sulit mengatupkan lidahnya. Kalau berbicara harus dipegang. Pendek katapenderitaan itu sudah lama.Sebelum memeriksakan ke dokter neurolog tersebut, kiai ini melanglang buana berkonsultasi dengan berbagai ahli, baik ahli medis, maupun paranormal. Tapi hasilnya nol besar. Bahkan pernah juga berkonsultasi ke KH. Ghofur, pengasuh ponpes Sunan Drajat Paciran Lamongan.Juga gagal. Salah seorang santrinya, pernah menyarankan agar berobat ke suatu daerah di Jabar. Tapi setelah dijalankan, perkembangannya hanya sesaat. Usai berobat, hanya sepekan kondisinya sehat, setelah itu kambuh lagi.Karena penyakit yang menahun inilah, kemudian timbul syak swasangka, jangan-jangan penyakit aneh ini, bukan penyakit lahir, karena tak terdeteksi secara medis, tetapi penyakit kiriman, alias terkena sihir atau sejenisnya.Namun kiai ini terus berikhtiar sembaritetap pasrah. Di tengah-tengah kepasrahan itulah, tiba-tiba timbul wisik-wisik dari seorang tamu yang agak aneh. Tamu itu menyarankan, agar meminta barokah ke Ra Lilur.Tanpa pikir panjang, maka berangkatlah rombongan kiai itu ke tempat pedepokan Ra Lilur di sebuah desa Banjar kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan. Biasanya orang yang tak pernah sowan ke Ra Lilur, sulit langsung ditemui. Tapi khusus yang satu ini, Ra Lilur langsung menyanggongnya."Lenggi-lenggi pada parlo napa (mari silakan duduk, ada maksud apa ke sini)," sapanya.Kiai ini langsung mengutarakan niatnya. Ia juga menceritakan perjalanannya berobat ke mana-mana,namun hasilnya nihil.Mendengar keluhan itu, Ra Lilur langsung memberi tiga buah korma dari dalam rumahnya. "Da'ar pa tada' (silakan makan dihabiskan)," kata Ra Lilur.Saat dialog itu tak begitu cair. Maklum Ra Lilur memang sering memperlihatkan suasana yang sulit ditebak. Kadang-kadang tertawa, tapi kadang-kadang tak banyak bicara.Mungkin saat itu, Ra Lilur paham, betapa menderitanya kiai ini lantaran merasakan sakit menahun.Usai menyuguhkan tiga korma, Ra Lilur memberi wejangan, agar kiai tadi, berobat ke seorang dokter kiai di sebuah kawasan sekitar Pasar Turi Surabaya. Kenapa disebut dokter kiai, karena dokter itu, selain memberi obat,juga memberi bacaan-bacaan.Hasilnya? Alhamdulillah, penyakit menahun kiai sederhana itu akhirnya berangsur-angsur sembuh.
Aparat Nangis, Minta Tolong Ditunjukkan Tommy Soeharto
Keanehan Ra Lilur semakin
menjadi-jadi. Ini terkait dengan kondisi nasional yang masih belum menentu. Yang menarik, keanehan Ra Lilur itu kini banyak mengundang perhatian aparat. Bahkan ada anggota Polri berpangkat perwira menengah (Pamen) datang ke kiai yang dikenal punya kasaf itu untuk minta tolong. Si pamen itu rela bepergian tengah malam dengan sepeda motor menuju desa Banjar untuk menemui Ra Lilur.Apa tujuan sang Polisi? Ajudan (khaddam) Ra Lilur, H. Husni Madani, bercerita kepada Taufiqurrahman wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan Madura tentang keinginan pamen berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) itu. Menurut Husni ia minta tolong agar ditunjukkan tempat persembunyian Tommy.Namun Ra Lilur sulit ditemui. Karena itu pamen itu menyampaikan maksudnya itu melalui Husni. Diceritakan, sebelum menyampaikan keinginannya, selama tiga malam berturut-turut petinggi polri itu melakukan wirid dan mengaji di mushalla milik H. Husni."Malah dia (petinggi Polri itu) sampai menangis ketika membaca Al-qur'an," tuturnya.Lantas bagaimana tanggapan Ra Lilur ketika ajudannya menyampaikan keinginan sang tamu? Dengan tegas Ra Lilur mengatakan, untuk memburu Tommy sangat sulit, karena memang ada yang membuatnya sulit. "Sulit karena memang dibuat sulit," jawab RaLilur singkat seperti ditirukan H. Husni.Jawaban itu diberikan Ra Lilur melalui ajudannya.Dari jawaban Ra Lilur itu tersirat bahwa Tommy memang ada yang melindungi. Karena itu mudah dipahami jika beberapa pihak ragu terhadap upaya polisi menangkap Tommy. Bahkan kini muncul analisis bahwa gerakan aparat yang mau menangkap Tommy itu sekedar basa-basi belaka, yakni untuk meredam kekecewaan atau mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan politik di tubuh Polri sendiri maupun seputar di Mega.Perilaku Ra Lilur kini memang kian aneh. Sudah dua minggu ini, Ra Lilur mengunci diri di sebuah gubuk di atas gunung. Bahkan pintu pagarnya pun digembok. Sehingga, tamu yang hendak sowan ke Ra Lilur sulit untuk bertemu. Selama ini hanya ada dua orang khaddam yang bisa menemui RaLilur.Seorang tamu yaitu kiai dari Jember, KH. Nawawi Abdul Jalil, hanya bisa bertemu dengan ajudan. "Sudah dua minggu kiai tidak ngomong. Beliau berkomunikasi hanya dengan tulisan tangan saja. Kalau ada tamu, saya hanya bisa menyampaikan keinginan sang tamu. Tapi kiai hanya memberikan tulisan atau barang," papar khaddam yang sudah mengabdi sejak tahun 1989 ini.Serahkan Dekrit pada Kiai Abdullah SchaalKeanehan Ra Lilur memang sulit ditebak. Terutama menyangkut peristiwa politik negara. Buktinya, jauh sebelum Gus Dur memberikan dekrit iatelah menyerahkan dekrit kepada dua kiai kharismatik Madura yakni KH. Abdullah Schaal dan KH. Zubair Muntasor.Menurut khaddam kepercayaan Ra Lilur, H. Husni Madani, kiai yang sudahm encapai tahapan mukasafah ini enam bulan lalu pernah mengeluarkan sebuah dekrit. Dekrit tersebut berisi persoalan penerapan demokrasi yang tengah diperjuangkan oleh Gus Dur yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden.Sayang selembar kertas dekrit asli tulisan tangan Ra Lilur itu diminta kembali. Sedangkan KH. Abdullah dan KH. Zubair hanya diberi salinannya (fotokopi) saja. H. Husni hanya ingat penggalan kalimat yang tersirat dalam dekrit Ra Lilur. Antara lain, demokrasi sulit dipraktikkan. Yang terakhir, berisi kalimat berat sama dipikul, setelah ringan tidak kebagian. "Saya hanya ingat dua kalimat itu, sedangkan yang lain saya lupa," katanya.Mengapa tidak difotokopi lebih? H. Husni mengatakan, sebenarnya dekrit itu difotokopi lebih dua lembar. Tapi setelah menghadap Ra Lilur, lembaran yang asli diminta sedangkan yang dua lembar fotokopi disimpannya."Anehnya, dua lembar fotokopi dekrit itu hilang. Padahal saya ingat dimana saya simpan," tuturnya keheranan. "Ya mungkin, kiai tidak kasokan (tidak mengijinkan, red)," katanya mengira-ngira.KHadam kepercayaan Ra Lilur menjelaskan, fotokopi dekrit diberikan kepada KH. Abdullah sebanyak 5 lembar dan 5 lembar lainnya diserahkan kepada KH. Zubair. Dan setiap mengeluarkan surat, Ra Lilur selalu meminta surat asli tulisan tangannya
.Surati HARIAN BANGSA, Meski Tak Baca Koran
