Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan

Dari Mana Mengenal Allah….

Didalam tausiahnya pada acara khaul Imamain Al Ustadzul Imam Al Habr Al Quthub Al Habib AbdulQadir bin Ahmad Bilfaqih Al Alawy ra Ke 55 dan Al Ustadzul Imam Al Quthub Al Hafidz Al Musnid Al Habib Abdullah Bin AbdulQadir Bilfaqih Al Alawy ra ke 25 ,Di Ponpes Darrul Hadits Malang tadi pagi 03 April 2016, beliau Al Habib Taufiq bin AbdulQadir Assegaf dari Pasuruan Jawa Timur menyampaikan sebuah kisah.


Pernah suatu ketika Al Habib Ahmad bin Hasan Al Athost berkunjung ke satu daerah yang disana kebanyakan penghuninya anti ziarah kubur, tawassul, mendoakan orang mati ,dll.

Kebetulan beliau hadir pada saat sholat jum’at, ketika khotib melihat kehadiran seseorang yang gerak geriknya menunjukkan keluhuran, lalu khotib meminta beliau untuk menjadi imam sholat jum’at.

Ketika beliau menjadi imam, bacaan Qur’annya begitu menyihir jamaah hingga jamaah pun tidak puas apabila beliau hanya menjadi imam namun beliau setelah sholat diminta lagi untuk memberikan nasehat.

Sebelum memberikan nasehat, beliau mengatakan ; “saya ingin bertanya tapi anda jangan marah…”.
Mereka menjawab “silahkan, kami tidak akan marah…”
Beliau kemudian bertanya ; “Siapa Tuhanmu ?”
Suasanapun menjadi ricuh karena pertanyaan beliau. Namun mereka akhirnya menjawab ; “Tuhan kami Allah.”
Kemudian beliau bertanya lagi ; “Siapa Nabimu?”
Mereka menjawab ; “Nabi kami adalah Nabi Muhammad.”

Kemudian beliau melanjutkan lagi ; ” Kalau begitu darimana kamu mengenal Allah dan Nabi Muhammad ?”
Mereka lalu bingung. Al Habib Ahmad akhirnya menjawab ; “Kalian mengenal Allah dan Nabi Muhammad bukan lewat wahyu, akan tetapi lewat guru. Apa salahnya kalau kita berziarah ke makam guru kita, mendoakannya dan menyebut namanya.”

Mereka hanya terdiam tanpa bisa menjawab.
*Carilah guru yang sanadnya bersambung hingga kepada orang orang sholeh yang mempunyai kedekatan di hadapan Allah,seperti shohibul khaul yang nasab serta sanadnya bersambung hingga Rasulullah SAW,Malaikat Jibril AS dan Allah SWT
Semoga kisah singkat ini bisa mengembalikan hatinya kaum muslimin untuk mengikuti ajaran kaum sholihin.
Amiin Yaa Robbal ‘Alamin…..

Menyelami pemikiran Gus Dur itu memang BUTUH PIKNIK....!!!



COPAS dari group WA Islam Nusantara :

KISAH SEORANG BERNAMA GUS DUR (Allah yarham) PERCAYA ATAU TIDAK? TERSERAH, Namun selalu ada hikmah disetiap kisah...simak kisah berikut...

Di akhir tahun 1998 Gus Dur rawuh (datang) di Wonosobo. Saat itu sedang ramainya era reformasi, beberapa bulan setelah Pak Harto jatuh. Dan ini terjadi beberapa bulan sebelum Gus Dur menjadi orang nomer satu di Negeri ini. Beliau masih menjabat sebagai Ketua PBNU.

Bertempat di Gedung PCNU Wonosobo, Gus Dur mengadakan pertemuan dengan pengurus NU dari Wonosobo, Banjarnegara, Pubalingga, Kebumen, Temanggung dan Magelang. Tentu saja semua kiai ingin tahu pendapat Gus Dur tentang situasi politik terbaru. Penulis hadir di situ walaupun bukan kiai, dan duduk persis di depan Gus Dur. Penulis lah yang menuntun Gus Dur menaiki Lantai 2 PCNU Wonosobo.

“Pripun Gus situasi politik terbaru?” tanya seorang kiai.

“Orde Baru tumbang, tapi Negeri ini sakit keras.” kata Gus Dur.

“Kok bisa Gus?”

“Ya bisa, wong yang menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi tanpa perencanaan yang jelas. Setelah tumbang mereka bingung mau apa, sehingga arah reformasi gak genah. Bahkan Negeri ini di ambang kehancuran, di ambang perang saudara. Arah politik Negeri ini sedang menggiring Negeri ini ke pinggir jurang kehancuran dan separatisme. Lihat saja, baru berapa bulan Orde Reformasi berjalan, kita sudah kehilangan propinsi ke-27 kita, yaitu Timor Timur.” kata Gus Dur.

Kiai tersebut sebagaimana biasa, kalau belum mulai bicara. Pak Habibi, kita semua akan merasa kasihan dengan sikap Gus Dur yang datar dan seperti capek sekali dan seperti aras-arasen bicara. Tapi kalau sudah mulai, luar biasa memikat dan ruangan jadi sepi kayak kuburan, tak ada bunyi apapun selain pangendikan Gus Dur.

Seorang kiai penasaran dengan calon presiden devinitif pengganti Pak Habibi yang hanya menjabat sementara sampai sidang MPR. Ia bertanya: “Gus, terus siapa yang paling pas jadi Presiden nanti Gus?”

“Ya saya, hehehe…” kata Gus Dur datar.

Semua orang kaget dan menyangka Gus Dur guyon seperti biasanya yang memang suka guyon.

“Yang bisa jadi presiden di masa seperti ini ya hanya saya kalau Indonesia gak pingin hancur. Dan saya sudah dikabari kalau-kalau saya mau jadi presidan walau sebentar hehehe...” kata Gus Dur mantab.

“Siapa yang ngabari dan yang nyuruh Gus?” tanya seorang kiai.

“Gak usah tahu. Orang NU tugasnya yakin saja bahwa nanti presidennya pasti dari NU,” kata Gus Dur masih datar seperti guyon.

Orang yang hadir di ruangan itu bingung antara yakin dan tidak yakin mengingat kondisi fisik Gus Dur yang demikian. Ditambah lagi masih ada stok orang yang secara fisik lebih sehat dan berambisi jadi presiden, yaitu Amin Rais dan Megawati. Tapi tidak ada yang berani mengejar pertanyaan tentang presiden RI.

Kemudian Gus Dur menyambung: “Indonesia dalam masa menuju kehancuran. Separatisme sangat membahayakan. Bukan separatismenya yang membahayakan, tapi yang memback up di belakangnya. Negara-negara Barat ingin Indonesia hancur menjadi Indonesia Serikat, maka mereka melatih para pemberontak, membiayai untuk kemudian meminta merdeka seperti Timor Timur yang dimotori Australia.”

Sejenak sang Kiai tertegun. Dan sambil membenarkan letak kacamatanya ia melanjutkan: “Tidak ada orang kita yang sadar bahaya ini. Mereka hanya pada ingin menguasai Negeri ini saja tanpa perduli apakah Negeri ini cerai-berai atau tidak. Maka saya harus jadi presiden, agar bisa memutus mata rantai konspirasi pecah-belah Indonesia. Saya tahu betul mata rantai konspirasi itu. RMS dibantu berapa Negara, Irian Barat siapa yang back up, GAM siapa yang ngojok-ojoki, dan saya dengar beberapa propinsi sudah siap mengajukan memorandum. Ini sangat berbahaya.”

Kemudiaan ia menarik nafas panjang dan melanjutkan: “Saya mau jadi presiden. Tetapi peran saya bukan sebagai pemadam api. Saya akan jadi pencegah kebakaran dan bukan pemadam kebakaran. Kalau saya jadi pemadam setelah api membakar Negeri ini, maka pasti sudah banyak korban. Akan makin sulit. Tapi kalau jadi pencegah kebakaran, hampir pasti gak akan ada orang yang menghargainya. Maka, mungkin kalaupun jadi presiden saya gak akan lama, karena mereka akan salah memahami langakah saya.”