Keanehan-keanehan Ra Lilur yang diberitakan HARIAN BANGSA ternyata mendapat tanggapan dari cucu Syikhona Kholil Bangkalan Madura itu. Secarik kertas berisi tulisan tangan dengan lafal arab itu diberikan begitu saja kepada H. Husni Madani, khaddam (ajudan) kepercayaannya.Karuan saja Husni kaget. Karena selama ini Ra Lilur tidak pernah keluar dari biliknya di sebuah pegunungan di Desa Banjar Galis. Kawasan ini jauh dari kota. Jaraknya sekitar 35 km dari kota Bangkalan. Kondisinya penuh bebatuan.Selain itu Ra Lilur sudah lebih dua minggu ini tidak pernah berkomunikasi melalui lisan alias puasa bicara. Ra Lilur juga mengunci diri didalam kamarnya. Tak pernah keluar.Jadi kiai yang suka berendam di tengah laut itu tak pernah baca koran. Tapi anehnya, kiai kasaf berumur lebih dari setengah baya ini tahu kalau saat ini dirinya sedang menjadi salah satu berita di rubrik Religia HARIAN BANGSA. Lebih aneh lagi, Ra Lilur tahu persis apa saja yang pernah dimuat tentang dirinya.Menurut H. Husni, selama ini Ra Lilur tidak pernah diberi tahu soal pemuatan dirinya di HARIAN BANGSA. Memang Husni sendiri pernah membaca tulisan tentang Ra Lilur di HARIAN BANGSA. Tapi dia tidak berani memberikan koran HARIAN BANGSA yang memuat tentang dirinya itu karena takut tidak setuju dimuat di media massa.Karena itu ia ketakutan ketika secara tiba-tiba dipanggil Ra Lilur. "Saya sempat ketar-ketir ketika dipanggil oleh Kiai (Ra Lilur, red). Karena saat itu kiai langsung bertanya dimana alamat redaksi HARIAN BANGSA," tutur H. Husni kepada Taufiqurrahman,wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan.Bahkan, sambungnya, Ra Lilur, juga menanyakan siapa wartawan yang menulisnya. "Saya berpikir kiai dukah (marah, red), tapi ternyata tidak," papar khaddam kepercayaan Ra Lilur yang sudah mengabdi puluhan tahun di rumahnya, Desa Banjar Galis.
Jatuh dari Pematang, Minta Dibelikan Kosmetik
Isyarat Ra Lilur seputar perkembangan politik di Indonesia ternyata masih ada yang menarik untuk disimak. Ini terutama terkait dengan peristiwa jatuhnya Gus Dur dan naiknya Megawati sebagai Presiden belum lama ini.Menurut H. Husni Madani, haddam Ra Lilur, dua bulan lalu cicit Syaikhona Kholil Bangkalan itu pernah mengalami peristiwa aneh. Diluar dugaan, ketika berjalan menuju biliknya di atas gunung, kiai jadab ini tiba-tiba jatuh dari pematang yang cukup tinggi."Peristiwa ini terjadi pada malam hari selepas isya. Saat berjalan di atas pematang, tiba-tiba kiai jatuh. Saking tingginya, sikut kiai sampai luka," tutur Husni kepada Taufiqurrahman,wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan. "Saya heran, soalnya pematangnya lebar dan kiai biasa berjalan melewatinya," katanya seraya geleng-geleng kepala.Saat itu Husni masih belum berpikir isyarat yang bakal terjadi kelak dikemudian hari. Dia hanya berpikir, kiai yang sudah mencapai tingkat mukasafah ini hanya terjatuh biasa."Saya pikir hanya jatuh biasa. Eh, ternyata Gus Dur dijatuhkan," kata Husni dengan logat Madura yang kental.Begitu juga naiknya Megawati sebagai Presiden. Peristiwa Mega jadi Presiden tak luput dari isyarat aneh Ra Lilur. Dijelaskan, sepuluh hari menjelang sidang istimewa (SI) MPR, Ra Lilur minta dibelikan tiga meter kain warna merah. Dan keinginan itupun langsung diiyakan H. Husni.Keesokan harinya, Ra Lilur kembali meminta ajudan kepercayaannya itu untuk membeli perlengkapan kosmetik. Ra Lilur berpesan agar semua kebutuhan kosmetik wanita dibeli lengkap dan dibungkus rapi."Pokoknya, keinginan kiai saya ibaratkan seseorang yang hendak melamar seorang wanita. Saat itu sayahanya berpikir kiai punya niat untuk meminangkan salah satu putri saya dengan seorang lelaki pilihan kiai," tukasnya.Ternyata SI memutuskan Megawati sebagai Presiden RI menggantikan Gus Dur.Lalu bagaimana dengan pembelian kain warna merah sepanjang tiga meter? Mungkinkah Mega bisa bertahan 3 tahun di kursi Presiden, yang berarti sampai 2004? Atau mungkin ada isyarat lain yang akan ditunjukkan oleh kiai jadab yang suka berendam di tengah laut dan mirip Nabi Khidlir ini? Wallahu a'lam.
Main Drama, Ada di Dua Tempat dalam Waktu Sama
Namun ada yang lebih unik lagi dibalikperistiwa itu. Ceritanya begini. Salah seorang kiai tidak bisa pada undangan Ra Lilur di resepsi anak Husni itu. Keesokan harinya, sang kiai datang ke rumah tuan rumah (H. Husni Madani) untuk minta maaf karena tidak bisa hadir dalam pesta pernikahan anaknya. Lho, kenapa? Inilah yang ajaib. Ternyata kiai tersebut mengaku tidak bisa hadir karena kedatangan Ra Lilur ke rumahnya. Padahal 300 kiai yang diundang menyaksikan bahwa RaLilur sedang pentas main drama."Saya heran, lha wong pada malam itu bersama saya, tapi ternyata ada seorang kiai yang mengatakan Ra Lilursedang bertamu ke rumahnya," kata Husni.Kejadian serupa juga terjadi pada salah seorang kerabat Husni di Jakarta. Itu terjadi saat acara haul KH. Amin Imron. Pada acara tersebut, tiba-tiba Ra Lilur datang dan mengikutiacara tersebut. Kontan saja tuan rumah keheranan melihat kehadiran kiai yang jarang muncul di depan publik itu.Tak hanya itu, Ra Lilur juga bertanya kepada tuan rumah soal foto dirinya yang dipajang didalam kamar. "Mana foto saya yang dipajang di dalam kamar," sergah Ra Lilur seperti ditirukan Husni. Padahal, sebelumnya Ra Lilur tidak pernah sowan ke rumah kerabat Husni itu. Yang mengherankanHusni, karena ketika Ra Lilur dikabarkan ada di Jakarta menghadiri acara haul itu, sebenarnya kiai aneh ituberada di ndalem (sebutan rumah kiai)di Desa Banjar Galis. Ini berarti, lagi-lagi Ra Lilur berada di dua tempat dalam waktu bersamaan.
Naik Kendaraan Keliling Surabaya Tanpa Bensin
Keanehan yang ditunjukkan oleh Ra Lilur memang seolah tak pernah habis.Orang-orang yang pernah menyaksikan langsung perilaku Ra Lilur selalu dibuat geleng-geleng kepala.Maklum, banyak peristiwa tak masuk akal, namun terjadi secara nyata. Suatu ketika, Ra Lilur memanggil ajudan kepercayaannya,H. Husni Madani. Saat cicit Syaikhona Kholil Bangkalan itu minta agar Husni menemaninya jalan-jalan di Surabaya.Permintaan itu langsung diiyakan.Berikutnya, Ra Lilur minta agar ajudannya menyewa sebuah mobil berikut sopirnya. Setelah rampung, keduanya berangkat ke Surabaya. Anehnya, ketika sang sopir hendak mengisi bensin, Ra Lilur melarang."Sudah tak usah isi bensin," kata Ra Lilur.Karena tahu siapa Ra Lilur sebenarnya,sang sopir langsung tancap gas menyeberangi Selat Madura. Ia melesat ke Surabaya. Di kota pahlawan ini sehari penuh kendaraan yang ditumpangi Ra Lilur melaju. Tapi uniknya, tak sedikitpun jarum spido penunjuk bensin turun."Sepanjang jalan saya terus mengawasi jarum penunjuk bensin. Tapi bensinnya tetap penuh. Saya jadi heran, lha wong bensin tidak diisi sama sekali, tapi tidak habis," tutur Husni heran.Uniknya lagi, ketika kembali ke Desa Banjar Galis, Bangkalan Madura, tangkibensin tetap tidak berubah alias full tang. "Kalau dipikir, bahan bakar kendaraan itu siapa yang ngisi ya," kata ajudan kepercayaan kiai jadab ini.Kejadian seperti itu sering disaksikan Husni. Pernah suatu ketika Ra Lilur mengajak Husni keliling Kabupaten Bangkalan. Saat itu, Ra Lilur menyewa sebuah mobil pick up. Sang sopir diminta untuk menuruti permintaannya.Seperti halnya kejadian yang lalu, ketika sang sopir hendak mengisi bahan bakar, Ra Lilur melarang. Lagi-lagi orang yang mengikuti perjalanan kiai kasaf ini terheran-heran.Karena sejak berangkat hingga pulang bensinnya tetap pada posisi awal.
Gara-gara Bicara Kasar, Sial, Lantas Meninggal
Ini merupakan peringatan keras kepada siapa saja yang melakukan tindakan konyol dengan berkata kasar dan membohongi Ra Lilur. Kalau hal tersebut dilakukan, bisa-bisa naas peristiwa yang dialami seorang sopir pick up.Ajudan Ra Lilur, H. Husni mengatakan, sopir itu diketahui meninggal setelah mengalami sakit yang berkepanjangan.Kabar itupun terkuak setelah sopir lain menceritakan nasib yang menimpa temannya. Kisah tersebut berawal ketika Husni bersama Ra Lilur melakukan perjalanan dari Kecamatan Sepuluh menuju Desa Banjar Galis Bangkalan Madura. Di tengah perjalanan, motor yang ditumpangi macet karena mengalami kerusakan pada bagian mesin.Karena tak bisa memperbaiki, Husni memutuskan untuk beristirahat serayamenunggu tumpangan untuk Ra Lilur. Beruntung, setelah beberapa menit beristirahat, ada sebuah mobil pick up melintas di sebuah jalan desa. Ra Lilur kemudian meminta agar ajudannya menyetop mobil itu untuk ikut. Namun setelah dicegat, sang sopir berkata kalau mobilnya tidak dibuat angkutan."Lok muwak (tidak mau muat, red)," kata sang sopir dengan kasar.Karena ditolak, Husni kembali istirahat sembari menunggu tumpangan yang lain. Ternyata setelah beberapa meter dari tempat istirahat, mobil yang dicegatnya tadi mengangkut beberapa karung kedondong milik pedagang. Setelah kejadian itu, Husni tidak pernah berpikir apa yang akan terjadi pada sang sopir di balik kata-kata kasar dan bohong yang diucapkan kepada seorang kiai jadab itu.Beberapa bulan berikutnya, Ra Lilur berniat untuk melakukan perjalanan keliling kota Bangkalan. Seperti biasa, kiai kasaf ini memerintahkan ajudannya untuk mencari mobil tumpangan.Tapi anehnya, sebelum diperintah mencari mobil, Ra Lilur berpesan agar memilih mobil pick up deretan ketiga dari belakang. "Karena itu perintah kiai,saya tidak bisa menolaknya," tuturnya.Perjalananpun dilakukan, setelah sampai di daerah pesisir barat Kecamatan Socah, Bangkalan, Ra Lilur berhenti. Ia langsung melakukan perjalanan ke tengah laut. "Saya tidak tahu kemana kiai berjalan. Tapi beliau terus berjalan hingga tidak kelihatan," kata Husni.Ditengah penantian tersebut, Husni ngobrol dengan sopir pick up yang menjadi pilihan Ra Lilur. Ternyata, sang sopir bercerita panjang lebar soal peristiwa yang pernah dialami temannya yang juga sopir pick up itu. Dikatakan, setelah sopir pertama menolak permintaan Ra Lilur dengan kata-kata kasar dan bohong, dia terus mengalami banyak peristiwa sial. Mula-mula hasil uang dari nyopir itu selalu habis hanya untuk membayar biaya tilang polisi.Berikutnya, dia terus mengalami sakit yang tak kunjung sembuh hingga akhirnya meninggal. "Mantuan (pamanhaji, red), sopir pertama yang pegang mobil ini meninggal setelah menolak permintaan kiai," kata sopir itu lirih.Mendengar penjelasan itu, Husni teringat peristiwa yang pernah dialaminya. Ternyata, Ra Lilur memilih mobil pick up pada deret ketiga itu merupakan tebusan dari penolakan sopir yang pernah berkata kasar itu. Karena sopir yang berkata kasar itu dulu juga menyopir mobil yang sekarang dipakai itu.
Inilah Isi Surat Ra Lilur kepada HARIAN BANGSA
Ra Lilur akhirnya berkirim surat kepadaHARIAN BANGSA. Meski cicit Syaikhona Kholil itu tak pernah membaca koran, namun ia tahu betul isi berita HARIAN BANGSA yang menulis keunikan dirinya.Surat itu dititipkan kepada seseorang kemudian diberikan kepada Taufiqurrahman,wartawan HARIAN BANGSA di Bangkalan. Surat itu sangatsederhana, namun isinya cukup mengena dan mendalam. Hanya satu lembar, tapi diketik dengan mesin ketikmanual. Selain berisi saran juga disertai kaidah-kaidah agama dalam bentuk huruf Arab.Surat ini penting dimuat karena tulisantentang Ra Lilur mendapat sambutan luar biasa dari pembaca. Bahkan ada pembaca yang menelepon kepada redaksi HARIAN BANGSA menanyakan,apakah koran ini sudah seijin Ra Lilur ketika menulis kiai jadab yang suka berendam di tengah laut itu."Karena surat kabar BANGSA tertanggal 4 Agustus 2001 halaman 6, dengan judul "Tiba-tiba Berpakaian Serba Merah" memuat pengungkapan nama saya dikategorikan yang berlebihan.Maka perlu saya membuat uraian (bukan sanggahan) untuk menjaga tetap baiknya i'tikad orang awam. Ini sebagian yang tertera di surat kabar itukolom I tanggal 4 bulan Agustus tahun 2001 halaman 6:"Ra Lilur tampaknya memang sudah mencapai tingkat kasyaf dst... dst..."," tulis Ra Lilur mengawali suratnya.Yang menarik, surat Ra Lilur minta agar tak menafsirkan terlalu jauh tentang perilaku manusia. Ia minta agar perilaku manusia dipandang dari segi dhahiriyahnya saja, tak usah ditafsirkan macam-macam."Inilah uraian saya: Martabat manusia tak akan melebihi Nabi. Tak akan luas pengaruh manusia individu kecuali manusia yang berkedudukan resmi dan berkarya resmi pula. Pengumandangan agama Islam adalah Dhohiriyah, pandanglah manusia dan perilakunya dengan apa yang terpandang tak usah mengungkit-ungkit apa yang tersirat cukup dengan yang tersurat," tulis Ra Lilur lebih lanjut.Ra Lilur kemudian menulis, "Selain niatdan syarat-syarat dan rukun Ibadah serta muamalat hanyalah dhahiriyah. Sebab itu maka tak layak bagi manusiamengungkap-ungkap batiniyah seperti watak, dan jiwa yang bergairah buruk. Kecuali orang teranugerah padahal itu.Ra Lilur kemudian mengutip kaidah bahasa Arab yang artinya, "Dan manusia hanya diperintah mengikuti kaidah-kaidah agama, makanya tak usah isyarat-isyaratan."Ra Lilur juga mengetengahkan kaidah yang ditulis dalam bahasa Arab. Kaidah itu ia beri arti sebagai berikut:"Dan Nabi sendiri tak suka terlalu diagung-agungkan seperti tersebut."Ra Lilur juga kembali menulis dengan bahasa Arab yang artinya:"Pandanglah manusia dan muammalah dengan dhahiriyah, kalau dukun itu dengan batiniyah maka itu hal dukun sendiri.
"Sumber Artikel: Media Harian Bangsa