Seakan mengerti raut wajah bingung para kiai yang menyimak, Gus Dur pun kembali selorohkan pemikirannya. “Jelasnya begini, tak kasih gambaran,” kata Gus Dur menegaskan setelah melihat semua hadirin tidak mudeng dan agak bingung dengan tamsil Gus Dur.

“Begini, suara langit mengatakan bahwa sebuah rumah akan terbakar. Ada dua pilihan, kalau mau jadi pahlawan maka biarkan rumah ini terbakar dulu lalu datang membawa pemadam. Maka semua orang akan menganggap kita pahlawan. Tapi sayang sudah terlanjur gosong dan mungkin banyak yang mati, juga rumahnya sudah jadi jelek. Kita jadi pahlawan pemyelamat yang dielu-elukan.”

Kemudian lanjutnya: “Kedua, preventif. Suara langit sama, rumah itu mau terbakar. Penyebabnya tentu saja api. Ndilalah jam sekian akan ada orang naruh jerigen bensin di sebuah tempat. Ndilalah angin membawa sampah dan ranggas ke tempat itu. Ndilallah pada jam tertentu akan ada orang lewat situ. Ndilalah dia rokoknya habis pas dekat rumah itu. Ndilalalah dia tangan kanannya yang lega. Terus membuang puntung rokok ke arah kanan dimana ada tumpukan sampah kering.”

Lalu ia sedikit memajukan duduknya, sambil menukas: “Lalu ceritanya kalau dirangkai jadi begini; ada orang lewat dekat rumah, lalu membuang puntung rokok, puntung rokok kena angin sehingga menyalakan sampah kering, api di sampah kering membesar lalu menyambar jerigen bensin yang baru tadi ditaruh di situ dan terbakarlah rumah itu.”

“Suara langit ini hampir bisa dibilang pasti, tapi semua ada sebab-musabab. Kalau sebab di cegah maka musabab tidak akan terjadi. Kalau seseorang melihat rumah terbakar lalu ambil ember dan air lalu disiram sehingga tidak meluas maka dia akan jadi pahlawan. Tapi kalau seorang yang waskito, yang tahu akan sebab-musabab, dia akan menghadang orang yang mau menaruh jerigen bensin, atau menghadang orang yang merokok agar tidak lewat situ, atau gak buang puntung rokok di situ sehingga sababun kebakaran tidak terjadi.”

Sejenak semua jamaah mangguk-mangguk. Kemudian Gus Dur melanjutkan: “Tapi nanti yang terjadi adalah, orang yang membawa jerigen akan marah ketika kita cegah dia naruh jerigen bensin di situ: “Apa urusan kamu, ini rumahku, bebas dong aku naruh di mana?” Pasti itu yang akan dikatakan orang itu.”

“Lalu misal ia memilih menghadang orang yang mau buang puntung rokok agar gak usah lewat situ, Kita bilang: “Mas, tolong jangan lewat sini dan jangan merokok. Karena nanti Panjenengan akan menjadi penyebab kebakaran rumah itu.” Apa kata dia: “Dasar orang gila, apa hubungannya aku merokok dengan rumah terbakar? Lagian mana rumah terbakar?! Ada-ada saja orang gila ini. Minggir! saya mau lewat.”

Kini makin jelas arah pembicaraannya dan semua yang hadir makin khusyuk menyimak. “Nah, ini peran yang harus diambil NU saat ini. Suara langit sudah jelas, Negeri ini atau rumah ini akan terbakar dan harus dicegah penyebabnya. Tapi resikonya kita tidak akan popular, tapi rumah itu selamat. Tak ada selain NU yang berpikir ke sana. Mereka lebih memilih: “Biar saja rumah terbakar asal aku jadi penguasanya, biar rumah besar itu tinggal sedikit asal nanti aku jadi pahlawan maka masyarakat akan memilihku jadi presiden.”

“Poro Kiai ingkang kinormatan.” kata Gus Dur kemudian. “Kita yang akan jadi presiden, itu kata suara langit. Kita gak usah mikir bagaimana caranya. Percaya saja, titik. Dan tugas kita adalah mencegah orang buang puntung rokok dan mencegah orang yang kan menaruh bensin. Padahal itu banyak sekali dan ada di banyak negara. Dan pekerjaan itu secara dzahir sangat tidak popular, seperti ndingini kerso. Tapi harus kita ambil. Waktu yang singkat dalam masa itu nanti, kita gak akan ngurusi dalam Negeri.”

“Kita harus memutus mata rantai pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka di Swiss, kita harus temui Hasan Tiro. Tak cukup Hasan Tiro, presiden dan pimpinan-pimpinan negara yang simpati padanya harus didekati. Butuh waktu lama,” lanjut Gus Dur.

“Belum lagi separatis RMS (Republik Maluku Sarani) yang bermarkas di Belanda, harus ada loby ke negara itu agar tak mendukung RMS. Juga negara lain yang punya kepentingan di Maluku,” kata Gus Dur kemudian.

“Juga separatis Irian Barat Papua Merdeka, yang saya tahu binaan Amerika. Saya tahu anggota senat yang jadi penyokong Papua Merdeka, mereka membiayai gerakan separatis itu. Asal tahu saja, yang menyerang warga Amerika dan Australia di sana adalah desain mereka sendiri.”

Kemudian Gus Dur menarik nafas berat, sebelum melanjutkan perkataan berikutnya. “Ini yang paling sulit, karena pusatnya di Israel. Maka, selain Amerika saya harus masuk Israel juga. Padahal waktu saya sangat singkat. Jadi mohon para kiai dan santri banyak istighatsah nanti agar tugas kita ini bisa tercapai. Jangan tangisi apapun yang terjadi nanti, karena kita memilih jadi pencegah yang tidak populer. Yang dalam Negeri akan diantemi sana-sini.”

Sekonyong beliau berdiri, lalu menegaskan perkataan terakhirnya: “NKRI bagi NU adalah Harga Mati!”

“Saya harus pamit karena saya ditunggu pertemuan dengan para pendeta di Jakarta, untuk membicarakan masa depan negara ini. Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” tutup Gus Dur.

Tanpa memperpanjang dialog, Gus Dur langsung pamit. Kita bubar dengan benak yang campur-aduk, antara percaya dan tidak percaya dengan visi Gus Dur. Antara realitas dan idealitas, bahwa Gus Dur dengan sangat tegas di hadapan banyak kiai bahwa dialah yang akan jadi presiden. Terngiang-ngiang di telinga kami dengan seribu tanda tanya.

Menghitung peta politik, rasanya gak mungkin. Yang terkuat saat itu adalah PDIP yang punya calon mencorong Megawati putri presiden pertama RI yang menemukan momentnya. Kedua, masih ada Partai Golkar yang juga Akbar Tanjung siap jadi presiden. Di kelompok Islam modern ada Amien Rais yang juga layak jadi presiden, dan dia dianggap sebagian orang sebagai pelopor Reformasi.

Maka kami hanya berpikir bahwa, rasional gak rasional, percoyo gak percoyo ya percoyo aja apa yang disampaikan Gus Dur tadi. Juga tentang tamsil rumah tebakar tadi. Sebagian besar hadirin agak bingung walau mantuk-mantuk karena gak melihat korelasinya NU dengan jaringan luar negeri.

Sekitar 3 bulan kemudian, Subhanallah… safari ke luar ternyata Gus Dur benar-benar jadi Presiden. Dan Gus Dur juga benar-benar bersafari ke luar negeri seakan maniak plesiran. Semua negara yang disebutkan di PCNU Wonosobo itu benar-benar dikunjungi. Dan reaksi dalam negeri juga persis dugaan Gus Dur saat itu bahwa Gus Dur dianggap foya-foya, menghamburkan duit negara untuk plesiran. Yang dalam jangka waktu beberapa bulan sampai 170 kali lawatan. Luar biasa dengan fisik yang (maaf) begitu, demi untuk sebuah keutuhan NKRI.