Ucapan Anjing Hitam Yang Menyayat Hati


BELAJAR MENGHARGAI DARI SEEKOR ANJING
Pada suatu hari, Syeikh Abu Yazid al-Busthami sedang menyusuri sebuah jalan sendirian. Tak seorang santri pun diajaknya. Ia memang sedang menuruti kemauan langkah kakinya berpijak tak tahu ke mana arah tujuan dengan pasti. Maka dengan enjoynya ia berjalan di jalan yang lengang nan sepi.Tiba-tiba dari arah depan ada seekor anjing hitam berlari-lari. Syeikh Abu Yazid al-Busthami merasa tenang-tenang saja, tak terpikirkan bahwa anjing itu akan mendekatnya. Ternyata anjing-anjing itu sudah mendekat di sampingnya.Secara spontanitas Syeikh Abu Yazid al-Busthami pun segera mengangkat jubah kebesarannya. Tindakan tadi begitu cepatnya dan tidak jelas apakah karena merasa khawatir jangan-jangan nanti bersentuhan dengan anjing yang liurnya najis.

Tapi, betapa kagetnya Syeikh Abu Yazid al-Busthami begitu ia mendengar anjing hitam yang di dekatnya tadi memprotes: “Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa!”
Mendengar suara anjing hitam seperti itu, Syeikh Abu Yazid al-Busthami masih terbengong:
“Benarkah ia bicara padanya..? Ataukah itu hanya perasaandan ilusinya semata..?”
Syeikh Abu Yazid al-Busthami masih terdiam dengan renungan-renungannya.Belum sempat bicara, anjing hitam itu meneruskan celotehnya :
“Seandainya tubuhku basah, engkau cukup menyucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali, maka selesailah persoalan di antara kita. Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi (kesombonganmu), dirimu tidak akan menjadi bersih walau engkau membasuhnya dengan tujuh samudera sekalipun!”

Setelah yakin bahwa suara tadi benar-benar suara anjing hitam yang ada di dekatnya itu, Syeikh Abu Yazid al-Busthami pun menyadari kekhilafannya. Secara spontan pula, ia bisa merasakan kekecewaan dan keluhkesah si anjing hitam yang merasa terhina. Ia juga menyadari bahwa telah melakukan kesalahan besar. Ia telah menghina sesama makhluk Tuhan tanpa alasan yang jelas.
“Ya, engkau benar anjing hitam. Engkau memang kotor secara lahiriah, tetapi aku kotor secara batiniah. Karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih.” kata Syeikh Abu Yazid al-Busthami.
Ungkapan Syeikh Abu Yazid al-Busthami tadi tentu saja merupakan ungkapan rayuan agar si anjing hitam itu mau memaafkan kesalahannya. Jikalau binatang tadi mau berteman dengannya, tentu dengan suka rela ia mau memaafkan kesalahannya itu.

“Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama denganku dan menjadi sahabatku! Sebab, semua orang menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu. Siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu. Tetapi siapa pun yang bertemu denganmu akan menyambutmu bagaikan raja. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, tetapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari!” kata si anjing hitam.

Syeikh Abu Yazid al-Busthami masih termenung dengan kesalahannya. Setelah dilihatnya, ternyata si anjing hitam telah meninggalkannyasendirian di jalanan yang sepi itu. Si anjing hitam telah pergi dengan bekas ucapannya yang menyayat hati Syeikh Abu Yazid al-Busthami.

“Ya Allah, aku tidak pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing milikMu. Lantas, bagaimana aku dapat berjalan bersamaMu yang abadi dan kekal..? Maha Besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhlukMu yang terhina di antara semuanya.” seru Syeikh Abu Yazid al-Busthami.