Pernah suatu ketika Gus Dur lawatan ke Paris (kalau kami tahu maksudnya kenapa ke Paris). Dalam negeri, para pengamat politik dan politikus mengatakan kalau Gus Dur memakai aji mumpung. Mumpung jadi presiden pelesiran menikmati tempat-tempat indah dunia dengan fasilitas negara.

Apa jawab Gus Dur: “Biar saja, wong namanya wong ora mudeng atau ora seneng. Bagaimana bisa dibilang plesiran wong di Paris dan di Jakarta sama saja, gelap gak lihat apa-apa, koq dibilang plesiran. Biar saja, gitu aja koq repot!”

Masih sangat teringat bahwa pengamat politik yang paling miring mengomentrai lawatan Gus Dur sampai masa Gus Dur lengser adalah Alfian Andi Malarangeng, mantan Menpora. Tentu warga NU gak akan lupa sakit hatinya mendengar ulasan dia. Sekarang terimalah balasan dari Tuhan.

Satu-satunya pengamat politik yang fair melihat sikap Gus Dur, ini sekaligus sebagai apresiasi kami warga NU, adalah Hermawan Sulistyo, atau sering dipanggil Mas Kiki. terimakasih Mas Kiki.

Kembali ke topik. Ternyata orang yang paling mengenal sepak terjang Gus Dur adalah justru dari luar Islam sendiri. Kristen, Tionghoa, Hindu, Budha dll. mereka tahu apa yang akan dilakukan Gus Dur untuk NKRI ini. Negeri ini tetap utuh minus Timor Timur karena jasa Gus Dur. Beliau tanpa memikirkan kesehatan diri, tanpa memikirkan popularitas, berkejaran dengan sang waktu untuk mencegah kebakaran rumah besar Indonesia.

Dengan resiko dimusuhi dalam negeri, dihujat oleh separatis Islam dan golongan Islam lainnya, Gus Dur tidak perduli apapun demi NKRI tetap utuh. Diturunkan dari kursi presiden juga gak masalah bagi beliau walau dengan tuduhan yang dibuat-buat. Silakan dikroscek data ini. Lihat kembali keadaan beberapa tahun silam era reformasi baru berjalan, beliau sama sekali gak butuh gelar “Pahlawan"

Inilah Akhlak Salafush Shalih

Alhabib Abu Bakar Adni berceita, "Ketika Alhabib Abdul Qadir ibn Ahmad Assegaf mengajar di Ashar bulan Ramadhan pada tahun 1407 H/ 1408 H, kita duduk dan Alhabib Abdul Qadir mengajar.

Selesai mengajar, tiba-tiba saja muncul seseorang dari golongan mereka lalu berdiri dan mencaci-maki Alhabib Abdul Qadir didepan kita semua. Waktu orang ini berdiri, dia mencaci-maki Alhabib Abdul-Qadir, mencaci-maki daripada orang tua kita, mencaci-maki daripada kitab yang kita baca pada saat itu dan orang ini juga mencaci-maki qasidah yang kita baca.

 Kemudian orang tersebut mengatakan, "Orang ini (maksudnya Alhabib Abdul Qadir) tidak mau shalat berjamaah di masjid kami, orang ini jelas-jelas munafik."
Dan ketika orang tersebut berbicara seperti itu, ada kurang lebih 200 orang dari Ahlul Bayt Nabiy shallallâhu alaihi wa sallam yang duduk yang mendengar ucapan itu dan masih banyak orang-orang lainnya yang kita tidak bisa berbuat apa-apa tatkala orang berbuat seperti itu.

 Setelah orang itu berdiri, berbicara yang begitu ngerinya dan ia pun duduk. Lalu Alhabib Abdul Qadir hanya mengatakan, "Barakallahu fiik wa jazakallah kheir, wa rattabal-fâtihah wa khatama/ Terimakasih banyak mudah-mudahan Allahu ta'âlâ membalas kamu dengan balasan yang sebagus-bagusnya, kemudian Alhabib Abdul Qadir ratibul-fatihah dan membubarkan majelisnya.

 Saya (Alhabib Abu Bakar Adni) lihat bahwa Alhabib Abdul Qadir tidak marah sama sekali, tidak membalasnya sama sekali dan tidak berbuat apa-apa sama sekali. Bahkan saya lihat wajahnya pun tidak berubah, justeru yang saya lihat beliau hanya menundukkan pandangannya ke bawah. Masya Allah Tabarakallah!!

*Sekelumit kisah yang saya dengar disaat bersama Alhabib Abu Bakar Adni Al Masyhur di Jabal Tawangmangu, Surakarta. Pada hari Kamis, 28 Mei 2015. To Be Continue ...
follow twitter @muhsinbsy/@layarpublishing
12 Sya'ban 1436 H/ 30 Mei 2015 M
Mohon Disebarluaskan!

MENGENAL LEBIH DEKAT

Al Habib Abubakar Adni Al Masyhur. (Cendekiawan Muslim Dari Yaman)
Dilahirkan di kota Ahwar pada tahun 1366 H. Dari keluarga yang cinta ilmu dan dakwah, sehingga sejak beliau masih belia kedua orang tuanya telah membuatnya hafal al-Quran. Beliau belajar pada para ulama yang berada di kawasan Hadramaut, seperti Ahwar, Aden, dan sekitarnya.

Sejak berumur empat belas tahun beliau telah dilatih oleh ayahnya untuk berdakwah, beliau bercerita bahwa diusia yang cukup muda itu sang ayah telah memerintahnya untuk membuat konsep khutbah jumat, setelah itu dibaca didepan sang ayah sebelum akhirnya disampaikan di mimbar.
Disamping belajar pada para ulama secara tradisional beliau juga belajar di sekolah hingga lulus dari Universitas Aden jurusan tarbiah.

Dimasa remaja, beliau menyaksikan intimedasi dan tekanan yang dilakukan oleh pemeritahan komunis pada rakyat Yaman terutama pada para tokoh dan ulama, termasuk pada keluarga beliau. Hal ini membuat beliau keluar dari tanah kelahirannya menuju Saudi Arabia, kejadian itu beliau tulis dalam sebuah karya sastera yang berjudul "al-khuruj min dairatul hamra."

Sesampainya di hijaz beliau diperintahkan oleh sang ayah untuk menjadi Imam disalah satu masjid di kota Jiddah sekaligus sebagai khotib dan guru. Mula-mula beliau ingin melanjutkan studinya ke al-Azhar, Mesir. Namun orang tua beliau kurang berkenan dan bahkan menganjurkan untuk belajar pada al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf.

Rupanya al-Habib Abdul Qadir membuat beliau terlena dalam samudera ilmu dan makrifah sehingga keinginan beliau untuk kemesir menjadi sirna. Dalam masalah ini beliau bercerita “keinginanku untuk belajar kemesir menjadi lenyap setelah aku berjumpa dengan al-Habib Abdul Qadir, sebab tujuan dan keinginanku telah ku jumpai di kota ini, sesuatu yang ku temukan pada diri al-Habib Abdulqadir adalah luasnya masyhad, ilmu yang memadai, kejernihan akal, dan kesungguhan orientasi serta akhlak nubuwah yang sempurna”.

"SHOLLU ALAN NABI MUHAMMAD"

CARA MENGAJARKAN ANAK MENGHAFAL AL QUR'AN SEJAK DINI



1. BAYI (0-2 TAHUN)
-Bacakan Al Qur'an dari surat Al fatihah
-Tiap hari 4 kali waktu (pagi, siang, sore, malam)
-Tiap 1 waktu satu surat diulang 3x
-Setelah hari ke-5 ganti surat An Naas dengan metode yang sama
-Tiap 1 waktu surat yg lain-lain diulang 1x2

2. DIATAS 2 TAHUN
-Metode sama dengan teknik pengajaran bayi. Jika kemampuan mengucapkan kurang, maka tambah waktu menghafalnya, mis dari 5 hari menjadi 7 hari
-Sering dengarkan murattal

3. DIATAS 4 TAHUN
-Mulai atur konsentrasi dan waktu untuk menghafal serius
-Ajari muraja'ah sendiri
-Ajari menghafal sendiri
-Selalu dimotivasi supaya semagat selalu terjaga
-Waktu menghafal 3-4x perhari



Allaahummaj'alna fii ahli Qur'an , Allaahumma baarik fi auladina wa dzurriiyatina bil Qur'an, Allaahummarzuqna istiqomah fi tilawatil wa hifzil Qur'an...wa adhilna fi jannati fi Qur'an...Aamiin Allaahumma Aamiin

AGAR TERLINDUNGI DARI PEMBEGALAN



HABIB AHMAD BIN NOVEL BIN SALIM BIN JINDAN berkata:

"Hari ini lagi marak yang namanya pembegalan, Sebenarnya sederhana, antum hanya lupa sama adabnya Nabi Muhammad SAW lupa sama sunnahnya Nabi Muhammad SAW lupa sama amalannya Nabi Muhammad SAW,

Jika antum mengamalkan amalan dari Nabi Muhammad SAW insyaAllah bisa melindungi antum dari permasalahan ini.

Nabi mengajarkan kita jika keluar rumah, sebelum keluar shalat sunnah dua rakaat terus baca do’a diajarin do’anya sama Nabi Muhammad SAW terus pamitan kepada orang tua, minta do’a sama orang tua kita dititipin oleh orang tua kepada Allah sWT,

Sebelum keluar rumah sedekah dulu, keluar dari rumah diawali pakai kaki kiri sambil baca do’a BISMILLAH TAWAKKALTU ‘ALALLAH WALA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAH

Antum akan dijaga oleh Allah SWT sampai antum pulang ke rumah. Nggak ada yang bakal mengganggu antum, ini bukan ane yang bilang namun ini asuransi dari Nabi Muhammad SAW.

Antum sedekah pagi-pagi sebelum jalan, yah Nabi bilang tidak akan ada musibah yang menimpa antum, Nabi SAW bersabda “ Bala/musibah tidak akan melangkahi sedekah yang dikeluarkan”.

Orang yang terpimpa bala/musibah tau gara-gara apa? Karena Tidak sedekah,

Jika kita melihat hal-hal yang tidak kita sukai di hadapan kita yah kita Tawakkal kepada Allah dan baca do’a yang diajarkan oleh Nabi, maka pulang –pergi dijaga oleh Allah SWT.

Begitu sampai rumah syukur kepada Allah. Ucapkan “Alhamdulillah.. selamat sampai di rumah” terus masuk rumah paki kaki kanan ucapkan salam sama keluarga lalu baca ayat kursi, udah Itu aja.

Ringan nggak kira-kira? Ini amalan yang ringan cuman kalu disepelekan datang bala yang kayak begini namun kalau kita amalkan maka kita akan dijaga oleh Allah SWT. Yah jadikan ini perisai buat kita.

Nasehat-nasehat Al Habib Abdullah Al Aydrus

Nasehat-nasehat Al Habib Abdullah Al Aydrus yang tertuang dalam kitab Al kibritul Ahmar : 


• Peraslah jasadmu dengan mujahadah ( memerangi hawa nafsu dunia ) sehingga keluar minyak kemurnian.
• Barangsiapa yang menginginkan keridhaan Allah, hendaklah mendekatkan diri kepada Allah swt, karena keajaiban dan kelembutan Allah terdapat pada akhir malam.
• Siapapun dengan penuh kesungguhan hati mendekatkan diri kepada Allah swt, maka terbukalah Khazanah Allah swt.
• Diantara waktu yang bernilai tinggi, merupakan pembuka perbendaharaan Ilahi, diantara zuhur dan ‘Asar, Magrib dan Isya dan tengah malam terakhir sampai Ba’da Subuh.
• Sumber segala kebaikan dan pangkal segala kedudukan dan keberkahanakan dicapai melalui ingat mati, kubur dan bangkai.
• Keridhoan Allah swt dan Rasulnya terletak pada muthalaah( mempelajari dan memperdalam ) Al qur’an dan hadits serta kitab-kitab agama islam.
• Meninggalkan dan menjauhi Ghibah adalah Raja atas dirinya, menjauhi namimah (mengadu domba) adalah Ratu dirinya, baik sangka kepada orang lain adalah wilayah dirinya, duduk bercampur dalam majlis dzikir adalah keterbukaan hatinya.
• Kebaikan seluruhnya bersumber sedikit bicara ( tidak berbicara yang jelek didalam bertafakur tentang Ilahi dan ciptaannya terkandung banyak rahasia.)
• Jangan kau abaikan sedekah pada setiap hari sekalipun sekecil atom; perbanyaklah baca Al qur ‘an setiap siang dan malam hari.
• Ciri-ciri orang yang bahagia adalah mendapatkan taufik dalam hidupnya, banyak ilmu dan amal serta baik perangi maupun tingkah lakunya.
• Orang yang berakal adalah yang diam (tidak bicara sembarangan)
• Orang yang takut pada Allah swt adalah orang yang banyak sedih (merasa bersalah)
• Orang yang Roja’ ( mengharap Ridho Allah ) adalah orang yang banyak melakukan ibadah
• Orang yang mulia adalah yang bersungguh-sungguh dalam kebaikan dan ridho Allah swt yang didambakan hidupnya.
• Orang yang bertaubat adalah yang menyesali perbuatannya, menjauhi pendengaran yang tidak bermanfaat, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

Alhabib Umar taklukan singa afrika




Dikutip dari tulisan KH. Mukhlas Noer (Ketua Ponpes Lirboyo Kediri).
Kisah ini juga pernah disinggung oleh almarhum al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa.


Suatu saat al-Habib Umar bin Hafidz ingin melakukan perjalanan dakwah ke pedalaman Afrika.Ketika itu beliau ditemani oleh seorang muallaf bernama Khomis.Khomis adalah salah satu diantara orang-orang yang masuk Islam melalui perantara tangan al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad dan sering membantu kegiatan dakwah beliau selama di daerahnya.

Pedalaman Afrika yang ingin dikunjungi oleh al-Habib Umar harus melewati hutan belantara, yang mana hutan belantara Afrika terkenal akan hewan buasnya.Tapi dengan mantap Habib Umar bin Hafidz memberikan isyarat untuk segera berangkat.

Dimulailah perjalanan dakwah beliau. Sebelum masuk ke dalam hutan, beliau beserta rombongan dihentikan oleh beberapa orang polisi yang sedang berjaga di sebuah pos dekat dengan hutan yang ingin dilalui oleh al-Habib Umar.

Mereka hendak memperingatan agar al-Habib Umar tidak memasuki hutan karena hari sudah malam. Ditakutkan beliau dan rombongan akan diserangoleh beberapa hewan buas yang keluar untuk mencari mangsa di saat malam tiba.

Al-Habib Umar pun keluar dari mobil yang ditumpanginya dan berdiri di samping mobil tersebut.Serta merta al-Habib Umar memerintahkan seseorang untuk menggelar tikar di dekat mobil dan memerintahkan rombongan untuk membaca Maulid al-Habsyi (Simthud Durar).

Pembacaan maulid pun dimulai. Karena para polisi yangberjaga di pos itu beragama Kristen, mereka pun hanya bisa menonton dari kejauhan.

Setelah pembacaan maulid selesai, al-Habib Umar mendapat isyarat untuk melanjutkan perjalan malam itu juga. Para polisi itu tetap berusaha untuk mencegahnya,
tapi al-Habib Umar bersikeras ingin melanjutkan perjalanannya.Para polisi pun kalah argumen dan berinisiatif untuk mengikuti al-Habib Umar dari belakangmenggunakan mobil lain, takut kalau tejadi apa-apa dengan al-Habib Umar dan rombongan.