KISAH YANG MENGAGUMKAN

KELEMBUTAN HATI YANG LUAR BIASA DARI SALAH SATU KETURUNAN RASULULLAH YAITU AL ‘ALLAMAH AS SAYYID BADRUDDIN AL-HASANI TERHADAP SEORANG PELACUR
Suatu saat ketika AL ‘ALLAMAH AS SAYYID BADRUDDIN AL-HASANI (seorang ulama besar ahli Hadist) sedang asyik membacakan serta mensyarahkan maksud hadis kepada para muridnya. Tiba-tiba sang guru berhenti membacakan hadis dan bertanya sesuatu yang membuatkan semua murid terheran-heran.
“Muridku semua, aku punya hajat yang sangat besar. siapa yang mampu menunaikan hajatku ini?” Tanya sang guru pada seluruh muridnya.
Salah seorang murid dekat Syeikh menjawab dengan penuh adab, “ Hajat apakah wahai Tuan Guru? Khabarkanlah kepada kami, semoga kami mampu untuk menunaikannya untuk Tuan Guru”.
Sang Guru menarik nafas dengan perlahan seraya berkata “ Aku punya sedikit harta yang ingin aku sedekahkan, adakah yang ingin membantuku membagikan harta ini?”
“Kami bersedia membantumu wahai Tuan Guru untuk membagikan harta ini” jawab murid tersebut dengan bersemangat.
“Bolehkah Tuan Guru jelaskan kepada kami kepada siapakah harta ini akan dibagikan?” seorang murid yang lain bertanya dengan lebih lanjut.
“Hartaku ini akan aku sedekahkan kepada para pelacur yang berada di tempat-tempat itu” Jawab Tuan Guru dengan tenang.
Murid pun bertanya tanya, masing-masing salah sangka dengan tujuan utama Tuan Guru yang terkenal alim dan soleh ini.
“Aku sudah mengira bahwa kalian tentu tidak akan mampu untuk melaksanakan hajatku ini. Kalau begitu tidaklah mengapa. Biarlah aku sendiri yang pergi menyampaikannya.”Tuan Guru menjawab dengan tenang.
Para murid merasa bersalah atas sikap yang mereka tunjukkan tadi. Salah seorang murid terdekat Tuan Guru menawarkan dirinya untuk menyampaikan harta tersebut. Bagaimana dia bisa membiarkan Tuan Guru yang terkenal hebat dan wara’ ini dibiarkan masuk dan datang ke tempat hina seperti itu.
“Ketuklah setiap pintu rumah pelacuran tersebut dan ketika kamu menyampaikan sedekah ini katakan bahawa ini adalah sedekah daripadaku (‘ALLAMAH AS SAYYID BADRUDDIN AL-HASANI) dan doakan aku semoga diberkati oleh Allah taala” Tuan Guru memberikan pesan kepada muridnya tersebut. (SEORANG ULAMA BESAR DI ZAMANNYA MEMINTA DOA KEPADA PELACUR)
Maka sang murid yang mulia ini melakukan tugasnya dengan penuh tanda tanya di dalam pemikirannya, mengapa Tuan Guru ingin sekali memberikan sedekah dan meminta didoakan oleh golongan hina ini. Namun arahan Tuan Guru harus dilaksanakan. Sang murid menutup mukanya dan terus masuk ke kawasan pelacuran tersebut.
Beliau mengetuk setiap pintu rumah pelacuran di kawasan itu dan menyampaikan apa yang dipesankan oleh Tuan Guru kepadanya.
“Assalamualaikum, maafkan saya mengganggu, saya adalah utusan daripada Tuan Guru ‘ALLAMAH AS SAYYID BADRUDDIN AL-HASANI, ingin menyampaikan sedekah dari beliau kepada kalian. Beliau berpesan agar mendoakan beliau semoga dirahmati oleh Allah taala”.
Para pelacur itu terkejut ketika mendengar nama Tuan Guru yang alim dan wara tersebut karena sudi memberikan sedekah dan meminta didoakan oleh mereka. Setelah selesai tugasnya, sang murid langsung pergi dari kawasan hitam tersebut sambil menghelakan nafasnya.
Masing-masing menanti-nanti, apakah yang akan terjadi selanjutnya setelah peristiwa tersebut. Keesokkannya..... paginya , sesuatu yang mengejutkan telah terjadi. Seluruh bumi Syria gempar karena keseluruhan pelacur yang ada di kawasan tersebut ramai-ramai datang menunaikan solat Subuh di Masjid Tuan Guru. Mereka datang dan mendengar majlis pengajian dari Tuan Guru dan bertaubat daripada segala dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Barulah semua murid faham mengapakah Tuan Guru ingin memberikan sedekah tersebut kepada golongan pelacur.
Ini merupakah karamah yang Allah taala kurniakan kepada Tuan Guru yang wara’. Dakwahnya yang sangat lembut dan berkesan memberikan dampak yang sangat besar kepada kehidupan pelacur-pelacur tersebut.
al-Alim al-Allamah Al Muhaddis al-Syam Sayyid Badruddin al-Hasani rahimahullahu taala. Beliau wafat pada 1354 Hijriyah. Beliau digelar “Khatimah al-Huffaz dan al-Muhaddissin”yang maksudnya adalah penutup kepada para ulama Hadist yang terkemuka. Pertama kali mengarang kitab adalah ketika umurnya belum sampai 20 tahun.
Subhanallah....
Begitu lembut dan indahnya dakwah beliau.....
Semoga kita semua mendapatkan berkah dari Allah sebagaimana yang beliau dapatkan, mendapatkan karomah kemuliaan dari Allah sebagaimana yang beliau dapatkan, mendapatkan rahmat dari Allah sebagaimana yang beliau dapatkan.....
Aamiin Yaa Allah..

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيّدنامُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيّدنا مُحَمَّدٍ

Sang Waliyullah dari Bogor (Al-Habib Umar Bin Hud Al Atthas)


Al-Habib Umar Bin Hud Al Atthas ( Cipayung, Bogor) adalah seorang ulama dan konon beliau juga seorang wali quthub usianya lebih dari 100 tahun dilahirkan di penghujung abad ke 19 di Hadramaut, Yaman Selatan.
Sejak usia muda beliau telah datang ke Indonesia. Mula-mula tinggal di Kwitang, Jakarta Pusat. Beliau berdakwah sambil berjualan kain di Pasar Tanah Abang. Kemudian membuka pengajian dan majelis maulid di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.
Sekitar tahun 1950-an, Beliau ke Mekkah dan bermukim selama beberapa tahun dan selama di mekkah beliu menggunakan kesempatan tersebut untuk belajar kepada ulama-ulama setempat.
Tapi, sayangnya, saat hendak kembali ke Indonesia, ia tertahan di Singapura.
Pasalnya, pada awal 1960-an terjadi konfrontasi antara RI dan Malaysia, sementara Singapura masih merupakan bagian negara itu.
Habib Umar baru kembali ke Tanah Air setelah usai konfrontasi, pada awal masa Orde Baru. Tapi, rupanya banyak hikmah yang diperoleh di balik kejadian tersebut.
Karena, selama lebih dari lima tahun di Malaysia dan Singapura, ternyata beliau sangat dihormati oleh umat Islam setempat, termasuk Brunei Darussalam.
Karenanya tidak heran kalau orang menyebut Maulid Nabi yang diselenggarakan Habib Umar di Cipayung sebagai maulid internasional. Maulid ini dihadiri sekitar 100.000 jamaah, termasuk ratusan jamaah dari mancanegara.
Untuk perjamuan makanan untuk para jamaah yang menghadiri maulid ini diperlukan ribuan ekor kambing dan berton-ton beras. Kalau ditanya orang dari mana dananya, maka Habib Umar selalu bilang dari Allah.
Sesuatu yang mungkin lain dibandingkan dengan acara-acara maulud di majelis lain adalah, tidak ada ceramah-ceramah setelah baca maulud. Acaranya langsung saja yakni baca maulud, zikir dan ditutup dengan do’a.
Tidak adanya ceramah-ceramah yang sudah tradisi sejak lama itu, karena Habib Umar khawatir akan menimbulkan saling serang dan fitnah.
Kegiatan rutin Habib Umar yang lain yang memasyarakat adalah shalat subuh berjamaah di kediamannya di Condet. Setiap hari terdapat sekitar 300 jamaah subuh yang datang. Khusus pada hari Jumat, jamaahnya meningkat menjadi sekitar 1.000 orang.
Setiap Sabtu mereka para jama’ah diberikan pelajaran Fiqih sedangkan di Cipayung bogor tiap kamis malam diadakan pembacaan maulid diba’ dan yang menarik adalah setelah diadakan kegiatan tersebut para jama’ah dijamu oleh Habib Umar Bin Hud seperti nasi uduk lengkap dengan lauk-pauknya.
Habib Umar meninggal dunia pada bulan Agustus 1999 di rumahnya dan dimakamkan di Wakaf al-Hawi dekat dengan pusat perbelanjaan PGC cililtan sesuai dengan wasiat beliau.