Di tengah perjalanan hal yang dikhawatirkanpun terjadi. Di depan mobil yang ditumpangi oleh al-Habib Umar, muncul seekor singa.Ketika itu al-Habib Umar duduk di kursi depan. Mulailah singa itu mengitari mobil tersebut.

Walaupun demikian sang Habib tetap tenang, berbeda dengan rombongan lain yang mulai menunjukkan rasa ketakutannya.Tak lama kemudian singa itu berhenti di depan jendela sebelah tempat duduk al-Habib Umar, lalu menaikkan kaki depannya ke atas jendela.Al-Habib Umar pun tetap tenang tanpa menunjukkan rasa ketakutan sedikitpun.

Lalu beliau berkata kepada supir: “Turunkan jendela ini!”Supir pun menjawab dengan ketakutan: “Ya Habib, ini singa!”Tapi al-Habib Umar tetap ingin agar dia menurunkan jendela tersebut.Kaca jendela pun diturunkan.Suatu kejadian menakjubkan pun terjadi, al-Habib Umar mengajak bicara singa tersebut:

“Hai singa! Kami ini adalah utusan Rasulullah Saw.”Kemudian al-Habib Umar mengambil sebuah pisang dan memberikannya kepada singa itu.

Singa yang biasanya makan daging, kali ini mau memakan pisang yang diberikan al-Habib Umar.
Setelah memakan pisang itu, singa mengangguk-anggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan al-Habib Umar dan rombongan.Perjalanan pun kembali dilanjutkan. Tak lama kemudianal-Habib Umar dan rombongan sampai ke tempat tujuan.

Setelah menyaksikan kejadian yang luar biasa itu, para polisi yang sebelumnya beragama Kristen itupun ingin mengikrarkan diri mereka untuk masuk agama Islam.
Ternyata kejadian yang mereka saksikan menjadi sebab hidayah Allah Swt. yang ingin mengembalikan mereka ke dalam pelukan Islam.

Subhanallah..

Dalil Mencintai dan Membela HABAIB (KETURUNAN RASULULLAH SAW)


Sering kita jumpai akhir-akhir ini kelompok Salafi yang kian gencar menghujat Habaib, keturunan Rasulullah Saw, khususnya Ustadz Yazid Jawaz (Salah satu bukunya yang berjudul “Mulia Dengan Manhaj Salaf” telah dibantah oleh Habib Muhammad Rizieq bin Husein bin Muhammad Shihab, Lc).

 Sangat perlu bagi saya menyampaikan dalil-dalil masalah ini, sebab saya yang sangat bersyukur dengan langkah para Habaib yang membimbing umat, seperti Habib Taufiq Assegaf, Habib Mundzir al-Musawa, Habib Syech dan habib-habib lainnya, namun beliau-beliau difitnah, dituduh hal-hal yang tidak baik dan seterusnya.

 Dalam hadis sahih Rasulullah berkhutbah yang isinya diantaranya berpesan untuk berpegang teguh terhadap keluarga Nabi Saw yang tidak lain adalah keturunan beliau:

 « يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا كِتَابَ اللَّهِ وَعِتْرَتِى أَهْلَ بَيْتِى » (رواه الترمذى وحسنه) “

Wahai manusia, sungguh aku tinggalkan untuk kalian ‘sesuatu’ yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan tersesat, yaitu al-Quran dan keluargaku” (HR Turmudzi, ia menilainya hasan)

Bahkan ulama Wahabi menilainya sahih!

قَالَ الشَّيْخُ اْلأَلْبَانِي : صَحِيْحٌ (سنن الترمذي – ج 5 / ص

662) “Syaikh Albani berkata: Sahih!” (Sunan at-Turmudzi 5/662) Al-Mubarakfuri menjelaskan maksud hadis tersebut:

 قَالَ الْقَارِي وَالْمُرَادُ بِالْأَخْذِ بِهِمْ التَّمَسُّكُ بِمَحَبَّتِهِمْ وَمُحَافَظَةُ حُرْمَتِهِمْ وَالْعَمَلُ بِرِوَايَتِهِمْ وَالِاعْتِمَادُ عَلَى مَقَالَتِهِمْ (تحفة الأحوذي – ج 9 / ص 203) “al-Qari berkata: Yang dimaksud berpegang kepada mereka adalah mencintai mereka, menjaga kehormatannya, mengamalkan riwayatnya dan berpegang pada perkataannya” (Tuhfat al-Ahwadzi Syarah Sunan Turmudzi 9/203)

Tidak hanya berpegang terhadap para keturunan Rasulullah, namun juga perintah mencintai keluarga Nabi Saw:

 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِى بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِى لِحُبِّى ». (رواه الترمذى)

 “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw bersabda: Cintailah Allah karena Allah telah memberi nikmat kepada kalian. Cintailah Aku karena cinta kepada Allah dan Cintailah keluargaku karena cinta kepadaku”

Terkait derajat hadis ini, Syaikh al-Munawi berkata:

 (رَوَاهُ التُّرْمُذِى) فِي الْمَنَاقِبِ (وَالْحَاكِمُ) فِي فَضَائِلِ أَهْلِ الْبَيْتِ (عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ) وَصَحَّحَاهُ وَأَقَرَّهُ الذَّهَبِي فِي التَّلْخِيْصِ وَقَوْلُ ابْنِ الْجَوْزِي هُوَ غَيْرُ صَحِيْحٍ وَهَمُوْهُ فِيْهِ نَعَمْ فِيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ سُلَيْمَانَ النَّوْفَلِي قَالَ فِي الْمِيْزَانِ فِيْهِ جَهَالَةٌ مَّا ثُمَّ أَوْرَدَ لَهُ هَذَا الْحَدِيْثَ وَلَمْ يَرْمُزِ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ لَهُ بِشَئْ.ٍ (فيض القدير – ج 1 / ص 231)

 “HR Turmudzi dalam Bab al-Manaqib dan al-Hakim dalam Bab Fadlail Ahli Bait dari Ibnu Abbas, keduanya menilai sahih dan disetujui oleh adz-Dzahabi dalam Talkhis. Sedangkan perkataan Ibnu al-Jauzi ‘hadis ini tidak sahih’adalah sangkaan mereka saja dalam hadis ini. Namun di dalamnya terdapat perawi Abdullah bin Sulaiman an-Naufali, yang dikomentari oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Mizan al-I’tidal: ‘Ia majhul’, lalu Ibnu Hajar menampilkan hadis ini. Dan Mushannif (al-Hafidz as-Suyuthi) tidak mengisyaratkan sedikitpun terhadap hadis ini” (Faidl al-Qadir 1/231).


 Ahlul Bait Mendapat Do’a Rasulullah SAW

 قَالَتْ عَائِشَةُ خَرَجَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ فَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِىٍّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ جَاءَ الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ مَعَهُ ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا ثُمَّ جَاءَ عَلِىٌّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ قَالَ (إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا) – (رواه مسلم)

 “Aisyah berkata: Suatu pagi Rasulullah Saw keluar dengan membawa selimut yang berukir terbuat dari bulu hitam, lalu Hasan bin Ali datang, kemudian Rasulullah memasukkan ke dalamnya. Lalu Husain bin Ali datang, kemudian Rasulullah memasukkan ke dalamnya. Lalu Fatimah datang, kemudian Rasulullah memasukkan ke dalamnya. Lalu Ali datang, kemudian Rasulullah memasukkan ke dalamnya.

 Rasulullah kemudian membaca ayat:
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (al-Ahzab: 33)” (HR Muslim).