Kisah Nabi Khidir dan Nabi Ilyas



Kitab Al-Asror Rabbaniyyah wal Fuyudhatur RahmaniyyahDi dalam kitab "Al-Asror Rabbaniyyah wal Fuyudhatur Rahmaniyyah" karya Syeikh Ahmad Shawi Al-Maliki halaman 5 diterangkan yang artinya sebagai berikut:
Telah berkata guru dari guru-guru kami, Sayyid Mushtofa Al-Bakri: Telah berkata Al-'Ala'i di dalam kitab tafsirnya bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas as hidup kekal sampai hari kiamat. Nabi Khidir as berkeliling di sekitar lautan sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di lautan.
Sedangkan, Nabi Ilyas berkeliling di sekitar gunung-gunung sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di gunung-gunung. Inilah kebiasaan mereka di waktu siang hari. Sedangkan di waktu malam hari mereka berkumpul di bukit Ya'juj wa Ma'luj (يأجوج و مأجوج) sambil mereka menjaganya.
Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas berjumpa pada tiap-tiap tahun di Mina (Saudi Arabia). Mereka saling mencukur rambutnya secara bergantian. Kemudian mereka berpisah dengan mengucapkan kalimat:
بسم الله ما شاء الله لا يسوق الخير الا الله
بسم الله ما شاء الله لا يصرف السو ء الا الله
بسم الله ما شاء الله ما كان من نعمة فمن الله
بسم الله ما شاء الله لا حول و لا قوة الا بالله
Maka barangsiapa mengucapkan kalimat-kalimat ini pada waktu pagi dan sore hari, maka ia akan aman dari tenggelam, kebakaran, pencurian, syaitan, sultan, ular, dan kalajengking.
Dan telah dikeluarkan oleh Ibnu 'Asakir bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas itu berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis (Palestina) dan mereka melakukan ibadah haji pada tiap-tiap tahun. Mereka minum air zamzam dengan sekali tegukan, yang mencukupkan mereka seperti minuman dari Kabil.
Sebagian ulama menceritakan bahwa sesungguhnya Nabi Khidir itu putera Nabi Adam as yang diciptakan dari tulang iganya. Menurut segelintir kecil ulama lagi beliau putera Halqiya. Ada yang mengatakan putera Kabil bin Adam. Adapula yang mengatakan beliau itu cucunya Nabi Harun as, yaitu putera bibinya Iskandar Dzul Qarnain. Dan Perdana Menterinya benar-benar aneh mengatakan bahwa Nabi Khidir itu dari golongan malaikat.
Sedangkan, menurut pendapat ulama yang paling shohih adalah bahwa Khidir itu adalah seorang Nabi. Menurut ulama jumhur beliau itu masih hidup dan beliau tidak akan pernah meninggal terkecuali pada hari kiamat apabila Al-Qur'an telah diangkat dan Dajjal telah membunuhnya. Kemudian, Allah menghidupkannya kembali. Sesungguhnya, beliau itu masa hidupnya panjang sekali. Karena, beliau meminum air kehidupan.
 
 
Sumber : DR KH Thobary Syadzily, MKub

Asal Usul Para Habaib di Nusantara



perkembangan alawiyyin di indonesiaMenurut Muhammad bin Ahmad al-Syatri dalam kitabnya Adwar al-Tarikh al-Hadrami, bangsa Arab terbagi menjadi tiga golongan : al-Ba’idah yaitu bangsa Arab terdahulu dan kabar berita tentang mereka telah terputus karena sudah terlalu lama, al-’Aribah yaitu orang-orang Arab Yaman keturunan Qahthan, al-Musta’ribah yaitu keturunan Nabi Ismail as (Adnaniyah).

[1]. Karena golongan yang pertama sudah tidak ada lagi maka para ahli sejarah hanya mengkaji golongan yang kedua dan ketiga, yaitu bani Qahthan dan bani Ismail. Bani Ismail as adalah keturunan dari Nabi Ismail as anak Nabi Ibrahim as yang mula-mula berdiam di kota Ur yang merupakan kota di Babylonia. Nabi Ibrahim as meninggalkan kota Ur dan berpindah ke Palestina. Setelah Nabi Ibrahim as mempunyai anak dari Siti Hajar yang bernama Ismail as, mereka pindah ke Hijaz tepatnya di Wadi Mekkah.

Nabi Ismail as mempunyai putera sebanyak dua belas orang, masing-masing mempunyai keturunan. Tetapi kemudian keturunan mereka terputus, hanya keturunan Adnan-lah yang berkembang biak, sebab itu bani Ismail ini dinamai juga bani Adnan. Sedangkan Bani Qahthan menurunkan suku Tajib dan Sodaf. Bani Qahthan berasal dari Mesopotamia dan kemudian pindah ke negeri Yaman. Penduduk asli Yaman adalah kaum ‘Ad yang kepada mereka diutus Nabi Hud as. Mereka dibinasakan oleh Allah swt dengan menurunkan angin yang amat keras. Kaum ‘Ad yang dibinasakan ini disebut kaum ‘Ad pertama, sedangkan kaum ‘Ad yang masih mengikuti Nabi Hud as disebut kaum ‘Ad kedua. 

Sesudah Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah di Mekkah, jadilah kota Mekkah itu kota yang paling masyhur di tanah Hijaz, dan berdatanganlah orang dari segenap penjuru jazirah Arab ke Mekkah untuk naik haji dan ziarah ke Baitullah. Karena itu lama kelamaan kota Mekkah menjadi pusat perniagaan. 


Pertama kali kota Mekkah dipegang oleh bani Adnan, karena itu bani Adnanlah yang memelihara dan menjaga Ka’bah. Sesudah runtuhnya kerajaan Sabaiah, maka berpindahlah satu suku yang bernama Khuza’ah dari Yaman ke Mekkah dan mereka merampas kota Mekkah dari tangan bani Adnan. Dengan demikian berpindahlah penjagaan Baitullah dari bani Adnan kepada bani Khuza’ah.
Di kemudian hari, dari suku Quraisy terdapat seorang pemimpin yang kuat dan cerdas, namanya Qushai. Qushai ini beruntung dapat merebut kunci Ka’bah dari bani Khuza’ah dan kemudian mengusir bani Khuza’ah itu dari Mekkah. Maka jatuhlah kembali kekuasaan di Mekkah ke tangan bani Adnan. Kemudian Qushai diangkat menjadi raja yang di tangannya terhimpun kekuasaan keagamaan dan keduniaan. Sesudah Qushai meninggal kekuasaan tersebut dipegang oleh keturunannya yang bernama Abdi Manaf. 

Abdu Manaf mempunyai empat anak: Abdu Syams, Naufal, al-Muththalib dan Hasyim.


[2]. Hasyim adalah keluarga yang dipilih oleh Allah yang diantaranya muncul Muhammad bin Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hasyim. Rasulullah saw pernah bersabda :
“Sesungguhnya Allah telah memilih Isma’il dari anak keturunan Ibrahim, memilih Kinanah dari anak keturunan Isma’il, memilih Quraisy dari anak keturunan Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy dan memilihku dari keturunan Bani Hasyim. “.(H.R. Muslim dan at-Turmudzy). 


Dari al-’Abbas bin Abdul Muththalib, dia berkata, Rasulullah saw bersabda :
“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikanku dan sebaik-baik golongan mereka dan sebaik-baik dua golongan, kemudian memilih beberapa kabilah, lalu menjadikanku diantara sebaik-baik kabilah, kemudian memilih beberapa keluarga Ialu menjadikanku diantara sebaik-baik keluarga mereka, maka aku adalah sebaik-baik jiwa diantara mereka dan sebaik-baik keluarga diantara mereka”. (Diriwayatkan oleh at-Turmudzy).
Dari keturunan inilah Allah swt telah menerbitkan cahaya cemerlang, menerangi semesta alam, dikarenakan agama Islam yang dibawa keturunan Adnan kepada masyarakat Hadramaut yang berasal dari keturunan Qahthan. Diantara keturunan Adnan yang berada di Hadramaut adalah kaum Alawiyin, sebelumnya mereka menetap di Basrah, Iraq.
Tokoh pertama golongan Alawi di Hadramaut adalah Ahmad bin Isa yang dijuluki al-Muhajir.


[3]. Kepindahannya ke Hadramaut disebabkan kekuasaan diktator kekhalifahan Bani Abbas yang secara turun menurun memimpin umat Islam, mengakibatkan rasa ketidakpuasan di kalangan rakyat. Rakyat mengharapkan salah satu keturunan Rasulullah dapat memimpin mereka. Akibat dari kepemimpinan yang diktator, banyak kaum muslim berhijrah, menjauhkan diri dari pusat pemerintahan di Bagdad dan menetap di Hadramaut. Imam Ahmad bin Isa keadaannya sama dengan para sesepuhnya. Beliau seorang ‘alim, ‘amil (mengamalkan ilmunya), hidup bersih dan wara’ (pantang bergelimang dalam soal keduniaan). Di Iraq beliau hidup terhormat dan disegani, mempunyai kedudukan terpandang dan mempunyai kekayaan cukup banyak. Mereka hijrah ke Hadramaut bukan karena dimusuhi atau dikejar-kejar tetapi mereka lebih mementingkan keselamatan aqidah keluarga dan pengikutnya. Mereka hijrah dari Basrah ke Hadramaut mengikuti kakeknya Rasulullah saw hijrah dari Makkah ke Madinah.
Mengenai hijrahnya Imam Ahmad Al-Muhajir ke Hadramaut, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya Risalah al-Muawanah mengatakan : Al-Imam Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin al-Imam Ja’far Shadiq, ketika menyaksikan munculnya bid’ah, pengobralan hawa nafsu dan perbedaan pendapat yang makin menghangat, maka beliau hijrah dari negaranya (Iraq) dari tempat yang satu ke tempat yang lain hingga sampai di Hadramaut, beliau bermukim di sana hingga wafat.
Ketika beliau berangkat hijrah dari Iraq ke Hijaz pada tahun 317 H beliau ditemani oleh istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin al-Hasan bin ‘Ali al-‘Uraidhy, bersama putera bungsunya bernama Abdullah, yang kemudian dikenal dengan nama Ubaidillah. Turut serta dalam hijrah itu cucu beliau yang bernama Ismail bin Abdullah yang dijuluki dengan Bashriy. Turut pula dua anak lelaki dari paman beliau dan orang-orang yang bukan dari kerabat dekatnya. Mereka merupakan rombongan yang terdiri dari 70 orang. Imam al-Muhajir membawa sebagian dari harta kekayaannya dan beberapa ekor unta ternaknya. Sedangkan putera-puteranya yang lain ditinggalkan menetap di Iraq.


[4]. Tibalah Imam al-Muhajir di Madinah al-Munawwarah dan tinggal di sana selama satu tahun. Pada tahun itulah kaum Qaramithah memasuki kota Makkah dan menguasainya. Mereka meletakkan pedang di al-Hajij dan memindahkan Hajarul-Aswad dari tempatnya ke tempat lain yang dirahasiakan. Pada tahun berikutnya al-Muhajir berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Dari Makkah beliau menuju Asir lalu ke Yaman. 

 Di Yaman beliau meninggalkan anak pamannya yang bernama Sayyid Muhammad bin Sulaiman, datuk kaum Sayyid al-Ahdal. Kemudian Imam al-Muhajir berangkat menuju Hadramaut dan menetap di Husaisah. Imam al-Muhajir menetap di Hadramaut atas dasar pengarahan dari Allah SWT, sebab kenyataan menunjukkan, setelah beliau hijrah ke negeri itu di sana memancar cahaya terang sesudah beberapa lama gelap gulita. Penduduk Yaman khususnya Hadramaut yang mengaku penduduk asli dari keturunan Qahthan, yang awalnya bodoh dan sesat berubah menjadi mengenal ilmu dan berjalan di atas syariat Islam yang sebenarnya. Imam al-Muhajir dan keturunannya berhasil menundukkan masyarakat Hadramaut yang mempunyai faham Khawarij dengan dalil dan argumentasi. 

Maka masuklah Imam al-Muhajir ke Hadramaut. Ia bersikap lemah lembut dalam da’wahnya dan menempuh cara yang halus dan mengeluarkan hartanya. Maka banyak orang-orang Khawarij yang datang kepadanya dan taubat di tangannya setelah mereka berusaha menentang dan mencacinya. Ia juga menolong qabilah al-Masyaikh al-Afif. Dan bergabung juga dengannya qabilah Kindah dan Madij. Mereka meninggalkan madzhab Ibadhiy dan bercampur dengan orang-orang yang datang dari Iraq.


[5]. Kaum Khawarij tidak mengakui atau mengingkari Imam al-Muhajir berasal dari keturunan Nabi Muhammad saw. Untuk memantapkan kepastian nasabnya sebagai keturunan Rasulullah saw, sayyid Ali bin Muhammad bin Alwi berangkat ke Iraq.

 Di sanalah ia beroleh kesaksian lebih dari seratus orang terpercaya dari mereka yang hendak berangkat menunaikan ibadah haji. Kesaksian mereka yang mantap ini lebih dimantapkan lagi di Makkah dan beroleh kesaksian dari rombongan haji Hadramaut sendiri. Dalam upacara kesaksian itu hadir beberapa orang kaum Khawarij, lalu mereka ini menyampaikan berita tentang kesaksian itu ke Hadramaut. 

Dan diantara ulama ahli nasab dan sejarah yang telah memberikan perhatiannya terhadap kebenaran nasab keturunan al-Imam al-Muhajir dan silsilah mereka yang mulia, ialah : pertama, al-Allamah Abu Nash Sahal bin Abdullah al-Bukhori dalam kitabnya Sirru al-Silsilah al-Alawiyah tahun 341hijriyah. Kedua, al-Nasabah Abu Hasan Najmuddin Ali bin Abi al-Ghonaim Muhammad bin Ali al-Amiri al-Bashri, wafat tahun 443. Di antara kitabnya adalah al-Majdi wa al-Mabsuth wa al-Musajjar. Ketiga, al-Allamah Muhammad bin Ja’far al-Ubaidili dalam kitabnya Tahdzib al-Ansab, wafat tahun 435 hijriyah. Keempat, al-Allamah al-Yamani Abu al-Abbas al-Syarajji dalam kitabnya Thabaqat al-Khawash Ahl al-Shidqi wa al-Ikhlas. Di dalamnya disebutkan mengenai hijrahnya Saadah keluarga al-Ahdal dan Bani Qudaimi, disebutkan awal pertama mereka tinggal di daerah Wadi Saham, Wadi Surdud, dan Hadramaut. 


Dan terdapat pula dari beberapa ulama nasab yang mempunyai catatan-catatan ringkas mengenai nasab keturunan Rasulullah yang mulia ialah al-Imam al-Nasabah al-Murtadho al-Zubaidi dan al-Nasabah Ibnu Anbah pengarang kitab Umdah al-Thalib. Selain mereka banyak pula yang mengadakan penelitian tentang nasab keturunan Rasulullah saw yang mulia, hasilnya mereka mendapatkan kebenaran yang tidak diragukan lagi, sebagaimana hukum syar’i yang telah menjelaskan masalah interaksi sosial dan keterangan-keterangan yang berkaitan dengan keberadaan mereka dalam bentuk dalil-dalil yang kuat yang menjelaskan kemuliaan nasab mereka, serta kepemimpinan mereka di wilayah Arab, Hindi, Turki, Afrika Timur, Asia, semuanya merupakan dalil yang kuat tentang keberadaan mereka.
Di antara peneliti tersebut ialah al-Khazraji, al-Yafi’, al-Awaji, Ibnu Abi al-Hub, al-Sakhowi, Abu Fadhol, Abu Ubbad, Ibnu Isa al-Tarimi, al-Junaid, Ibnu Abi al-Hissan, Ibnu Hajar al-Haitami, Ibnu Samuroh, Ibnu Kabban, Bamahramah, Ibnu Fahd, Ibnu Aqilah, al-Marwani al-Tarimi, dan lainnya sebagaimana dijelaskan oleh Sayid Dhiya’ Shahab dalam bukunya ‘al-Imam al-Muhajir’. Terakhir, nasab keturunan Rasulullah saw dibahas oleh Sayid Abdullah bin Hasan Bilfaqih dalam kitab Tafnid al-Maza’im, Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad dalam kitab al-Qaul al-Fashlu dan al-Syamil fi Tarikh Hadramut, Sayid Abdurrahman bin Ubaidillah al-Saqqaf dalam kitab Badhoi’ al-Tabut.