Dalam hadis sahih lain:

عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِى سَلَمَةَ رَبِيبِ النَّبِىِّ –صلى الله عليه وسلم- قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ عَلَى النَّبِىِّ –صلى الله عليه وسلم- (إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا) فِى بَيْتِ أُمِّ سَلَمَةَ فَدَعَا فَاطِمَةَ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا فَجَلَّلَهُمْ بِكِسَاءٍ وَعَلِىٌّ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَجَلَّلَهُمْ بِكِسَاءٍ ثُمَّ قَالَ « اللَّهُمَّ هَؤُلاَءِ أَهْلُ بَيْتِى فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا » (رواه الترمذى)

“Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah, anak istri Nabi Saw, ia berkata: Ketika ayat ini turun: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (al-Ahzab: 33)”
 di rumah Ummi Salamah, maka Rasulullah memanggil Fatimah, Hasan dan Husain, kemudian menutupi mereka dengan selimut, Ali di belakangnya lalu ditutupi dengan selimut, Nabi berdoa: “Ya Allah, mereka inilah Ahli Bait-ku.
 Hilangkan dosa dari mereka, dan bersihkanlah mereka dengan sebersih-bersihnya” (HR at-Turmudzi).

 Dari hadis ini dapat diketahui bahwa:
(1) Ahlu Bait adalah keturunan Sayidah Fatimah, baik dari keturunan Sayidina Hasan maupun Sayidina Husain (ket. Kitab Bughyah).
 (2) Keturunan Rasulullah Saw memiliki keistimewaan yang telah didoakan oleh Nabi Muhammad Saw. Sementara orang-orang yang anti Habaib, justru tidak jelas keturunannya, lalu mengapa mereka masih sering menghujat para dzurriyah Rasulullah Saw?


sumber:https://www.facebook.com/groups/abdkadir72/permalink/1031357370212714/

Bentuk Kegembiraan Atas Anugrah Terbesar Allah SWT (bag. 1)

roudoh Rosulullah SAW

Bentuk ungkapan atas kegembiraan dapat dilakukan dalam bentuk apapun. Hal tersebut diperbolehkan selama tidak menyimpang dari ketentuan agama Allah.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim : Ketika Nabi hijrah ke kota Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi yang sedang berpuasa di hari Asyuro. Rasulullah pun bertanya-tanya atas keadaan tersebut. Maka kaum Yahudi menjawab bahwa hari Asyuro adalah hari dimana Allah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya (Bani Israil), sehingga mereka berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur kami atas anugerah tersebut. Lantas Nabi mengatakan bahwa kaum musliminlah yang lebih berhak atas hal tersebut. Karena pada hakikatnya orang-orang Yahudi tidak beriman kepada Nabi Musa Alaihisalam, bahkan mereka menentang Allah SWT. Karena itulah Nabi memerintahkan kepada sahabatnya untuk berpuasa Asyuro sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah (atas keselamatan Nabi Musa dan kaumnya).


Dalam hal ini bentuk kegembiraan ini dilakukan dengan cara berpuasa.

Jadi, kegembiraan atas anugerah dianjurkan oleh Allah dan juga oleh Rasulullah SAW. Dalam Shahih Bukhari dalam bab Nikah ada kutipan tentang kisah Abu Lahab, bahwasanya Sayidina Abbas bin Abi Muthalib memimpikan Abu Lahab dibakar di neraka oleh Allah, hanya saja pada hari Senin Abu Lahab mendapatkan keringanan atas hukuman tersbut dikarenakan pembebasan budak (Tsuwibatul aslamia) yang dilakukan oleh Abu Lahab saat diberikannya kabar gembira atas.

Dalam kisah ini tergambar bahwa bentuk kegembiraan dengan membebaskan budak.

Selain itu ada pula cara lain untuk mengungkapkan kegembiraan lainnya, yakni dengan menyenandungkan puji-pujian atas Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut dilakukan oleh para sahabat Rasulullah. Dan Rasulullah pun tidak menentang hal tersebut, bahkan mereka direstui bahkan sampai diberikan hadiah oleh Rasulullah SAW. Tak terhitung syair-syair indah yang dilantunkan para sahabat untuk Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa para sahabat sering kali mereka duduk satu sama lain menyebut-nyebut tentang karunia Allah yang diberikan kepada mereka berupa kehadiran Nabi Muhammad SAW.

Abu Hurairah meriwayatkan di saat Nabi mengambil potongan daging dan kemudian beliau menggigit dan beliau memakannya. Bagian daging yang Nabi suka adalah bagian katif. Rasulullah meletakan makanannya dan berkata, “Saya adalah pemimpin anak Adam dan semua anak keturunannya berada di bawah benderaku di hari kiamat.”

Rasulullah berkisah kepada para sahabatnya sebagaimana yang diriwayatkan dalam Haditsus Syafa’ah bahwa di hari kiamat, Allah akan mengumpulkan seluruh manusia di padang Mahsyar. Dimana keadaan mereka terkumpul denganbertumpuk-tumpuk, dan posisi matahari didekatkan sejarak 1 mil (entah hitungan 1 mil adalah 1 km atau sukuran ujung sipat mata). Sehingga orang-orang datang kepada Nabi Adam untuk meminta syafa’at. Mereka berkata“Engkau dapat melihat keadaan berat kita saat ini. Mintakanlah syafa’at kepada Allah.” Maka Nabi Adam menjawab, “Sesungguhnya hari ini Allah murka kepada hambanya, kemurkaan yang belum pernah dan tidak akan pernah terjadi seperti itu. Aku tidak dapat menolong kecuali menolong diriku sendiri. Aku telah melakukan kesalahan, aku telah memakan bagian dari pohon yang terlarang. Aku tidak bisa menyelamatkan selain diriku sendiri. Pergilah kalian kepada orang lain. Jikapun kalian mencari syafa’at maka datanglah kepada Nabi Nuh Alaihisalam.” Kemudian mereka pergi ke Nabi Nuh untuk meminta syafa’at, namun Nabi Nuh pun berkata hal yang sama seperti apa yang dikatakan oleh Nabi Adam. Mereka diperintahkan untuk datang kepada Nabi Ibrahim Alaihisalam, dan mereka mendapatkan jawaban yang serupa. Mereka terus mendatangi nabi-nabi berikutnya hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak menjawab seperti apa yang dikatakan nabi-nabi yang sebelumnya telah mereka datangi. Beliau bersujud kepada Allah di tahta Arsy, memuji Allah dengan puji-pujian yang luar biasa. Allah pun meminta Rasulullah untuk mengangkat kepalanya, Allah mengizinkan Rasulullah untuk memberikan syafa’at dan syafa’at itu diterima oleh Allah, serta Allah akanmengabulkan segala permintaan Rasulullah SAW. Maka karena itu Rasulullah memberikan syafa’atnya yang teragung untuk seluruh manusia. Dan itulah yang dinamakan dengan Al-Maqam Al-Mahmud.


Dikutip dari tausyiah Habib Ahmad bin Nouvel Jindan saat Dauroh dengan tema “Maulid Antara Bid’ah Atau Sunnah”

Resep Agar Bisa Khusyu



Seorang bertanya pada Sayyidil Habib Umar bin Hafidz, "Bagaimana agar kita bisa khusyu'?"

Sayyidil Habib Umar bin Hafidz menjawab: " Seseorang di katakan khusyu' jika memenuhi 6 kriteria, yaitu:

1. (Hudurul Qolb) Hadirnya hati
2. (Tafahhumul Ma'ani) Memahami arti atas apa yang kita katakan dan kita sedang lakukan
3. (Al ijlal watta'dzhim ) Adanya rasa mengagungkan dan memulyakan kepada Allah SWT. Terkadang kita hadir hati, mengetahui arti, tapi tanpa pengagungan hal ini seperti seseorang yang memahami perkataan anak kecil yaitu tidak terlalu menghiraukannya
4. (Al ijlal watta'dzhim ma'al Haibah) Hendaknya rasa memulyakan dan pengagungan tadi di iringi dengan rasa haibah (kewibawaan).
Haibah: Rasa takut yang timbul karena rasa mengagungkan. Takut sholat kita tidak di terima oleh Allah
5. ar-Roja': Kuatnya harapan bahwa sholat kita di terima oleh Allah juga menjadi sebab dekatnya kita pada allah serta mengharapkan mendapat balasan yang agung
6. Haya': Adanya rasa malu bahwasannya kita tidak menunaikan hak Allah dengan semestinya.

Kemudian Habib Umar mengatakan, "Jika enam kriteria ini jika terdapat padamu maka sholatmu bisa di katakan sholat yang khusyu'."

Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada kita sehingga bisa mengamalkan resep yang ada di atas ini.

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita orang-orang yang khusyu' dalam sholat..aamiin


Sumber: https://www.facebook.com/pages/Fans-habib-munzir-almusawa-dan-habib-umar-al-hafidh/137757979611909

Gugur satu tumbuh seribu

.Assalamu`alaikum.wr.wb.
bismillaahirrahmaanir rahiim...aku teringat mimpiku beberapa minggu yg lalu, aku berdiri dg pakaian lusuh bagai kuli yg bekerja sepanjang hari, dihadapanku Rasulullah saw berdiri di pintu kemah besar dan megah, seraya bersabda :
“semua orang tak tega melihat kau
kelelahan wahai munzir, aku lebih tak tega lagi…, kembalilah padaku,masuklah kedalam kemahku dan istirahatlah…Ku jenguk dalam kemah mewah itu ada guru mulia, seraya berkata :kalau akubisa keluar dan masuk kesini kapan saja, tapi engkau wahai munzir jika masuk kemah ini kau tak akan kembali ke dunia..Maka Rasul saw terus mengajakku masuk,“masuklah.. kau sudah kelelahan..,kau tak punya rumah di dunia(memang saya hingga saat ini masih belum punya rumah) , tak ada rumah untukmu didunia,karena rumahmu adalah disini bersamaku.., serumah denganku..,seatap dengan ku…, makan dan minum bersamaku .. masuklah,,,Lalu aku berkata : lalu bagaimana dg Fatah Jakarta? (Fatah tegaknya panji kedamaian Rasul saw), maka beberapa orang menjawab dibelakangku : wafatmu akan membangkitkan ribuan hati utk meneruskan cita citamu,..!!,masuklah,,,!Lalu malaikat Izrail as menggenggamku dari belakang, ia memegang dua pundakku, terasa seluruh uratku sudah digenggamannya,seraya berkata : mari… kuantar kau masuk.. mari…Maka kutepis tangannnya, dan aku berkata, saya masih mau membantu guru mulia saya…, maka Rasul saw memerintahkan Izrail as untuk
melepaskanku..Aku terbangun…Semalam ketika aku rebah dalam kegelapan kulihat dua tamu bertubuh cahaya,namun wajahnya tidak bertentuk kecuali hanya cahaya, ia memperkenalkanbahwa ia adalah
Izrail as..Kukatakan padanya : belum…belum.. aku masih ingin bakti pada guru muliaku.. pergilah dulu, maka ia pun menghilang raib begitu saja.Tahun 1993 aku bermimpi berlutut dikaki Rasul saw, menangis rindu tak kuat untuk ingin jumpa, maka Sang Nabi saw menepuk  pundakku… tenang dan sabarlah..sebelum usiamu mencapaii 40 tahun kau sudah kumpul bersamaku”Usia saya kini 37 tahun
pada 23 feb 73, dan usia saya 38 tahun pada 19 muharram ini.Peradangan otak ini adalah penyakit terakhirku, aku senang wafat dg penyakit ini, karena Rasul saw beberapa bulan sebelum
wafatnya terus mengeluhkan sakit kepala..Salam rinduku untuk kalian semua jamaah Majelis Rasulullah saw kelak, jika terjadi sesuatu padaku maka teruskan perjuanganku.. ampuni kesalahanku.., kita akan jumpa kelak dengan  perjumpaan yg abadi..Amiin..Kalau usiaku ditakdirkan lebih maka kita terus berjuang semampunya, tapi mohon jangan siksa hari hariku.. hanya itu yg kuminta..
ya Allah ampunilah dosa2 beliau tenangkanlah beliau berikanlah beliau kesejukan di
dalam makamnya jadikanlah beliau salah satu penghuni syurga bersama datuk2 beliau hingga kepada Al
Musthofa Muhammad Saw di bawah kibaran bendera LIWA ULHAMDI..
Aamin ya Rabbal Alamin.




sumber ; https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1418731538416754&set=gm.997800070235111&type=1

DAHSYATnya doa seorang ibu

Di Hadromawt Setiap orang yang datang menghadap
Habib Salim atau Habaib sepuh yang
alim di tarim untuk minta di doakan
selalu mendapat pertanyaan yang
sama:
apakahkamu masih memiliki
permata (Ibu) di rumahmu?' jika jawabannya ia maka mereka dengan halus
akan mengatakan, (('tahukah kamu,
bahwa doa ibu untukmu, lebih mulia
dan makbul daripada doa seorang
wali besar sekalipun?' ketika habib Umar Bin Hafidz dan
abangnya Habib Ali Masyhur masih
bayi dan sering menangis, ibunda
mereka Hubabah Zahra, akan memeluk
dan membelai anak anaknya sambil
mengusap kepala mereka, kepada
habib Ali masyhur beliau sering
berbisik, ((mufti, mufti)), dan sekarang
Habib Ali masyhur telah menjadi mufti
yaman,

kepada habib umar sang ibu selalu
berdoa ((da'i, da'i,)) dan hari ini Habib
Umar telah menjelma menjadi Da'i islam terkenal di zaman
ini.. سُبْحَانَ اللَّهِ
(Buat calon ibu dan sudah menjadi ibu dari anak2nya berkatalah yg baik kpd anak2nya perkataanmu kpd anak adalah doa)

PESAN INDAH


"Hal yang membuatku malu pada diri sendiri"
Pernahkah kamu berpikir andai kita perlakukan Qur'an 📗 seperti halnya hape kita saat ini?
Lihat...

Bagaimana kalau kita selalu membawanya kemanapun kita pergi??? dalam tas & saku?
Bagaimana jika kita selalu melihatnya dan membacanya beberapa kali dalam sehari?
Betapa kita gugup dan terburu-buru balik pulang saat lupa membawanya?
Bagaimana jika kita mperlakukn Quran seolah kita tak bisa hidup tanpanya?
- dan memang benar, kita tak bisa hidup tanpanya!
Bagaimana jika kita berikan itu kepada anak2 kita sbgi hadiah?
Bagaimana jika kita selalu sempatkan untuk membacanya disaat bepergian?
Bagaimana jika kita buat dia sebagai prioritas?
Seperti contoh status berikut :

" Quran is my best friend"
Mungkin hanya 7% yg akan menyebarkan pesan ini...?
Jadilah salah satu dari mereka dan sebarkan kepada saudara2 muslim? lainnya.
Janganlah jadi bagian dari 93% yg enggan menyebarkan pesan ini...
Coba pikirkan tentang Hari Pembalasan, sekalipun sekali saja
Kita sadar betul kalau hampir setiap hari? selalu membuka dan bertukar pesan, email, twitter, fb dsb. dg teman2?

Kita share/forward guyonan & gosip
Tapi,Berapa kali kita buka Quran? dan membaca firman Allah
Jika kamu bersama teman2mu atau keluargamu, bagikan pesan ini kepada mereka!
Terbukti dalam Penelitian :

Mendengarkn Quran mngurangi menyebarnya sel kanker ditubuh manusia bahkan menghancurkannya
Memanjangkan sujud semakin menguatkan ingatan dan mencegah stroke
Setan pasti berkata:

"Aku heran bagaimana bisa manusia mengatakan mereka cinta Allah tapi mengabaikan perintahNya, dan mengklaim benci padaku? Tapi nyatanya mereka patuh pada rayuanku!"