[6]. Dengan demikian mantaplah sudah pengakuan masyarakat luas mengenai keutamaan para kaum ahlul-bait sebagai keturunan Rasulullah saw melalui puteri beliau Siti Fatimah Az-Zahra dan Imam Ali bin Abi Thalib. Rasulullah saw bersabda :
‘Setiap putra ibu akan bergabung nasabnya kepada ashabahnya (pihak ayah), kecuali anak-anak Fathimah, Akulah wali mereka dan akulah ashabah mereka’.


[7]Al-allamah Yusuf bin Ismail al-Nabhany dalam bukunya Riyadhul Jannah mengatakan : ‘Kaum Sayyid Baalawi oleh umat Muhammad saw sepanjang zaman dan di semua negeri telah diakui bulat sebagai ahlul-bait nubuwah yang sah, baik ditilik dari sudut keturunan maupun kekerabatan, dan mereka itu adalah orang-orang yang paling tinggi ilmu pengetahuan agamanya, paling banyak keutamaannya dan paling tinggi budi pekertinya’.

[8]Ahmad bin Isa wafat di Husaisah pada tahun 345 Hijriah. Beliau mempunyai dua orang putera yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut dan mendapat tiga orang putera yaitu Alwi, Jadid dan Ismail (Bashriy). Dalam tahun-tahun terakhir abad ke 6 H keturunan Ismail (salah satu keturunannya ialah Syekh Salim Bin Bashriy) dan Jadid (salah satu keturunannya ialah al-Imam Abi Jadid Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Jadid) punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap lestari. 

Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian dikenal dengan kaum Sayyid Alawiyin.
Kita dapat menyaksikan bahwa sekarang anak cucu dan keturunan Imam Ahmad bin Isa menyebar di berbagai pelosok Hadramaut, dan di daerah pesisir lautan Hindia, seperti Asia Tenggara, India dan Afrika Timur. Para da’i dan ulama-ulama mereka mempunyai peranan yang besar di tanah air mereka yang baru. Karena itu para penguasa, sultan, dan penduduk-penduduknya memuliakan mereka karena karya mereka yang baik dan agung. 


Para sayyid Alawiyin menyebarkan da’wah Islamiyah di Asia Tenggara melalui dua tahap, pertama hijrah ke India. Kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke Asia Tenggara melalui pesisir India. Di antara yang hijrah ke India adalah seorang alim syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota ‘Kanur’ dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai wafat. Lalu syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Ahmadabad dan Surat. Ia hijrah atas permintaan kakeknya syarif Syech bin Abdullah Alaydrus. Begitu pula keluarga Abdul Malik yang diberi gelar ‘Azhamat Khan’. Dari keluarga inilah asal keturunan penyebar Islam di Jawa yang disebut dengan Wali Songo


[9]. Kemudian dari India, mereka melanjutkan perjalanannya ke Indonesia, yaitu daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.
Menurut Prof. Dr. Hamka, sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Filipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan pembangun kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi raja di Aceh. 


Negeri Pontianak pernah diperintah bangsa sayid al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa sayid Bin Syahab. Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi ulama. 

Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Isa al-Muhajir dan al-Faqih al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal ialah keluarga Alatas, Assaqaf, Alkaf, Bafaqih, Alaydrus, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Al-Haddad, Bin Smith, Bin Syahab, Al-Qadri, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Basyaiban, Ba’abud, Al-Zahir, Bin Yahya dan lain-lain. Yang menurut keterangan almarhum sayid Muhammad bin Abdurrahman Bin Syahab

[10] telah berkembang jadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah dari Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir. Ahmad bin Isa al-Muhajir Illallah inilah yang berpindah dari Basrah ke Hadramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad bin Isa al-Muhajir bin Muhammad al-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far al-Shaddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain al-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib. As-Sibthi artinya cucu, karena Husain adalah anak dari Fathimah binti Rasulullah saw.
Orang-orang Arab Hadramaut mulai datang secara massal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir abad 18, sedangkan kedatangan mereka di pantai Malabar jauh lebih awal. Perhentian mereka yang pertama adalah Aceh. Dari sana mereka lebih memilih pergi ke Palembang dan Pontianak. Orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820, dan koloni-koloni mereka baru tiba di bagian Timur Nusantara pada tahun 1870. Pendudukan Singapura oleh Inggris pada tahun 1819 dan kemajuan besar dalam bidang perdagangan membuat kota itu menggantikan kedudukan Aceh sebagai perhentian pertama dan titik pusat imigrasi bangsa Arab. Sejak pembangunan pelayaran dengan kapal uap di antara Singapura dan Arab, Aceh bahkan menjadi tidak penting sama sekali.
Di pulau Jawa terdapat enam koloni besar Arab, yaitu Batavia, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang dan Surabaya. Di Madura hanya ada satu yaitu di Sumenep.. Koloni Arab di Surabaya dianggap sebagai pusat koloni di pulau Jawa bagian Timur. Koloni Arab lain yang cukup besar berada di Pasuruan, Bangil, Probolinggo, Lumajang, Besuki dan Banyuwangi. Koloni Arab di Besuki mencakup pula orang Arab yang menetap di kota Panarukan dan Bondowoso. 


Koloni-koloni Arab Hadramaut khususnya Alawiyin yang berada lokasi pesisir tetap menggunakan nama-nama famili mereka, sedangkan Alawiyin yang tidak dapat pindah ke pesisir karena berbagai sebab kemudian berganti nama dengan nama Jawa, mereka itu banyak yang berasal dari keluarga Bayaiban, Ba’bud, Bin Yahya dan lainnya.


[1] Jilid 1, hal. 25
[2] Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm al-Andalusi. Jamharoh Ansab al-Arab, hal. 14.
[3] Para ahli sejarah sepakat memberi gelar al-Muhajir hanya kepada al-Imam Ahmad bin Isa sejak hijrahnya dari negeri Iraq ke daerah Hadramaut, hanya al-Imam al-Muhajir yang khusus menerima gelar tersebut meskipun banyak pula orang-orang dari kalangan ahlul bait dan dari keluarga pamannya yang berhijrah menjauhi berbagai macam fitnah dan berbagai macam gerakan yang timbul.
[4] Idrus Alwi Al-Masyhur, Menelusuri Silsilah Suci Bani Alawi, hal. 15.
[5] Muhammad Hasan Alaydrus, Penyebaran Islam di AsiaTenggara, hal 22.
[6] Abubakar Al-Adeni Bin Ali Al-Masyhur, Al-Abniyah al-Fikriyah, hal. 25.
[7] Jalaluddin Al-Suyuthi, Ihya al-Mait Fi Fadhail Ahlu al-Bait, hal. 42.
[8] Idrus Alwi Al-Masyhur, op cit, Hal. 15.
[9] Muhammad Hasan Alaydrus, op cit, hal. 35.
[10] Beliau adalah salah satu pendiri Rabithah Alawiyah dan menjadi ketua yang pertama.
Oleh: benmashoor

Simak di: http://www.sarkub.com/2011/asal-usul-para-habaib-di-nusantara/#ixzz2nPGfboX2

Translate

Instagram kami

Laman Facebook Kami

Galeri

DONASI

.