Para Wali Allah Saling Mengenal di Alam Ruhani




Al Imam al Alim al Alamah al Arif Billah Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain Syeikh Muhammad al Maliki al Hasni al Husaini as Syadzili Mekah menyebutkan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin adalah Sulthonul Awliya fi hadza zaman bahkan beliaupun menyebutkan Qoddasallahu Sirrohu bukan Rodliyallohu ‘anhu seperti yang kebanyakan disebutkan oleh para ikhwan. Walaupun secara dhohir Syekh Muhammad Alawy Al-Maliki belum bertemu dengan pangersa Abah namun keduanya telah mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.
Mereka yang memperjalankan diri kepada Allah Azza wa Jalla akan saling mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.
Rasulullah adalah manusia yang paling utama, paling mulia, paling dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Beliau termasuk salah satu manusia yang telah kasyaf.
Kasyaf terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal ghaib.
Mereka yang kasyaf dapat mengetahui atau mengenal siapa-siapa yang melakukan “perjalanan” kepada Sang Kekasih , Allah Azza wa Jalla. Inilah yang dikiaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan perkataannya yang artinya “aku mendengar derap sandalmu di dalam surga”.
Bilal ra memperjalankan dirinya kepada Allah ta’ala dengan amal kebaikan berupa selalu menjaga wudhunya dan menjalankan sholat selain sholat yang telah diwajibkanNya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Bilal ketika shalat Shubuh: “Hai Bilal, katakanlah Kepadaku apakah amalanmu yang paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ‘ Bilal menjawab; ‘Ya Rasulullah, sungguh saya tidak mengerjakan amal perbuatan yang paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dengan sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat selain shalat yang telah diwajibkan Allah kepada saya.” (HR Muslim 4497)
Dalam suatu riwayat. ”Qoola A’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”
Apa yang dilakukan oleh Bilal ra, selalu menjaga wudhunya atau selalu menjaga dalam keadaan bersuci adalah termasuk dzikrullah atau amal kebaikan atau perbuatan yang dilakukan bukan atas diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla namun atas kesadaran diri. Ini adalah salah satu bentuk memperjalankan diri kepada Allah ta’ala atau mendekatkan diri kepada Allah untuk mendapatkan cintaNya atau ridhoNya
Dalam sebuah haditas Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan kebaikan (amalan sunnah), maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya. (HR Muslim 6021).
Dalam hadits qudsi, “Allah berfirman yang artinya: “Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya”
Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya.
Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab : “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”
As Sarraj at-Tusi mengatakan : “Jika ada yang menanyakan kepadamu perihal siapa sebenarnya wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang Allah dan hukum-hukum Allah, dan mengamalkan apa yang diajarkan Allah kepada mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-wali-Nya yang bertakwa.
Rasulullah shallallahu aliahi wasallam : Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi shallallahu aliahi wasallam menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)
Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu aliahi wasallam
“Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )
Tentang derajat/tingkatan para Wali Allah telah diuraikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/05/2011/09/28/maqom-wali-allah/
Para Wali Allah (kekasih Allah) adalah mereka yang telah mencapai muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) atau mereka yang telah berma’rifat.
Mereka yang menjalankan tasawuf dalam Islam adalah mereka yang memperjalankan dirinya kepada Allah atau mereka yang berupaya untuk mencapai muslim yang ihsan atau berma’rifat
Apakah Ihsan ?
قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim
Ada dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan
Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla
Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
Muslim yang merasa diawasi Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb atau muslim yang Ihsan maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, Sehingga terwujud dalam berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah diutus oleh Allah ta’ala
Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).
Jadi kalau ada yang mengaku-aku telah menjalankan tasawuf atau mengikuti tharikat atau mengaku-aku telah berma’rifat namun tidak menjalankan perkara syari’at seperti sholat lima waktu maka bisa dipastikan dia telah berdusta atau tharikat yang diikuti adalah thariqat palsu.
Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”
Pendapat syaikh Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits“.
Nasihat Imam Syafi’i ra,
“Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (perkara syariat) dan juga menjalani tasawuf (thariqat, hakikat dan ma’rifat) , dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (muslim yang ihsan) ? [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]
Nasehat Imam Malik ra
“Dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . Hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar”
Wassalam
(Oleh:  Zon Jonggol)


Putus asanya syaiton


Putus asanya syaiton terhadap umat Nabi Muhammad SAW            Suatu ketika di zaman Tuan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, dikala beliau sedang menuju ke masjid beliau melihat syaiton dalam keadaan muka yang pucat, badannya yang kurus dan pundaknya yang bengkok, lalu Tuan Syekh berkata kepada syaiton tersebut , hai syaiton kenapa muka engkau pucat ?, begini Tuan Syekh aku pucat dikala aku menunggu orangtua yang sedikit lagi mati dan aku menggodanya agar dia mati dalam su’ul khotimah, tetapi aku pucat dikala dia membacakan “Yaa Allah biha Yaa Allah biha Yaa Allah Bi khusnil khotimah” dan aku takut ia mati khusnul khotimah, karena itulah aku pucat.
        Lalu mengapa engkau kurus ?, begini Tuan Syekh aku bangga dan sehat tubuhku bila seorang anak cucu adam dan umat Muhammad dikala ia makan dan minum tidak membaca nama Tuhannya tetapi aku kurus bila ada diantara mereka yang kugoda tetapi setiap ia makan dan minum dia membaca “Bismillahirrahmanirrahiim” , sebab inilah aku menjadi kurus.
        Dan mengapa engkau bengkok?, begini Tuan Syekh aku adalah penggoda dan selalu menjadi penggoda, kuberatkan ia untuk shalat, puasa, dan menginggat Allah khususnya ku goda bagi mereka yang muda, kumasuki hawa nafsunya untuk tidak sujud kepada Tuhannya dan tidak mencintai kepada Nabinya, aku merasa terbebani bila ada seorang pemuda yang ku goda langkahnya  dan ku goda nafsunya untuk jauh dari ilmu tetapi ia melawannya dan bengkoklah aku dikala ia duduk dimajlis ilmu menyebut-nyebut nama Tuhannya dan menyebut-nyebut nama Muhammad, terbebani aku terbebani seakan aku membawa gunung di pundakku, tapi ingatlah wahai Tuan Syekh jika ia melanggar perintah Allah dan Muhammad Rasulnya ketahuilah bahwa aku adalah sahabat dekatnya dan tidak akan aku biarkan ia bersamamu, maka Tuan Syekh berkata “aku berlindung dari godaan syaiton yang terkutuk”,enyahlah engkau ! maka tertawalah ia (syaiton) lalu pergi
http://www.nurulmusthofa.org

Keutamaan Wukuf Dipadang Arofah

Diceritakan dari Al Imam Muhammad bin Al Munkadir ra, bahwasannya beliau
telah haji sebanyak 33 kali, maka beliau berkata tatkala berhaji untuk
yang terakhir kalinya "Ya Allah sesungguhnya kau telah mengetahui bahwa
aku telah berwukuf di Arofah ini sebanyak 33kali, yang pertama dari
menggugurkan kewajiban haji yang Kau wajibkan padaku, yang kedua aku
hadiahkan untuk ayahku, yang ketiga aku hadiahkan untuk ibuku,dan
saksikanlah wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menghadiahkan sisanya
sebanyak 30 untuk orang-orang yang telah berwukuf di Arofah ini tapi
tidak diterima oleh-Mu.."


Tatkala beliau meninggalkan Arofah menuju Muzdalifah, akhirnya beliau tertidur kelelahan lalu bermimpi ada suara yang menyeru-nyeru "Wahai Ibn
Al Munkadir, apakah kau mendermawakan dirimu atas Zat yang menciptakan
kedermawanan?Apakah kau berbuat baik atas Zat yang menciptakan
kebaikan?Sesungguhnya Allah SWT berkata kepadamu "Demi kemuliaan-Ku dan
keagungan-Ku sungguh Aku telah mengampuni bagi orang-orang yang telah
berwukuf di Arofah 2000 tahun sebelum Aku ciptakan Arofah tersebut!"



dicopi dr:http://www.nurulmusthofa.org

Translate

Instagram kami

Laman Facebook Kami

Galeri

DONASI

.